Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 17


__ADS_3

Jackson menatap pematik api di tanganku sambil duduk di tempat Hadden duduk tadi. Udara di sekitar masih meninggalkan aroma parfum Hadden.


Aku mengerti bahwa aku bisa bertingkah semauku dan menggoda sebisaku, tanpa perlu memikirkan yang lain.


Jackson tidak akan menghentikanku, aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Namun, di hadapan orang lain, aku mengerti mulai sekarang, aku sebaiknya menjaga sikap. Aku harus punya tata krama dan prinsip.


Inilah sikap pria terhadap wanita.


Sikap Jackson padaku hanya kurang selangkah saja, aku tidak boleh membiarkan Hadden merusak usaha demi penantian panjangku.


"Ingin minum teh? Atau cemilan malam?" Tanyaku ketika melihat Jackson membuka sebungkus rokok baru.


Jackson tetap tidak bicara, tanpa mempedulikanku, dia menyelakan rokok, lalu menghisapnya dalam kemudian menghembuskan asapnya kesembarang arah. Begitulah seterusnya tanpa melihatku dia terus saja sibuk dengan rokoknya.


Setelah sebatang rokok habis, dia akan kembali merokok dua batang, tiga batang ....


Terakhir, aku bertanya, "Mau nginap malam ini?"


Tanpa menjawab apa pun. Jackson segera berdiri dan berjalan ke pintu. Aku berjalan cepat mengejar ketertinggalan.


"Nginaplah, sudah larut malam begini. Kamu nyetir sendiri?" Tanyaku lembut, sambil mencegat tangannya agar tidak kembali melangkah.


Semakin lembut suaraku, ku lihat semakin buruk raut wajah Jackson. Dia bernapas tanpa tergerak oleh kata-kataku.


Dia membalikkan badanya, menatap ku dengan mata tajamnya yang seakan ingin menerkamku. Pria ini memang begitu menakutkan.


"Berapa banyak pria yang kamu suruh nginap? Gampang banget ya ngomongnya, kata mana yang tidak bohong?" Tanyanya langsung memelukku erat. Aku terkesiap karena cukup kaget dengan reaksinya kala aku mengatakan kalimat itu. Apa pria ini berpikir kalau aku adalah wanita murahan. Yang akan menahan setiap pria manapun yang berkunjung.


Dalam hatiku, aku sangat kesal akan ucapannya. Tapi aku berusaha menahan emosi demi kelancaran rencana. Walau sukar dilihat, tapi aku bisa sedikit merasakan bahwa Jackson mulai membuka hatinya untukku. Untuk itu, aku tidak boleh melakukan kesalahan yang akan menutup kembali pintu yang sedikit telah terbuka.

__ADS_1


Dengan tetap memeluk, Jackson membawaku sambil berbalik badan. Tulang panggul yang terasa panas menempel di pinggulku, dalam sekejap aku merasa ada yang berbeda.


"Cecilia Humeera, hebat ya kamu."


Ini pertama kalinya Jackson memberikan sedikit perasaannya.


Hanya ada Jackson seorang di bumi ini, semuanya ditutupi olehnya. Pria ini melahap semua cahayaku, hingga hanya dia yang dapat kulihat.


Jackson sengaja menjatuhkan aku keatas lantai beralaskan karpet, dia mengukung tubuhku dengan salah satu tangannya dia gunakan untuk menyanggah tubuhnya agar tidak menindihku. Tangan satunya dia gunakan untuk mengelus wajahku lembut, wajahnya dan wajahku hanya berjarak kurang dari 5 cm. Sangat dekat hingga aku merasa sulit bernapas.


"Sudah berapa banyak pria yang kau ajak menginap di rumahmu? Aku pria yang ke berapa? Katakan padaku," desaknya membuatku semakin sulit bernapas.


"Kenapa diam? Kenapa tidak menjawab? Benar juga, seorang pelakor, penggoda, perayu, dan sekarang naik tingkat menjadi pelac*r." Sambungnya membuat hatiku teriris perih. Sangat sakit ketika kata-kata larang itu terdengar langsung dari mulutnya.


Tapi bukan Cecelia Humeera namanya, kalau tidak bisa bertindak sesuai apa yang dikatakan orang lain untuknya. Semakin jelek orang mengatainya, semakin leluasa pula dia bertindak.


Tersenyum pelik lalu dengan sekali gerakan aku beralih mengukungnya. Kini aku yang berada diatas tubuh kekarnya. Aku tidak perlu menyokong tubuhku dengan tangan. Aku sengaja menindih tubuhnya, tubuhnya yang kekar tidak akan merasakan berat saat kutindih. Dengan penuh kelembutan yang menggoda, aku membelai wajahnya dengan kedua tanganku.


"Bibir Tuan Jackson lembut ya?" Tanyaku ketika melepaskan bibirnya.


"Keras." Jawabnya singkat. Aku menatap mata tajamnya dalam, lalu aku menggigit telinganya, Jackson merinding, otot di sekujur tubuh menegang, setiap inci ototnya sedang membengkak seperti kobaran api di dalam hutan lebat.


Melihatnya begitu, aku memanfaatkan kesempatan untuk menjelaskan kedatangan Hadden.


"Dia datang bukan untuk menemuiku, dia hanya mengantarkan anting-antingku yang tidak sengaja aku tinggalkan." Jelasku.


"Lagipula, walaupun sebelumnya aku membawa banyak pria kerumahku. Belum tentu aku mau mengajaknya menginap. Contohnya Hadden, barusan aku mengusirnya dengan cepat. Aku ini wanita penggoda yang pemilih, tidak semua pria menarik di mataku. Aku beritahu suatu rahasia. Hanya Tuan Jackson yang pertama kalinya kuajak menginap." Sambung ku lagi, menjelaskan dengan begitu detail sembari menggodanya. Elusan lembut jemariku diwajahnya mampu meredakan api yang tadinya membara. Menenangkan para pria yang sedang memuncak emosinya itu sudah keahlianku.


Dengan tetap tersenyum menggoda, aku memperlihatkan rekaman cctv padanya.

__ADS_1


"Kamu sudah salah sangka padaku, hukumannya 1 ciuman." Selesai berkata, aku menghisap bibir Jackson lembut. Selama 30 detik Jackson tidak bergerak sama sekali, dia juga tidak menghindar, melainkan membiarkanku ***** lembut bibir atas dan bawahnya yang terasa kenyal, hangat, serta sangat manis.


"Tuan Jackson, kedepannya aku hanya akan berbohong padamu, dan juga hanya dibohongi olehmu." Ucapku ketika selesai menghukumnya. Menaklukan pria berhati dingin sepertinya bukanlah dengan cara menangis menunjukkan kelemahan. Tetapi memberanikan diri dengan sedikit cara rendahan agar membuat dinginnya mencair hingga menghangatkannya. Semakin kesini, aku semakin mengerti bagaimana cara mengatasi Jackson. Lagipula aku tau bahwa dia juga menginginkan diriku, dia pasti aku menahanku, menolakku, menghindariku, bila saja dia tidak menginginkanku.


Bangkit dari tubuhnya, aku segara mengantar Jackson menuju lift,


Didalam lift aku kembali menciumi leher sampingnya.


Setelah mengantar Jackson, aku duduk di sofa sambil menghisap rokok di dalam kotak yang ditinggalkan Jackson.


"Aku benar-benar sudah menjadi siluman penggoda," ucapku nada suara Jackson.


Orang yang punya tekad kuat seperti Jackson mulai menerima ciumanku, semakin mengharapkan saat-saat aku memikatnya. Begitu Jackson mulai berinisiatif, maka itulah hari di mana Jackson jatuh sepenuhnya.


Keesokan harinya di perusahaan, seorang rekan memberitahuku kalau Jackson meminta aku untuk langsung ke kantornya.


Semua orang yang lewat memperhatikanku, sekretaris Clara memberikan secarik kertas padaku yang tertulis "Cecil, pelakor tingkat atas, merebut pacarku, merebut mantan suamiku, meniduri mantanku, merayu mantan pacarku, wanita berstatus menikah yang mengalami hal yang sama denganku sudah mencapai puluhan orang." Begitulah kalimat yang tertulis di kertas itu. Total ada ratusan kertas, dan telah disebar di seluruh perusahaan.


Teks tidak bermutu seperti ini sudah terlihat jelas tulisan Bianca, aku benar-benar kesal sampai ke ubun-ubun.


Di dalam kantor, Jackson sedang mandi, aku berjalan keluar, orang-orang di dalam perusahaan sudah mulai bertaruh siapa yang akan dia taklukanku.


"Menurut kalian siapa yang akan menjadi target Sesil?" Ujar seorang karyawan.


"Aku bertaruh dept HR,"


"IT, pasti taruhanku benar,"


"Kurasa Tuan Hedden, beberapa waktu aku melihat mereka berdua."

__ADS_1


"Aku rasa Tuan Andreas juga." Mereka mulai mendebatkan taruhan masing-masing. Dari semua orang yang diam-diam kudengar, tidak satu pun yang bertaruh Jackson.


Tak sabaran, aku berjalan menuju tempat mereka berkerumun lalu mengatakan, "Aku bertaruh Jackson."


__ADS_2