Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 64


__ADS_3

Sepulang ke Spring Mansion, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu selesai mandi dan berpakaian, aku pun berbaring di atas ranjang sambil makan satu cup besar es krim yang sebelumnya kuminta pada pembantu untuk mengantarkannya.


Memikirkan kehamilan Zea, akankah semuanya membaik? Baik bila yang dikandung Zea adalah anak Andreas, karena bila itu benar, maka Jackson akan membebaskan Andreas. Dan Peter tidak akan perhitungan dengan Jackson lagi.


Tapi, bila yang Zea kandung adalah anak Jackson, apa yang akan terjadi? Dasar Jackson gila! Aku sangat yakin yang Zea kandung adalah anaknya. Sama halnya yang terjadi kepadaku, Jackson bisa menyentuhku padahal dia tidak mencintaiku. Begitu pula dengan Zea, dia tidak mencintai Zea tapi dia tetap menyentuhnya.


Nasib Zea sangat beruntung karena dia tetaplah Istri sah Jackson. Tidak perlu diragukan bila dia hamil, sedangkan aku, entah kemalangan apa yang akan terjadi bila aku memang benar mengandung anak Jackson.


Bila benar, maka aku akan tetap menjadi seorang wanita simpanan untuk selamanya. Dan Anak yang aku kandung nantinya akan diambil oleh Jackson. Anakku akan dirawat dan diakui oleh Zea, anakku tidak akan pernah tau siapa Ibunya yang sebenarnya, anakku akan menderita karena dirawat oleh Ibu tiri dan Ayah yang tidak menyayanginya.


Tidak, aku tidak ingin anakku menderita. Tuhan, aku mohon jangan buat aku hamil. Aku mohon Tuhan, jangan hadirkan seseorang yang tidak bersalah dalam lingkaran hitam hidupku ini. Cukup aku yang menderita, jangan hadirkan seorang anak yang tidak bersalah yang juga akan menderita.


Kriet!


Suara pintu yang dibuka seseorang, aku langsung berbaring dan menyelimuti tubuhku dengan cepat.


Jackson pulang dan masuk ke kamar, dapat kurasakan pergerakannya juga langkah kakinya. Aku pura-pura tidur.


"Kamu boleh pergi," usir Jackson pada seorang pembantu yang membantu membawakan tas juga teh untuknya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Tunggu," cegat Jackson.


"Apa saja yang dilakukan Cecilia hari ini?" Jackson bertanya sambil memandang, dapat kurasakan geli diwajahku bila dipandangi seseorang.


"Nona hanya keluar sebentar bersama temannya, Tuan. Tapi, para pengawal tetap ikut untuk menjaga Nona," jawab pembantu itu ramah.


"Kamu boleh pergi," usir Jackson lagi, pembantu itu pun pergi keluar dari kamar.


POV Jackson


Aku merasa sangat lega bisa kembali ke Mansion ini dan kembali melihat Cecilia, wanita satu-satunya yang aku cintai di dunia ini. Ya, aku memang mencintainya, kalau tidak, untuk apa aku menahannya agar tetap selalu bersamaku.


Zea ingin menyingkirkanku karena dia mencintai Andreas. Sedangkan Andreas ingin menyingkirkanku karena ingin menguasai seluruh harta keluarga Liandra. Dan Peter juga ingin menyingkirkanku karena aku mengetahui seluruh rahasia besarnya.


Ketiga manusia licik itu selalu mencintaiku dengan segala rencana licik mereka. Ada banyak bahaya yang mengintaiku, membuatku harus menahan segala rasaku kepada Cecil. Aku tidak ingin ketiga Iblis itu mengetahui kalau aku mencintai Cecilia. Jika itu terjadi, maka Cecilia-lah yang akan menjadi sasaran mereka untuk melumpuhkanku.


Sialnya, aku melakukan kesalahan besar karena membuat Cecilia mengandung. Aku harus memastikan keadaan Cecilia agar selalu aman dari ancaman bahaya yang pasti akan dilakukan Peter. Berpura-pura tidak peduli adalah cara ampuh untuk mengelabuhi musuh. Namun, sepertinya hal itu tidak akan lagi mempan, karena ketiga iblis itu telah mengetahui bahwa aku sangat mencintai Cecilia.

__ADS_1


Dan itu artinya, aku harus menjaga Cecilia walau dengan cara membatasinya untuk berkeliaran di luar sana, atau bisa disebut aku terpaksa harus mengurungnya agar tetap aman.


Apalagi sekarang Andreas telah keluar dari penjara. Aku terpaksa mengeluarkan Andreas dari penjara karena permintaan Peter. Karena saat ini Zea tengah mengandung anak Andreas.


Kini, aku melepaskan jas lalu kancing kemeja. Aku membelakangi Cecilia yang tengah terlelap. Tidak, dia tidak tidur sama sekali, aku tak sengaja melihat pantulan dirinya di kaca lemari. Wajahnya yang sendu menatapku pilu. Tidak ada Cecilia yang selalu menggodaku, kini, dia ingin pergi jauh dariku.


Dia ingin aku melepaskannya, dia ingin bebas dari kekanganku. Aku sadar dan aku sangat tau kalau dia sangat menderita bersamaku. Tapi, aku terlalu egois untuk melepaskannya apalagi membiarkan pergi jauh dariku.


Bertahanlah Cecilia, aku mohon bertahanlah sebentar lagi saja. Bertahanlah hingga semua masalah yang harus aku selesaikan ini terselesaikan. Saat semuanya sudah kembali seperti keinginan seseorang, saat janjiku kepada seseorang telah terlaksanakan. Maka, saat itulah aku akan membawamu, merangkulmu, dan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia ini.


Untuk mencapainya, mungkin akan ada banyak kesulitan yang akan kita lewati. Untuk itu, aku mohon bertahanlah Cecilia.


Tak ingin menatap wajah sendu itu terlalu lama, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Aku tak dapat menahan senyumku kala melihat Cecilia yang menatap bayanganku yang bergerak di balik pintu kamar mandi yang dilapisi mosaik. Begitu selesai mandi dan berpakaian, aku duduk di pinggir ranjang.


"Ke mana saja hari ini?" Aku bertanya karena memergokinya yang terus menatapku saat memasang piyama.


"Hari ini aku bertemu 2 teman Zea," jawabnya singkat dengan nada ketus. Aku tahu kedua teman Zea pasti bergunjing tentangnya.

__ADS_1


Aku menyipitkan mata saat mendengar suara isakannya yang tertahan. Dia bangun dengan air mata yang telah membanjiri kedua pipinya.


“Aku tidak akan menderita jika kamu melepaskanku!"


__ADS_2