
"Kamu tidak kapok dan masih ingin membuat perhitungan denganku?" Aku berusaha untuk tetap tenang.
Cuih!
Brigita meludah di hadapanku, membuat emosi mengusai.
"Kalian semua, habisi wanita murahan ini!" Titahnya kepada beberapa anggota yang dia bawa.
"Brigita! Apa kamu gila?" Teriakku mundur beberapa langkah.
"Habisi dia, buat lukannya lebih parah dariku!" Pinta Brigita membentak.
"Lepaskan aku, kalian semua akan dapat masalah bila berani menyakitiku." Pintaku berontak kala dua orang anggota Brigita bertugas melumpuhkan tanganku.
"Kamu harus merasakan apa yang kamu lakukan kepadaku. Kalian semua, cepat hajar dia!" Titah Brigita lagi.
"Aaakkhh!" Teriakku kesakitan kala mereka mulai memukuli sekujur tubuhku. Anggota yang dibawa Brigita cukup ganas, mereka gesit dan kasar. Semuanya mulai memukulku dengan kasar. Aku dipukuli mereka sampai sangat menyedihkan. Ada begitu banyak luka di sekujur tubuhku, dan darah segar juga mengalir dari keningku.
Setelah puas memukuliku hingga aku hampir pingsan, mereka langsung pergi meninggalkanku seorang diri.
Aku berusaha berdiri, kulihat sekelilingku sangat sepi, tidak ada seorang pun yang dapat membantuku.
Aku berjalan perlahan dengan berpegangan pada dinding beton. Aku berhasil masuk ke rumah setelah Brigita dan yang lainnya pergi. Malam ini aku langsung tidur di sofa, karena tidak bertenaga untuk masuk ke dalam kamar tidur.
***
Keesokan paginya, aku terbangun dengan terus meringis menahan sakit.
Aku mencari-cari keberadaan ponselku. Ketika mendapatkannya, aku segera menghubungi Anggela.
"Hallo Cecilia, tumben banget nelpon sepagi ini. Ada hal penting apa, nih?" Tanya Anggela di seberang sana.
"Aku nggak kuat bangun, Anggela. Tolong anterin aku ke rumah sakit, ya," pintaku dengan lemas.
"Kamu sakit!?" saut Anggela panik. "Yaudah, kamu tunggu di sana sebentar, bertahanlah, Cecil. Aku akan segera datang," sambungnya langsung memutuskan panggilan.
Aku melepaskan ponselku dengan tak bertenaga, rasa sakit di sekujur tubuh kini terasa semakin nyeri daripada tadi malam. Rasa sakitnya meningkat dua kali lipat.
Seluruh badanku memar kebiruan. Aku telah melaporkan Brigita ke kantor polisi dengan menelpon pihak Apartemen untuk memberikan bukti rekaman cctv sebagai bukti. Namun, aku merasa sia-sia saja melapor polisi, karena Brigita akan segera dibebaskan karena pengaruh Reyhan yang kuat.
"Berani sekali dia melakukan ini kepadamu. Aku tidak akan membiarkannya hdup lama," Angela sangat marah saat mengetahui hal ini. Kini, aku dan Anggela telah berada di ruang sakit. Anggela membantuku memegang bungkusan obat, sedangkan aku duduk di atas kursi roda dengan dibantu dorong oleh seorang suster. Aku baik-baik saja. Namun karena luka luar yang telalu banyak, membuatku masih merasa lemah.
"Dia punya sokongan yang kuat, Anggela. Aku tidak ingin membuat Jackson ikut terlibat." Jawabku menentang keputusan Anggela.
__ADS_1
"Aku yakin Jackson akan sangat marah kalau dia tau Brigita melukaimu." Saut Anggela geram.
"Aku bukan siapa-siapa baginya dan dia juga bukan siapa-siapa bagiku. Aku tidak ingin bergantung lebih dalam dengannya, kalau begini terus, akan sangat sulit bagiku untuk lepas darinya." Jawabku pasrah.
"Kamu memang tidak akan bisa lepas darinya Cecilia. Karena Sepertinya dia sudah punya perasaan denganmu. Itulah pandanganku dari hal yang kamu ceritakan kepadaku, semua yang dia lakukan jelas karena cemburu. Dia tidak suka melihatmu dekat dengan lelaki lain selain dirinya. Dia hanya posesif yang berlebihan, aku yakin dia sudah jatuh hati kepadamu dan dia tidak akan mau melepaskanmu,"
"Dia tidak cemburu, Anggela. Dia hanya tidak suka berbagi mainan dengan orang lain. Aku hanyalah boneka baginya, boneka pemuas n*fsu." Jawabku dengan setetas buliran bening yang mengalir.
Anggela ingin berkata, namun urung karena kami telah sampai di depan mobil Zea. Zea membantu berjalan perlahan masuk ke dalam mobil, dan Zea langsung tancap gas dan mengantarkanku pulang ke Apartemen.
Sore harinya Anggela terpaksa pulang ke rumahnya karena suaminya telah mencari dirnya. Setelah kepergian Anggela, aku pun memilih mengistirahatkan diri.
Tiga hari kemudian, malamnya aku sudah menduga kalau Jackson akan datang. Aku terpaksa mempersilahkan Jackon masuk karena aku tidak ingin dia akan semakin curiga, karena sudah tiga hari aku tidak berangkat ke kantor .
"Apa yang terjadi?" Itulah kalimat yang Jackson katakan saat aku membuka pintu rumah. Jackson bertanya khawatir setelah melihat kepalaku yang masih diperban.
"Masuklah dulu, Tuan." Jawabku mempersilahkan Jackson masuk. Kini kami duduk di sofa ruang tamu.
"Siapa pelakunya?" Tanya Jackson dingin dengan kilatan emosi di mata tajamnya.
"Brigita datang mencari ke rumah." Jawabku jujur.
Jackson tidak menanggapi pernyataanku, tapi dia langsung berdiri dengan urat-urat lehernya yang kencang. Kulihat Jackson meraba saku, kemudian menemukan ponselnya.
Jackson dapat melakukan hal yang tak mungkin sekali pun hanya dengan sekedip mata. Melihat kekuasaan dan kekejamannya, aku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa lepas dari Jackson.
Setelah menutup telpon, Jackson berjalan ke arahku dengan wajah khawatir. "Apa obatnya sudah di minum?" Dia bertanya perhatian.
"Belum," aku menjawab singkat.
"Aku mau dibawa ke mana!?" Aku berteriak takut saat Jackson mengangkat tubuhku, aku takut dia akan memberikan hukuman seperti sebelumnya.
"Kamu harus istirahat di kamar," ucapnya membuatku terdiam.
Tiba di kamar, Jackson membaringkan aku dengan perlahan. "Di mana obatnya?" Aku menelan Saliva saat Jackson menanyakan obat.
"Di mana obatnya di simpan?" Tanya Jackson lagi.
"Di sana," tunjukku ke sebuah laci di meja samping ranjang.
Jackson menunduk dan langsung mengambil obat yang masih lengkap di sana.
"Sudah 3 hari sejak kejadian, dan kamu tidak meminum satu pun obat?" Aku terdiam membisu kala pertanyaan Jackson mampu menekanku.
__ADS_1
"A-aku tidak suka rasanya. Cukup hidupku saja yang pahit, tidak perlu di tambah obat," jawabku cepat.
"Suka atau tidak, itulah jalan yang sudah kamu pilih. Dan kamu harus meminumnya saat aku yang menyuruhmu." Jawab Jackson memberikan beberapa butir obat kepadaku.
"Aku bisa muntah bila kamu memaksaku," jawabku keukeuh tidak ingin meminumnya.
"Kamu harus mau Cecilia. Kamu berani membantahku,"
"Aku tidak mau! Untuk hal ini aku berani membantahmu!" Jawabku tak ingin kalah.
Sesaat kemudian, aku heran karena Jackson minum air dari gelas, lalu memasukkan obat ke dalam mulutnya.
Aku terkejut dengan apa yang Jackson lakukan, namun setelahnya aku dibuat semakin terkejut saat Jackson meraih tengkukku dengan cepat. Mencengkam daguku hingga mulutku terbuka, lalu menyalurkan obat itu langsung dengan mulutnya.
Aku membulatkan mata sempurna. Tanpa sadar, aku meneguk habis obat yang Jackson salurkan. Tidak ada lagi rasa pahit yang kurasakan, semuanya berubah jadi manis yang mampu membuat perutku tergelitik oleh kupu-kupu yang berterbangan di sana—kala Jackson ******* bibirku dengan penuh kelembutan.
Kelembutan yang Jackson lakukan membuatku terbuai, hingga tanpa sadar aku membalas apa yang Jackson lalukan. Kami saling ******* saling bertukar Saliva cukup lama. Hingga akhirnya Jackson melepaskanku karena aku hampir kehabisan napas.
"Sekarang istirahatlah," ujar Jackson lembut sambil menuntun kepalaku berbaring di atas bantal. Jackson merapikan anak rambutku yang berantakan, kemudian mengelus dan mengecup kepalaku yang masih berbalut perban. Aku memejamkan mata saat Jackson memberikan perhatian lebih kepadaku. Malam itu, aku tidur dengan nyenyak dalam pelukkan seorang Jackson Baldev.
Keesokan paginya Jackson membawaku ke sebuah Mansion yang begitu mewah.
"Tuan ini tempat apa?" Tanyaku heran saat Jackson membawaku masuk ke dalam sebuah rumah dua tingkat yang tampak begitu mewah dan megah.
"Untuk sementara kamu harus tinggal di Mansion ini." Jawab Jackson.
"Saya tidak mau, Tuan. Saya tidak mau menjadi wanita simpanan," jawabku menolak tegas.
“Cecilia, aku rasa kamu harus tahu kapan harus berhenti bicara.” kata Jackson dingin. Aku mengepalkan tangan, namun pada akhirnya aku memutuskan setuju, karena aku sadar bahwa diriku bukan lawan yang seimbang dengan Jackson.
Jackson menghisap sebatang rokok, asap yang tebal membuatku kesulitan membuka mata. Jackson menyipitkan mata, terlihat gagah dan juga liar.
Visual Jackson ganti ke babang Nick ya gess🙈
Jackson Baldev👇(gambaran CEO pada umumnya. Arogan, kejam, dingin, pendiam, tidak dapat dikendalikan oleh siapa pun, tindakkannya tidak dapat ditebak)
👇Hadden (lembut namun punya begitu banyak rencana tak terduga. Sifat Hadden lebih ke misterius.)
Jackson VS Hadden
__ADS_1
Kalian pilih siapa, guys?🙈