
Sudah tidak ada waktu lagi," ujarnya langsung menindihku di atas kasur. Tubuhku menegang seketika.
"Kenapa gugup begitu? kemana perginya seorang Cecil yang biasanya berusaha menggodaku." Ucapnya sambil terkekeh menertawakan kekakuanku.
"Ikan sudah menggigit pancingan, tapi kamu tidak berani memakannya." Ujarnya membuat Sorot mataku dipenuhi oleh pesonanya. Maskulin Jackson, ini adalah penaklukan oleh yang jantan terhadap yang betina secara alamiah.
Jackson dan aku, siapakah predator? dan siapakan pemburunya?
Jackson mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga tidak lagi ada jarak antaraku dan dia. Aku menahan napasku karena malu. Astaga! Aku belum mandi, apakah aku sangat bau, aku tidak ingin meninggalkan kesan pertama yang buruk kepadanya. Tunggu, apa yang aku pikirkan? Aku tidak ingin dia merenggut kesucianku, harusnya itulah yang aku pikirkan.
Aku membulatkan mataku sempurna ketika Jackson mel*mat bibirku rakus tapi dengan penuh kelembutan.
Aku terbuai, beberapa detik kemudian aku memejamkan mataku. Dengan membalas apa yang dia lakukan pada lidahku.
Lidahnya berkeliaran di dalam mulutku, mengabsen setiap gigiku.Membuatku gelenyar aneh menjalar kesetiap aliran darahku. Membuatku ingin sensasi yang lebih.
"Em ... Aah ... Uh ...." Lenguhanku lolos ketika bibir dan lidahnya kini berkelana di leher jenjangku. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kenapa pria ini punya pesona yang dapat membuatku tidak bisa mengontrol diri.
Tak sabaran, Jackson melepaskan satu persatu kancing kemejaku. Dia tersenyum menatap gundukkanku yang berhasil dia poloskan. Seketika, dia mer*masnya dengan penuh keagresifan.
"Tuan, pelan-pelan, em ...."
"Sintal dan sangat padat. Apakah aku pria pertama yang bermain dengannya?" Ujarnya disela-sela lenguhanku.
Aku menutup gundukkan dengan wajah memerah padam. Walau tak tertutup semua, karena memang ukuranku diatas rata-rata.
"Aku sudah melihatnya, untuk apa ditutupi lagi. Tahukah kamu, pria akan semakin penasaran ketika wanitanya bertindak malu-malu seperti itu." Ujarnya menyingkirkan kedua telapak tanganku, lalu tersenyum smirik menatapku yang kini tak berdaya.
"Ah, tuan," Jackson menyesap benda kenyal ukuran 36d ku dengan ganasnya. Ganas, tapi sangat gali dan nikmat rasanya, membuatku tak dapat menahan suara erotisku. Suara erotis semakin menjadi ketika kedua tangan dan lidah bibirnya bermain begitu handal. Meninggalkan bekas kemerahan sekujur tubuh bagian atasku.
__ADS_1
Kulihat matanya yang telah di penuhi ***** yang semakin lama semakin membuncah. Apalagi ketika mendengar lenguhanku yang terdengar begitu seksi.
"Tuan, ehm ...." Lenguhku Lagi ketika salah satu tangannya menyusup kedalam rok-ku dan mengusap bagian intiku perlahan.
"Kau sudah basah, Sayang." Ucapnya lembut, aku melengoskan wajahku karena malu.
Perlahan dia menurunkan rok mini yang kukenakan, dilanjutkan dengan menurunkan kain terakhir yang membungkus daerah intiku
"Kak Jackson!" Cegahku dengan napas yang memburu. Ada perasaan tidak rela dalam hatiku ketika dia akan memoloskan seluruh tubuhku.
"Kenapa? Sudah setengah jalan, sudah tidak bisa lagi di urungkan." Jawabnya langsung menarik kain terakhir itu dengan paksa.
Aku menggelengkan kepalaku ketika dia membuka lebar kedua pahaku. Kulihat senyumnya merekah ketika menatap bagian intiku secara langsung.
"Ah ... Kak Jackson!" Teriakku kala salah satu jarinya berhasil menerobos pertahananku.
Samar-samar aku melihat senyumannya, dengan sekali tarikan, dia telah polos. Aku memejamkan mataku kala menatap adiknya yang ternyata dua kali lipat lebih besar daripada yang aku bayangkan.
"Kamu siap?" Tanyanya padaku, aku diam tak menjawab, melihat ekspresiku, Jackson kembali mencium bibirku dengan ganasnya.
"Kak, jangan!" Cegatku ketika dia siap melakukan penyatuan.
"Terlambat," jawabnya santai.
"Aaaaaakh! Sakitt, K-kak!" teriakku kesakitan. Entah berapa kali hentakkan kuat, dia berhasil merenggut mahkota berhargaku. Yang berusaha aku jaga selama ini. Air mataku tak dapat kutahan, rasanya aku sangat menyesali malam ini. Tapi, mau menghindar bagiamana pun, aku tau hal ini pasti akan terjadi baik dalam waktu dekat atau pun lama.
Hanya penyesalan yang teramat sangat dalam kini aku rasakan. Pria ini telah merenggut kesucianku tanpa status. Aku merasa tidak layak lagi untuk hidup. Kenapa dengan bodohnya aku bisa terjebak dalam misi ini.
Jackson mencium setiap air mataku yang lolos, sambil terus melanjutkan apa yang sudah terjadi. Selanjutnya, hanya suara-suara erotisku yang terdengar di malam sunyi dibawah cahaya rembulan. Entah sudah berapa kali pelepasan, tapi yang pasti, Jackson tidak membiarkanku istirahat barang semenit pun. Dia terus memompa lagi dan lagi, seakan tidak ada puasnya menikmatiku tubuhku.
__ADS_1
Setelah semuanya berlalu, kini aku terbaring lemah diatas kasur dengan bantal dan selimut entah kemana. Yang pasti semuanya telah berhamburan di lantai. Angin dingin berhembus masuk melalui celah jendela.
"Dingin," secara tak sadar aku menempel pada Jackson sambil mengatakan dingin. Jackson duduk di sisi kasur sambil merokok juga dengan tubuh polosnya. Rasa perih dibawah sana membuatku kesulitan bergerak. Entah berapa lama dia menggagahi tubuhku, bahkan bisa membuat rambutku basah oleh keringat.
"Apakah ulang tahunmu sudah lewat? mau hadiah apa?" Tanyanya masih tetap membelakangi ku.
Aku diam seribu bahasa, aku tidak menjawab, Jackson membalikkan badannya, lalu mendekatkan puntung rokoknya ke bibirku dan aku menghisap sekali.
"Apakah kamu juga melakukan sampai ke tahap ini ketika dengan klien lain?"
Aku mencebikkan bibirku mendapat pertanyaan seperti itu darinya. Aku juga tidak berbicara, hatiku sedang kacau sekarang, Jackson adalah satu-satunya orang yang membuatku kehilangan kendali selama 26 tahun.
Jackson berdiri dan pergi setelah beberapa saat.
"Sampai memerah begini, kenapa ini bisa terjadi padaku? Bagaimana aku bisa kalah olehnya? Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Sekarang statusku benar seoarang rubah betina." Sesalku dalam
Aku duduk di atas kasur dengan buliran air mata penyesalan hingga langit terang. Aku segera menelpon Zea dan berkata dengan suara serak.
โNyonya, aku telah ....
.
.
.
.
Maaf, ya, cayang๐ Ada sedikit revisi. Satu bab kemarin, Othor jadiin dua bab. Baca lagi, ya, dari bab dua satu Jaminan lebih vanas, kok๐๐๐๐
__ADS_1