Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 68


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi," sautku.


"Aku akan tetap bersamamu. Tapi, berjanjilah untuk tidak menyakitiku lagi, apalagi menyakiti anakku kelak," ujarnya serius.


"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, asal kamu menjadi lebih penurut," jawabku tegas.


"Aku berjanji akan menjadi penurut," ujarnya membuatku merasa was-was. Entah apalagi yang dia rencanakan.


"Kalau begitu, masuklah bersamaku. Aku tidak suka wanita dengan kulit gelap," ujarku sengaja menggodanya.


"Kulitku sedikit gelap. Lalu, kenapa kamu menyukaiku?" Tanyanya dengan menebarkan sedikit cahaya di wajah sedihnya.


"Kamu pengecualian. Sekarang ayo kembali," ajakku.


"Gendong," pintanya merentangkan kedua tangan, terlihat sangat imut di mataku. Tanpa menunggu lama, aku langsung menggendongnya ala bridal masuk ke dalam Mansion menuju ruang makan.


Tiba di ruang makan, aku mendudukkan Cecilia di atas kursi. "Mau makan apa?" Tanyaku masih berdiri.


"Es krim," jawabnya cepat.

__ADS_1


"Es krim di pagi hari tidak baik. Yang lain?"


"Es krim, aku tidak mau makan yang lain. Kalau tidak es krim lebih baik aku kelaparan saja," jawabnya keukeuh.


"Apa ini salah satu rencanamu?" Aku bertanya curiga. Karena informasi yang kudapat dari pembantu adalah dia yang selalu makan es krim dengan porsi besar.


"Ya, aku ingin mati karena makan es krim. Puas!" Ketusnya.


"Katakan kepada Chef untuk membuatkan es krim yang sehat dan baik untuk Ibu hamil," titahku kepada pembantu.


"Baik, Tuan."


"Katakan saja begitu pada mereka!" Bentakku membuatnya langsung pergi ketakutan.


"Mana ada es krim tapi tidak pakai es," keluhnya.


"Apa gunanya aku membayar mahal mereka kalau tidak bisa sedikit kreatif membuat inovasi."


"Aku tidak jadi makan kalau begitu," aku menahannya sambil berkata, "kalau kamu tidak ingin makan, maka aku yang akan memakanmu," ancamku.

__ADS_1


"Aku hamil!"


"Aku tidak peduli," ancamanku sukses membuatnya takut dan tidak jadi beranjak dari posisinya.


Tak lama kemudian, seorang pembantu membawa omelette yang biasanya selalu tersedia setiap pagi sebagai sarapanku. Dua porsi omelette diletakkan di hadapanku dan juga Cecilia. Dia tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Aku juga tidak terlalu peduli, aku makan lebih dulu. Melihatku yang makan begitu lahap, pada akhirnya dia juga ikut melahap omelette yang ada di hadapannya. Aku tersenyum samar melihat tingkahnya.


"Aku kenyang sekali, kenapa makan saja terasa begitu melelahkan seperti ini," keluhnya.


"Itu karena kamu sedang hamil, jadi gampang lelah," jawabku yang juga telah selesai makan.


"Aku tidak lagi menginginkan es krim, aku ingin tidur saja."


"Mereka sudah membuatnya," cegatku.


"Kamu saja yang makan, aku ingin tidur lagi," aku menggeleng melihat kelakuannya. Untung aku sudah membaca beberapa artikel tentang wanita hamil. Jadi, aku bisa mengerti tentang moodnya yang terkadang berubah-ubah.


Tiba di kamar, dia benar-benar merebahkan tubuhnya di atas kasur dan terlelap saat itu juga. Apakah aku terlalu mencurigainya? Apa pun yang dia lakukan, aku selalu berpikir kalau dia sedang menyusun rencana untuk pergi dariku.


Meninggalnya yang melanjutkan tidur, aku menuju ruang kerja dan mulai menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Tak lupa aku juga memantau pergerakannya di layar komputer yang terhubung dengan cctv tersembunyi yang aku pasang di kamar.

__ADS_1


Tidak ada hal aneh yang terjadi, dia masih tertidur dengan pulas bahkan hingga aku menyelesaikan pekerjaan.


__ADS_2