Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 31


__ADS_3

Cukup lama aku menunggu di dalam mobil, hingga akhirnya Jackson pergi. Melihat jackson yang telah pergi, aku langsung menuju Apartemen untuk mengistirahatkan tubuhku yang begitu lelah hari ini.


Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah-celah ventilasi. Aku mengusap mataku pelan, lalu segera bangun. memutar tubuh ke kiri lalu ke kanan guna meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku.


Merasa lebih baik, aku langsung turun dari ranjang, menyambar handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi aku langsung ke luar dari kamar mandi. Membuka lemari lalu memilah pakaian apa yang akan aku kenakan hari ini. Hitam dan merah, dua warna itu mendominasi isi lemariku, karena aku sangat menyukai kedua warna itu.


Pada akhirnya aku memilih celana dasar berwarna hitam yang ketat, kemeja tembus pandang berwarna putih dengan aksen pita dikerahnya, memarkan dua gundukkanku yang menggoda.


Sepatu heels berwarna merah polos menjadi pilihanku. Setelah memasang pakaian minim itu ke tubuhku, kini aku menepuk pelan sedikit Cushion di wajah mulusku, paduan lipstik merah menggoda membuat siapa pun akan jatuh akan pesonaku.


Begitu semua siap, aku langsung berangkat menuju restoran blue sea. Meraba ponsel di saku, kemudian menelepon Andreas.


"Hallo Tuan Andreas, bisakah kita bertemu di Cafe sebelah rumahku, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucapku mengajak Andreas bertemu.


"Baiklah, Nona Cecil," jawab Andreas langsung memutuskan panggilan sepihak. Sepertinya dia tahu kalau aku punya perkembangan berita dan dia tanpa ragu langsung menyanggupi. Cukup lama aku menunggu Andreas di Cafe itu, bahkan aku telah selesai makan malam. Dan pada akhirnya, tepat di menit ke 40, Andreas sampai di lokasi.


"Maaf membuat Nona menunggu lama," sapa Andreas langsung mengambil posisi duduk di hadapanku.


"Tidak Masalah, Tuan. Saya juga tidak lama menunggu di sini," jawabku tersenyum manis.


"Jadi, berita penting apa yang ingin Nona sampaikan kepada saya," desak Andreas to the point.


"Ini menyangkut tuan dan juga Jackson," jawabku memulai.

__ADS_1


Andreas diam menciptakan lenggang, dia tampak antusias mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan kepadanya.


“Saat ini Angkasa Group adalah milik PT. Samudera Raya. Direktur Jackson akan melawan Hadden demi membeli Angkasa Group karena bernilai tinggi. Kalau Tuan Andreas lebih dulu menguasai Angkasa Group sebelum Tuan Jackson, mungkin saja ke depannya akan bisa digunakan untuk mengancam Tuan Jackson.”


 


Andreas mengernyitkan alis karena dia tahu kalau Angkasa Group dikendalikan kantor pusat, tidak mudah dikuasai seperti yang aku katakan kepadanya.


"Tuan meragukan saya?" Tanyaku memancing Andreas untuk berbicara.


"Saya bisa mendapatkan stempel milik Jackson," sambungku membuat raut wajahnya berubah menjadi berseri. Sepertinya dia sangat tertarik dengan tawaranku. Namun sesaat kemudian, wajahnya kembali berubah lesu, sepertinya dia takut akan risiko yang tinggi.


"Apa Nona kira semudah itu untuk mendapatkan sebuah perusahaan yang ada di tangan orang lain?" Jangan samakan kisah ini dengan cerita di sinetron-sinetron yang Nona tonton. Di dunia nyata, mendapatkan hal semacam itu tidaklah mudah, kesalahan sedikit saja, penjara taruhannya," jawab Andreas menjelaskan. Sepertinya dia menerka bahwa aku tidak tau apa pun tentang dunia bisnis.


"Tuan, Takut?" Tanyaku merendahkannya sambil tersenyum penuh arti. "Bukankah sama saja mencari bahaya jika berhadapan dengan Direktur Jackson." Jawabku membuatnya berpikir lama.


"Penyalahgunaan kekuasaan dan curang itu melanggar hukum, Nona. Apa Nona tidak tau hal itu?"


"Jaman sekarang bisnis tidak hanya dilakukan dengan cara yang benar, Tuan. Di negara ini, jangankan aparat hukum, orang nomor satu saja tunduk kepada pebisnis. Tuan tidak akan bisa berada di atas, bila takut dengan yang namanya risiko," jawabku membujuknya untuk masuk ke lubang yang sangat dalam, di mana tidak akan ada satu orang pun yang akan membantu bila tercemplung ke dalamnya.


Andreas menarik kembali ekspresi hipokritnya dan seketika langsung memuji sifatku.


"Aku membenarkan apa yang Nona katakan, tapi aku ragu kalau Nona bisa mendapatkan stempel itu. Jackson tidak mudah di taklukkan," jawab Andreas ragu pada kemampuanku.


"Apa yang tidak bisa aku lakukan? Asalkan ada Uang, semuanya akan selesai," sautku membuat Andreas tersenyum senang.

__ADS_1


"Kau telah masuk ke dalam perangkapku, Tuan Andreas," batinku senang.


 


Setelah berpisah dengan Andreas, aku naik mobil tancap gas menuju rumah Jackson. Aku langsung naik ke atas dan memencet bel setelah memastikan Jackson ada di rumah. Lama kemudian, Jackson baru membuka pintu.


Aku tak sangup mengedipkan mataku kala memandangi tubuh kekar Jackson yang hanya terbalut handuk mini yang melingkar di pinggang kekarnya. Jatuhan air dari rambutnya membuat kesannya kian seksi. Wangi maskulin yang semerbak masuk melalui hidungku, menyentuh hatiku, memekarkan bunga cinta di dalamnya.


Pria ini kenapa sangat mempesona," gumamku sambil menelan saliva bersusah payah.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Jackson yang baru selesai mandi. Jackson menatap wajahku lama.


"Ah iya, aku mengatakan bahwa ada urusan kantor yang ingin aku bicarakan," Jackson memberiku jalan dan mengisyaratkanku untuk masuk.


Aku berjalan menuju ke ruang tamu dan langsung berkata, “Oliver diam-diam bertemu dengan Hadden, proyek Angkasa Group yang sudah selesai sedang menghadapi masalah serius.”


 


Jackson dengan santai duduk di sofa dan mengeluarkan bungkusan rokok tanpa terlihat terkejut.


"Hadden dan Oliver bersengkokol untuk menjatuhkanmu, Tuan. Oliver bukan hanya dalam genggaman Tuan, tapi dia juga bekerja untuk Hadden. Dia bermuka dua, Tuan. Dia sudah mengkhianati, Tuan." Laporku pada Jackson.


 


Jackson meanggukkan kepala lalu mengiyakan dengan datar. Hal itu membuatku terpaku diam bak terkena Sembiring.

__ADS_1


Jackson mengeluarkan sebatang cerutu yang besar, menjepitnya dengan 2 jari lalu menyalakannya. Jackson memandangi cahaya matahari di luar jendela dengan ekspresi yang datar.


Saat itu, aku merasa hanya Jackson yang bisa mengalahkan musuhnya, tidak ada yang bisa menjebak Jackson.


__ADS_2