
"Jadi, kapan kau akan pergi?"
"Apa kau mengusirku?" Tanya Hadden seraya menggelengkan kepala karena mulai mabuk.
"Terserah apa rencanamu. Ingat, kembalilah begitu urusanmu dan Nasa selesai. Hubungi aku bila terjadi sesuatu, masalah Kabut kau tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik," ujar Jackson membuat Hadden merasa tenang.
"Kau mau ke mana?" Tanya Hadden.
"Menjemput Istriku. Ikutlah bersamuku," saut Jackson dan Hadden pun mengekor di belakang Jackson hingga tiba di lantai atas dengan menggunakan lift.
Tiba di depan kamar, Jackson langsung membuka pintu kamar yang untungnya tidak Nata kunci. Begitu pintu terbuka, Jackson langsung masuk, menuju ranjang dan langsung mengangkat tubuh Nata perlahan. Cukup sulit baginya karena Nata memeluk Kebut begitu erat. Namun, akhirnya Jackson tetap berhasil mengangkat Nata.
"Istirahatlah di kamarku bersama Istrimu dan Putramu. Aku akan membawa Nata tidur di kamar tamu."
"Baiklah," jawab Hadden singkat.
Jackson menggendong Nata hingga tiba di kamar tamu. Masuk ke dalam, Jackson memebaringkan Nata dengan begitu perlahan, menyelimuti Sang Istri. Kemudian ikut tidur sambil memeluk erat Nata.
Keesokan harinya....
__ADS_1
Seperti biasa, Nata dibangunkan oleh rasa mual yang memaksanya berlari hingga tiba di kamar mandi. Seperti biasa pula, Jackson akan setia menemani Sang Istri, walau hanya dengan memijat pelan tengkuk Nata agar rasa mualnya sedikit berkurang.
Nata terus muntah-muntah hingga tenaganya terkuras habis. Bahkan, untuk bicara pun dia tak mampu. Jackson dengan sigap mengangkat tubuh Nata lalu dia bawa menuju ranjang.
Jackson mendudukan Nata di pinggir ranjang. Setelahnya, Jackson meraih gelas berisi air putih yang ada di atas nakas. Membantu Nata minum hingga air di dalam gelas kering tak bersisa.
"Apa sudah mendingan?" Tanya Jackson lembut.
"Hu'um, aku mau tiduran saja. Kepalaku pusing sekali," Jawab Nata dengan suara pelan tapi masih bisa terdengar di telinga Jackson.
"Aku panggilkan Dokter Dera, ya?" Tawar Jackson seraya membantu Nata berbaring dengan perlahan.
"Kamu istirahat saja, aku akan buatkan sarapan untukmu." Tutur Jackson akan pergi.
"Jackson tunggu," cegat Nata.
"Susu dan nasi putih, bukan?" Tebak Ansel.
"Tidak," sambung Nata menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Benarkah. Lalu, kamu mau sarapan apa, Sayang?" Tanya Jackson antusias karena akhirnya Nata mengganti menu sarapannya.
"Susunya rasa strawberry dan nasinya ganti dengan nasi merah," jawab Nata santai tanpa dosa.
"Baiklah, akan aku siapkan," saut Jackson pergi dengan lesu.
"Jackson, tunggu!" Cegat Nata kali ini berteriak kencang karena Jackson sudah ada di ambang pintu.
"Apalagi, Sayang?" Tanya Ansel menghela napas dalam.
"Aku ingin sarapan di ruang makan saja, aku baru ingat ada Paman Hadden, Nasa dan Kabut. Aku ingin sarapan bersama mereka saja," tuturnya segera turun dari ranjang. Melihat itu, Jackson pun langsung bergegas lari menyambut Sang Istri yang masih lemas.
Dengan sabar Jackson membawa Nata hingga tiba di ruang makan yang ternyata sudah ada Hadden, Nasa, dan Kabut yang telah rapi dengan busana masing-masing. Hadden dengan setelan kerjanya, Nasa dengan setelan culunnya dan Kabut dengan pakaian casualnya.
"Maaf, sudah membuat semuanya lama menunggu," ucap Nata merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, namanya juga masih pengantin baru," saut Hadden menggoda.
"Apanya yang baru, Paman. Pria brengsek ini sudah menggempurku sebelum menikahiku dan Paman membiarkannya begitu saja," tunjuk Nata pada Jackson yang kini membantunya untuk duduk di kursi.
__ADS_1
"Masih menyalahkanku. Kamu sendiri yang menggodaku," saut Jackson tak ingin kalah.