
"Sudah puas?" Aku tak menjawabnya, aku menghidari tatapan matanya. Aku ingin membenci laki-laki kasar ini. Tapi, kenapa setiap menatapnya, aku tak bisa menipu hatiku sendiri. Haruskah aku pergi darinya? Ya, mungkin saja perasaan ini bisa hilang jika aku tak lagi melihat wajahnya.
Jackson menyingkir dari tubuhku, aku beringsut lalu meraih selimut dan menutupi tubuh polosku. Jackson turun dari ranjang, kemudian memungut ikat pinggangnya di atas lantai dan masuk ke ruang tamu. Dia belum memakai celananya yang masih tergantung di sana. Jackson menyulut sebatang rokok.
Aku tidak bicara sepatah kata pun dan langsung pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan lemas.
Selama pergelutan tadi, Jackson sangat kasar, hingga meninggalkan luka dan warna kemerahan serta keunguan di sekujur tubuhku yang dia jelajahi.
Aku berjalan pelan sambil berpegangan dengan dinding kamar. Sangat sulit bagiku untuk melangkah, karena rasa perih itu akan muncul setiap aku melangkah. Penuh perjuangan akhirnya aku berhasil tiba di kamar mandi.
Aku menghidupkan kran air panas dan air biasa bersamaan. Aku duduk di atas closet sambil menunggu buthub terisi penuh. Di dalan sana aku terisak pelan, sangat pelan karena aku tidak ingin Jackson mendengarnya. Tak lama, aku merasai ada air hangat yang menyentuh jari-jari kakiku. Kulihat air di bathub sudah melimpah. Aku berjalan pelan, lalu mematikan kran.
Aku mengisi satu botol sabun cair ke dalam buthub, hingga busanya melimpah karena kebanyakan. Setelahnya aku langsung masuk ke dalam buthub dan mulai berendam. Rasa perih yang tadi, sedikit berkurang setelah berendam. Walau begitu, pikiranku masih menerawang jauh, aku ingin pergi dari Jackson, tapi bagaimana caranya. Aku tidak ingin menerima tawaran Zea, aku benar-benar lelah dengan misi ini. Aku ingin segera mengakhirinya, tapi aku tidak mau masih terikat dengan Zea, Hadden, Andreas, juga Jackson. Aku harus pergi.
Apakah harus aku akhiri hidupku. Tapi ... Tapi aku takut, bagaimana kalau aku masuk ke neraka? Bukankah lebih baik hidup di dunia yang walaupun juga kejam ini.
Apa yang harus aku lakukan sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari jeratan ikatan tali baja ini. Aku harus pergi, pergi yang jauh, di mana siapa pun tidak dapat menemukanku.
"Jackson, aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa hidup denganmu, hiks ... hiks ...." Kutumpahkan segala air mata selama berendam di dalam buthub. Cukup lama aku berendam hingga membuat jari-jariku menjadi keriput, bahkan wajah dan bibirku begitu pucat.
Karena kedinginan, akhinya aku segera menyudahi mandi. Dengan handuk yang melingkar di tubuhku, aku segera keluar dari kamar mandi. Aku berjalan gontai menuju lemari, mengambil piyama tidur, lalu segera memasangnya ke tubuhku. Tenggorakan yang begitu kering memaksaku harus pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Begitu keluar aku melewati Jackson yang masih belum pergi, seluruh ruangan dipenuhi asap rokok yang tebal.
__ADS_1
Setelah mengambil air minum, aku duduk di sofa di hadapan Jackson, karena dia memintaku menemaninya di sana.
Jackson berkata: “Ada beberapa pria yang tidak bisa disentuh.”
Saat ini aku seperti bunga yang sudah gugur, “ Aku sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan Hadden.”
“Masih sakit?” Aku hanya diam tak menjawab, bagiamana mungkin tidak sakit, apa dia lupa bagiamana kasarnya dia padaku.
"Tuan mau apa?" Tanyaku panik ketika Jackson kembali mendekatiku.
"Jangan bergerak! Aku tidak akan melakukannya lagi," jawab Jackson membuatku tenang.
"Buka pakaianmu,"
"Tuan, saya mohon jangan, saya masih sakit," sautku lemah.
Aku hanya diam dan membiarkan Jackson mengoleskan salep itu di sekujur tubuhku yang terdapat tanda kemerahan juga keunguan.
"Di sana, apa butuh bantuanku?"
"Tidak, sudah cukup, Tuan. Di sana biar saya sendiri saja." Jawabku cepat, lalu segera merebut salep dari tangan Jeckson.
Keesokan harinya, aku tidak masuk kantor, tidak minta cuti ataupun menghubungi Jackson. Beberapa hari kemudian aku menemui klien baru di cafe, klien ini teman baik dari Erika, klien langganannya. Aku datang terlambat dan minta maaf pada klien baru itu, “Nyonya Tina, maaf aku terlambat.”
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nona Cecilia. Saya juga tidak lama menunggu," jawabnya ramah.
Karena Jackson, kini aku jadi terkenal di seluruh kota dan tidak bisa menerima permintaan lokal. Sedangkan Nyonya Tina adalah klien dari luar kota dan suaminya, Erwin adalah direktur Teknisi dari perusahaan besar di sana.
Aku sudah merencanakan dengan baik kalau aku akan menabung sendiri dan pergi keluar negeri untuk menghindari Jackson.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu, Nyonya Tina?"
“Aku hanya ingin sebuah rumah untuk bernaung setelah bercerai nanti.” Jawab Nyonya Tina tegas.
"Hanya itu saja?"
"Iya, aku hanya ingin lepas dari laki-laki bajingan itu. Tapi, aku belum punya uang untuk membayar DP untuk nona Cecil." Ujarnya lemah.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Santai saja, percayakan semuanya kepada saya. Nyonya Tina bisa membayar saya secara sukarela," jawabku membuatnya tersenyum bahagia.
"Terima kasih banyak, Nona Cecil, terima kasih," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Nyonya Tina." Aku menerima permintaan dari Nyonya Tina tanpa perlu bayar DP, dan pembayarannya sukarela setelah urusan selesai.
Aku ingin bertindak cepat. Sore itu juga aku berangkat ke luar kota lalu menuju ke hotel Fulerton dan tiba di sana telah malam hari. Aku menuju ke restoran setelah membuka kamar hotel dan menemukan keberadaan Erwin di area seafood di dalam restoran.
Tempat duduk aku dan Erwin dibatasi oleh sebuah papan kaca. Aku memoles lipstik merah yang sexy dan menampakkan tali braku di bahu.
__ADS_1
Erwin menerima telepon, kemudian berjalan menuju lift. Saat ini aku memutar dan sengaja tersandung ke depan.
“Aduh…”