
Warning : Novel ini adalah novel misi. Bagi yang tidak sengaja menemukan novel yang sama, ITU BUKAN FLAGIAT. (penjelasan lebih lanjut ada di bab pengumuman).
***
Napasku sedikit tidak beraturan, Hadden tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jackson, dia langsung pergi begitu saja.
Ruang tamu tiba-tiba jadi sangat hening. Lama kemudian, aku berdiri akan membersihkan meja dan mengantarkan gelas kosong ke dapur. Numun, niatku urung kala Jackson juga ikut berdiri dan mendesakku, Jackson terus maju dan aku semakin mundur. Kulihat ada kilatan Nafsu yang besar di mata Jackson. Ekspresi wajahnya yang dingin membuatku merasa takut.
"Tu-tuan Jackson. Sa-saya bi-bisa jelaskan se-semuannya," imbuhku terbata. Ucapanku membuat raut wajah Jackson semakin merah, bahkan aku dapat melihat urat-urat lehernya yang kencang akibat menahan amarah.
"Tuan, saya tidak bermaksud menyembunyikan Hadden. Sa-saya hanya tidak ingin Tuan salah paham bila melihat Hadden ada di rumah saya. Percayalah Tuan, saya dan Hadden tidak ada hubungan apa pun. Kami hanya berbincang sebentar, tidak lebih." Jelasku percuma, karena alasanku tak sedikit pun mampu mengubah raut wajah Jackson menjadi tenang.
"Hadden, panggilan yang bagus. Cecilia, kamu memanggilnya dengan nama yang akrab. Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua? Apa kamu juga sudah merasakan miliknya? Mana yang lebih besar dan keras antara milikku dan Hadden?" Tanya Jackson yang kini menekanku di dinding beton rumahku.
PLAAK!
"Jadi Tuan anggap saya semurahan itu!" Aku kaget dengan apa kini aku lakukan kepada Jackson. Aku mengepal tanganku sendiri, sedangkan Jackson merasai pipinya yang tak sengaja aku tampar dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Pipi Jackson tampak baik-baik saja. Tamparanku tak meninggalkan bekas sedikit pun di kulit tebalnya.
Namun, tampaknya aku telah menjatuhkan harga diri seorang Jackson Baldev. Seorang pria yang berkuasa dan kejam. Air mataku jatuh ke dalam, aku tak dapat membayangkan hukuman apa yang akan Jackson berikan kepadaku malam ini.
Tanganku gemetar. Aku pasrah, sekarang aku pasrah dan menerima apa yang akan Jackson lakukan kepadaku. Memangnya apa yang dapat aku lakukan selain pasrah?
Jackson berkata, “Cecilia, akan ada hukuman yang berat untuk setiap kebohongan juga kelancanganmu” Ucap Jackson langsung menyerangku dengan begitu buasnya. Apa yang Jackson lakukan kini jauh lebih kasar daripada sebelumnya.
"Tuann, sakitt!" Teriakku kala Jackson mendorongku kasar ke atas sofa di ruang tamu.
"Saya mohon Tuan tenangkan diri dulu, setelah itu Tuan boleh melalukan apa pun kepada saya. Tuan yang seperti ini menyakiti saya!" Teriakku sambil menahan dada Jackson sekuat tenaga. Air mata yang selama ini berusaha aku tahan, kini tumpah. Ini bukan diriku, Cecilia Humeera bukanlah wanita lemah yang terus menangis.
"Akh! Sakitt, Tuan," ringisku pilu.
Puas bermain di sana, Jackson mulai melepaskan kain terakhir yang membalut senjatanya.
"Tuann," ucapku dengan air mata yang terus mengalir berharap Jackson tidak melakukan penyatuan dengan kasar.
__ADS_1
"Aaaakkhh!"
"Itu hukuman untukmu. Hukuman aku semakin parah bila kamu mengulanginya lagi. Apa masih ingin mengulanginya lagi?" Aku menggeleng cepat, kemudian menggigit kuku-ku hingga patah. Rasa perih yang kini aku rasakan diya kali lipat lebih sakit daripada hukuman pertama. Jackson tersenyum sinis, lalu mulai memompa tubuhnya dengan perlahan kemudian semakin cepat. Suara erotisku yang lolos membuat Jackson semakin bersemangat. Jackson menjil*ti perlahan rentetan air mataku yang mengalir.
Kini, aku menyesali semuanya. Andai aku bisa kembali ke masa lalu, aku sangat ingin memperbaiki semuanya. Namun, aku tahu itu sudah tidak mungkin. Aku sudah terjebak dalam lingkaran hitam yang aku ciptakan sendiri. Aku juga yang mengundang pemangsa buas untuk menjeratku, hingga aku tidak bisa lepas darinya.
Beberap jam berlalu, akhirnya Jackson berhenti menguasai tubuhku. Aku meraih selimut dengan gemetar, Jackson menghukumku terlalu lama, hingga beringsut sedikit pun sulit aku lakukan. Kulihat Jackson masuk kedalam kamar mandi, meninggalku sendiri yang bahkan tak bisa bergerak.
Aku hanya dapat menahan tangis, menahan sakit, menahan perih, pada fisik juga hatiku. "Tetaplah begini Jackson, teruslah sakiti aku. Ubahlah rasa cinta ini menjadi benci hingga aku tidak akan terlalu sakit saat kamu mencampakkanku." Batinku berkata pilu.
Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka, aku membuka sebelah mataku setelah memastikan kalau Jackson telah berpakaian.
Jackson mengangkat panggilan yang masuk, rupannnya Zea yang menelepon.
Aku mendengar semua pertengkaran Jackson dengan Zea. Mereka bertengkar masalah Andreas yang ditangkap. Zea masih ingin mengatakan sesuatu, tapi Jackson menutup telepon sepihak dengan ekspresi datar.
Aku memejamkan mataku paksa, kurasakan ada pergerakan dari kasar. Rupanya Jackson naik ke atas ranjang, membaringkan tubuh kekarnya di sampingku. Kemudian memeluk pinggangku dengan begitu eratnya.
__ADS_1
Tubuhku bergetar karena detak jantungku masih tak beraturan. Aku merutuki diriku yang masih mencintai Jackson walau sakit yang dia berikan lumayan membekas.