Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 36


__ADS_3

"Tidak perlu berbohong, Cecilia memang wanitaku."


 


Mataku membulat sempurna kala mendengar perkataan Hadden, aku benar-benar sulit mempercayai kata-kata yang meluncur dari mulut Hadden.


Aku lihat Peter mengerutkan alis dan terdiam. Sedangkan Jackson minum teh dengan segela kediaman yang tampak begitu tegas. Lama mengenal Jackson membuatku paham bahwa kini dia tengah menyembunyikan kekesalannya.


Dengan ragu, aku tetap berjalan ke sana dan terpaksa bekerja sama untuk akting dengan Hadden seperti pasangan, agar Peter tidak percaya dengan berita tentang aku adalah kekasih Jackson. Aku melakukan ini juga untuk melindungi diriku sendiri. Aku juga paham kalau Hadden juga ingin membantuku, tapi caranya benar-benar membuatku terjebak masalah dengan Jackson.


"Maaf, Tuan Peter. Maaf mengganggu Tuan dengan berita saya dan Tuan Jackson, sejujurnya, saya dan Tuan Jackson tidak ada hubungan spesial apa pun. Saya hanya menjalankan tugas sebagai Asisten pribadi yang harus bekerja bukan hanya untuk urusan pekerjaan, tapi juga untuk urusan pribadi Tuan Jackson. Sebenarnya, saya pergi ke kuil bukan hanya bersama Tuan Jackson, tapi juga dengan kekasih saya, Hadden. Tapi, karena Hadden ada urusan penting, dia terpaksa harus pergi lebih dulu. Dan saya bersama dengan Tuan Jackson tetap berada di kuil untuk menemui salah satu client di sana," Jelasku panjang kali lebar.


"Benar sekali apa yang kekasihku jelaskan. Aku terpaksa pergi lebih dulu karena ada urusan penting," balas Hadden sambil meraih lengan kiriku.


"Kamu memakai cincin pemberianku, sayang. Sangat pas di jari manismu," sambung Hadden lalu mencium lembut punggung tanganku.


Aku tersenyum manis walau hanya senyuman paksa yang kubuat semanis mungkin.


Hadden juga bagian dari keluarga Liandra dan keluarga Liandra punya hak untuk menentukan pilihan Hadden itu wanita dengan latar belakang apa.

__ADS_1


"Dalam keluarga Liandra, tidak pernah ada orang sembarang," ucap Peter.


"Dia istimewa, tidak ada seorang pun yang pantas dibandingkan dengannya," jawab Hadden menetang Peter. Tak cukup melihat kekesalan di wajah Peter, Hadden dengan santainnya meraih tubuhku hingga aku dia dudukkan di atas pangkuannya. Jemari kekarnya perlahan menyingkirkan anak rambutku yang sedikit berantakan.


Situasi semakin menegang membuatku hanya terdiam dan tidak bereaksi.


Peter merasa hal ini sangat menjelekkan reputasi keluarga Liandra. Kemarahan yang begitu membuncah tergambar jelas di wajah keriputnya. Aku mengepalkan tangan dalam diam.


"Tenangkan dirimu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Bisik Hadden memberi isyarat.


Setelah argumen, suasana ruangan jadi hening, raut wajah Hadden datar dan berkata, “Aku berani mengakui pilihanku dan keluarga Liandra tidak perlu menanggung resiko apa pun.” Peter terlihat muram, dalam situasi yang canggung ini, Jackson tiba-tiba tertawa, “Rupanya Hadden punya hubungan ini dengan Asistenku.” 


"Cecilia, kapan kamu mulai berhubungan dengan Hadden?" Tanya Jackson membuatku terpaku. Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan yang tiba-tiba melintas dalam benakku.


Kulihat ekspresi Hadden terlihat sinis dan marah, “Jackson, kamu terlalu ikut campur.”


Jackson tampak menahan amarahnya dan keluar, Jackson mengabaikanku dan tidak melihatku sama sekali.


Beberapa saat kemudian Jackson masuk kembali ke ruangan dan berkata kalau Zea akan kemari.

__ADS_1


Sesaat kemudian, pintu ruangan dibuka, Zea masuk dan memeluk Jackson. Aku langsung melepaskan diri dari pangkuan Hadden.


"Ayah, apa kabar?" Tanya Zea setelah melepaskan diri dari pelukan Jackson.


"Baik," jawab Peter singkat.


"Paman, Paman juga ada sini dan Nona Cecilia juga," sapa Zea bergantian menatap Hadden dan Cecilia.


"Iya. Aku dan Cecil adalah pasangan. Cecilia adalah wanitaku," jawab Hadden membuat Zea tercengang.


"Apa!" Teriak Zea emosi tanpa sadar. Dia berjalan ke arahku lalu mengenggam tanganku dengan kencang. “Cecilia?”


“Cecilia, sebenarnya kamu sedang apa?” Zea tidak percaya kalau aku ini adalah pacar Hadden.


Zea terkejut dan juga merasa sangat konyol, “Paman, apa yang paman pikirkan? Jelas-jelas paman tahu kalau dia—” Ucapan Zea terhenti, tenggorokannya tercekat.


Zea baru sadar kala mendapat kode dari Hadden yang memperingatinya agar jangan meneruskan ucapannya. Zea menarik nafas dalam untuk menenangkan diri sesaat dan kemudian bekerja sama dengan Hadden.


"Apa yang kamu lakukan, Zea?" Tanya Peter heran.

__ADS_1


Jackson tersenyum pelan dan menikmati keadaan yang kacau ini.


__ADS_2