
"Jackson maaf," ujar Nata pelan ketika keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru.
"Sudah, tidak apa-apa. Sekarang lanjutkan istirahatlahmu," Jackson tak menatap Nata, dia tetap fokus pada layar laptopnya. Hal itu membuat Nata salah paham, Nata mengira bahwa Jackson marah kepadanya. Sedangkan yang sebenarnya terjadi adalah Jackson tidak ingin membuat nafsunya kembali membuncah kala menatap Nata yang begitu menggoda imannya.
"Biasanya tidak pernah begini. Harusnya seminggu lagi, aku tidak tau kenapa jadi secepat ini. Jadi, aku benar-benar minta maaf Jackson," Nata tetap berdiri di tempat semula karena merasa bersalah pada Jackson.
"Sudah aku katakan, tidak apa-apa. Sekarang istirahatlah," ketus Jackson dengan keringat dingin kala dipikirkannya hanya ada Nata yang begitu seksi.
"Sial, kenapa aku aku begini? Sejak kapan aku manjadi mesum begini?" Rutuk Jackson dalam hati.
Sedangkan Nata terdiam, menundukkan wajahnya dalam. Dia merasa Jackson sangat marah kepada dirinya. Tapi, itu memang salahnya. Seharusnya dia tidak melakukan kesalahan saat menghitung hari.
Nata merasa tidak enak hati, dia mengira Jackson sangat mengidam-idamkan seorang keturunan. Tapi, dirinya malah menggagalkan segala rencana hanya karena kecerobohannya.
__ADS_1
"Apakah aku harus melakukan sesuatu agar dia mau memaafkanku?" Tanya Nata dalam hati.
"Seperti janjiku, aku harus melayaninya kapan pun yang dia inginkan. Aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak lagi kesal padaku. Aku pasti bisa. Ya, aku harus bisa. Menggoda pria adalah keahlian seorang Cecilia. Aku akan menjadi Cecilia untuk hari ini," tegas Nata meyakinkan dirinya untuk yakin. Lagipula, dia adalah Istrinya. Sudah kewajibannya untuk memuaskan nafsu Suaminya.
Nata menghela napas, melangkah perlahan mendekat pada Jackson. "Ja-jackson," panggil Nata manja.
Jackson mengangkat wajahnya cepat kala tercengang dengan nada panggilan manja yang tidak asing baginya.
"Cecilia," gumam Jackson pelan sambil menelan saliva bersusah payah kala Nata sengaja membungkukkan tubuh di hadapannya. Hingga pemandangan indah membuatnya kembali merasa panas serta dingin di saat yang bersamaan.
"Nata, apa yang ingin kamu lakukan? Jangan membuatku kehilangan kendali," Jackson menyingkirkan laptopnya. Beringsut mundur untuk menyingkir dari Nata yang terus maju mendekat.
"Nata kamu jangan macam-macam! Kamu membuatnya kembali berdiri!" Tegas Jackson.
__ADS_1
"Bagus, aku bersedia membuatnya kembali tenang. Bukankah tadi Tuan sangat ingin aku menyentuhnya. Kali ini, aku akan berusaha untuk menyentuh, mengelus, bahkan menenangkannya," Tutur Nata manja membuat Jackson terheran.
Kini, Nata mulai berjongkok di hadapan Jackson yang masih duduk di sofa.
"Nata, kalau kamu begini karena terpaksa. Lebih baik jangan lakukan atau aku akan sangat marah, aahhh ...."
Nata menelan saliva berusaha menyingkirkan rasa gugupnya. "Ayolah, Nata. Kamu bisa, kamu menjadi Cecilia saat ini," batin Nata menyemangati dirinya yang kini telah mengelus senjata pusaka Jackson yang telah keras dan berdiri menantang.
Jackson yang awalnya menolak, kini memilih memejamkan mata menikmati permainan tangan Nata yang terus mengelusnya dengan perlahan.
Nata memajukan sedikit tubuhnya, tanpa aba-aba dia langsung menurunkan resleting celana Jackson.
"Nata ahh ...." d*sah Jackson ingin menghentikan Nata, namun urung kala Nata sudah mengeluarkan miliknya dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1
Nata kembali menghela napas, lalu mulai menaik-turunkan tangannya yang kini telah Menggenggam milik Jackson yang begitu perkasa.
"Ahh, Na-ta .......