
"Sesak, aku susuh bernapas, Tuan. Aku tidak mau memakai masker itu. Topi dan kaca mata ini juga sudah cukup."
"Menurutlah atau kita pulang sekarang!" Ancamku membuatnya langsung merebut masker di tanganku dan segera memasangnya dan langsung membuka pintu mobil untuk segera keluar.
"Ada apa, Sayang? Kenapa tidak jadi keluar?"
"Bukannya membantu malah meledekku, cepatlah tolong bantu aku bangun. Aku kesulitan bangun dengan perut begini," ucapnya kesal.
Aku keluar dari mobil, memutari mobil, lalu membantunya keluar dari mobil. Aku berjalan dengannya yang menggandengan lenganku. Dengan pakaian tertutup serba hitam, topi, kacamata hitam dan juga masker. Dengan tampilan begini, maka, tidak akan ada seorang pun yang dapat mengenali.
"Kenapa hsrus susah-susah datang ke sini untuk membelinya. Aku bahkan bisa menyuruh desainer datang ke Mansion."
"Itu beda lagi, Tuan Jackson. Memilihnya adalah hal yang menyenangkan. Tuan laki-laki mana mungkin mengerti bagaimana bahagianya shopping. Apa Tuan melupakan apa yang dr. Winardi katakan, bahagia itu sangat penting untuk pertumbuhan kandungan agar semakin sehat." Ocehnya.
"Baiklah, terserah kepadamu." Aku mengalah sebelum dia berbicara semakin banyak.
"Ke mana lagi sekarang?"
"SPA," jawabnya santai.
"Astaga! Ini yang sangat membosankan," Dari semua tempat yang dia kunjungi, spa adalah tempat yang sangat aku hindari. Bagaimana tidak, dia berada di sana akan sangat lama.
__ADS_1
"Kalau bosan menungguku, Tuan bisa pulang lebih dulu."
"Apa kemu sedang merencanakan sesuatu?" Aku mengerutkan alis.
"Dengan pengawal yang terus mengikutiku, ke mana aku akan pergi."
"Jangan menganggap aku bodoh. Mereka semua pria, tidak mungkin ikut masuk bersamamu."
"Yasudah, kalau begitu Tuan ikut saja," jawabnya.
Dan pada akhrinya aku masuk ke dalam gedung spa kecantikan mewah di sana. Aku sengaja menyewa satu gedung spa itu agar aman dan tidak terjadi hal yang tidak diharapkan.
Sorenya, barulah kami pulang. Cecilia sepertinya sangat kelelahan hingga terlelap sebelum tiba di rumah.
"Sia! Para pengawal lainnya ke mana?" Ujarku panik.
"Mereka mengirimkan sinyal darurat, Tuan. Sepertinya mereka tengah melawan beberapa musuh. Dan salah satu musuh yang lolos tengah mengejar kita saat ini," jelas supir.
"Tambah kecepatan!" Bentaku cepat.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Aku membaringkan Cecilia di kursi. Aku mengambil headset lalu aku pasangkan ke telinga Cecilia, menyetel lagu berharap dia tidak mendengar suara tembakkan yang siap aku layangkan ke mobil belakang.
DOR!
Aku melepaskan satu tembakkan. Namun, sayangnya meleset dan peluru menembus udara kosong. Sesekali aku melihat keadaan Cecilia, aku bisa bernapas lega dia masih terlelap dengan nyenyak-nya. Sedikit terombang-ambing karena mobil menghindari peluru dari musuh, malah membuatnya semakin nyenyak karena merasa diayun-ayunkan.
"Sial!" Umpatku saat mengetahui siapa yang mengendarai mobil yang kini semakin dekat.
Andreas, apa dia ingin mati ditanganku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya. Mengetahui bahwa Andreas ingin menyerang membuatku begitu murka. Aku berjanji akan membunuhnya dengan tanganku sendiri bila menangkapnya nanti. Peter saja bukan tandinganku, apalagi dia.
Aku memint Supir untuk kembali menambah kecepatan mobil hingga habis. Beruntung di jalan lurus yang memang agak sepi. Jadi, mobil bisa melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan tanpa adanya kendala.
Sialnya, Sepertinya Andreas benar-benar ingin mati, dia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Membuatku terpaksa harus membangunkan Cecilia karena keadaan semakin darurat.
"Cecilia, bangunlah," aku menepuk-nepuk pundaknya perlahan. Tak lama, mata indahnya mengerjab. Suara peluru yang datang dari musuh membuatnya kaget dan langsung memelukku erat.
"Tenangkan darimu, Cecilia. Kamu sedang hamil, jangan lupakan hal itu. Tenanglah, bukankah kamu juga pernah mengalami hal ini sebelumnya," aku mencoba menenangkannya.
"Aku tidak akan dalam bahaya bila kamu melepaskanku. Lihatlah, sekarang bukan hanya aku yang dalam bahaya, tapi juga calon bayiku!" Teriaknya menangis histeris, tapi tetap memelukku erat.
"Kita tidak akan dalam bahaya bila kamu tidak menginginkan untuk keluar dan memberikan kesempatan musuh untuk menyerang. Dan kamu juga harus ingat, bahwa kamu tidak akan terlibat bila tidak menjadi pelakor. Jadi, berhenti berkata begitu. Sekarang tenangkan dirimu, kalau begini aku tidak akan bisa melawan musuh. Kembali berbaring," aku berhasil membuatnya menurut, dia berbaring sambil menangis dengan memeluk perutnya erat.
__ADS_1
DOR!
"Aaakh!"