Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
BAB 15


__ADS_3

"Hallo, Anggela. Ada apa?" Tanyaku sambil mendekapkan ponsel ke telinga.


"Kamu tau nggak sih? Wajahmu terpampang jelas di media sosial. Ahahaha ... Aku bahkan tidak bisa berhenti tertawa melihatmu di layar televisi ku. Ahahaha ...." Ucap rekan sebidangku sambil tak berhenti menertawakanku diseberang sana. Angela, dia adalah rekan yang punya hubungan lumayan baik denganku. Bisa dibilang dia adalah guru ku ketika terjun ke bidang ini. Angela juga adalah rekan yang paling akrab denganku. Sekarang ini dia membuka sebuah restoran di pusat kota.


"Kenepa tertawa, bukankah aku sangat cantik dan keren disana," jawabku menghentikan tawanya yang sebelumnya tak kunjung usai.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan tertawa lagi. Tapi kemarilah, aku sangat ingin berjumpa denganmu."


"Aku akan pergi ke kantor," jawabku sambil tetap menyetir mobil.


"Jangan sok rajin. Sekarang cepatlah datang ke restoranku, aku akan menunggumu titik." Jawabnya langsung memutuskan panggilan sepihak.


"Dasar wanita ini," umpatku pada akhirnya memilih bolos kerja.


Di dalam perjalanan, Supir Jackson menelponku.


"Hallo ada apa?" Sapaku.


"Maaf Nona, sekarang Nona ada dimana? Tuan menanyakan kenapa Nona tidak datang ke kantor untuk bekerja?" Tanpa menjawab lebih dulu aku langsung menutup telpon. Saat ditelpon lagi, aku kembali mematikannya.


Akhirnya, setelah 10 menit berlalu, Jackson sendirilah yang menelponku.


Aku tersenyum lebar sambil menyetir, bermain tarik ulur adalah kemahiranku.


"akhinya, kamu masuk juga kedalam permainanku."


Dalam 10 menit ini, benak Jackson dipenuhi olehku. Dia menebak segala alasan kenapa aku tidak mengangkat telponnya.


Jackson adalah seorang pria yang terbilang cukup tenang, detik saat dia berinisiatif menelpon, usahaku sudah mulai menghasilkan buah.


Sambil terus tersenyum lebar, aku segera mengangkat telpon.


"Jack, aku mencintaimu." Sapaku menggodanya. "Aku berikan panggilan Jack saja ya untukmu. Kerena menurutku, nama Jack lebih enak didengar daripada mencintaimu." Sambung ku lagi.


Jackson benar-benar seorang pria yang seksi. Tiba-tiba saja aku teringat akan Jackson di kolam renang malam itu. Memikirkan keseksian Jackson membuatku tersadar.


"Jack, untuk apa kamu menelponku? apa kamu merindukanku?" Tanyaku lembut.

__ADS_1


Jackson menjawab pertanyaanku dengan sangat singkat "Kerja."


"Tidak, toh kamu juga tidak menyukaiku. Untuk apa aku kerja." Jawabku.


"Habis menipuku mau kabur?”


"Duit, orang, tidak ada tuh yang aku dapat."


"Tidak dapat juga bisa digugat.


"Kalo gitu aku bakal kabur."


"Coba saja kalau bisa." Jackson langsung menutup telpon tanpa berbasa-basi.


"Kita lihat, sampai titik mana kamu akan mengejar ku." Gumamku lalu memutar stir untuk berbelok.


Tak lama kemudian, akhirnya aku tiba di restoran Angela yang berada di pusat kota.


Memarkirkan mobil, lalu berjalan masuk kedalam. Begitu masuk, aku langsung menuju ruangan Angela.


Tok! Tok! Tok!


"Sesil, aku kira kamu tidak akan datang. Uwah, lihatlah tubuhmu, semakin lama semakin kencang saja. Perawan pula, pria mana yang akan sangat beruntung nemilikimu. Apakah Tuan Jackson? Ahahahah ...." Sapanya kembali tertawa ketika mengingat wajahku di layar televisi.


"Uwah, lihatlah bagaimana mantan palakor tidak terkena azab. Tapi malah hidup enak. Ahahahaha ...." Balasku menggodanya sambil tertawa dengan membentangkan tanganku lebar.


"Ahaha ... Semoga nasibku ini nular padamu. Tapi sepertinya nasibmu akan lebih enak dariku, jika berhasil menggoda Tuan Jackson. Benar bukan." Godanya lagi.


"Kau lihat wajahku yang begitu tertekan ini. Ini adalah misi yang sangat berat," jawabku lalu duduk di sofanya dengan santai.


"Seberat apa pun aku sangat yakin kamulah yang akan menang. Jangan memperlakukanku, aku sudah mewarisimu dengan begitu banyak kehebatan dan keahlianku."


"Ya-ya. Seberat apa pun aku juga tidak akan menyerah." Jawabku yakin.


"Bagaimana hubunganmu dengan Suamimu?" Tanyaku pada Angela yang memang telah menikahi seorang pria tua yang sudah bisa menjadi ayahnya. Dia juga menandatangani perjanjian menikah.


"Dia adalah orang yang benar-benar baik. Dia sangat baik padaku, aku juga sangat bahagia." Jawab Angela yang jika dilihat memang sangat terlihat aura kebahagiaannya.

__ADS_1


"Baguslah, aku turut bahagia. Ah aku sangat lapar, setidaknya traktir aku makanan terenak di restoran mewahmu ini." Pintaku to the point.


"Aku hampir lupa, ayo kita keluar. Aku juga belum sarapan." Ajaknya. Lalu kami berdua segera keluar dari ruangan.


"Tu-tunggu," cegatku berhenti melangkah.


"Itu, itu Jackson. Sedang apa dia kesini. Dia tidak mungkin mengejarku hingga ke sini bukan?" Tanyaku.


"Tentu saja tidak mungkin, lihat saja dia membawa seorang gadis disisinya." Jawab Angela.


"Kau mau kemana?" Tanya Angela ketiak aku akan pergi.


"Tentu saja mengikutinya. Apa kau lupa kalau dia adalah tergetku." Jawabku.


"Mereka masuk ke dalam ruangan privat." Jawab Angela.


"Kau kan bos disini. Apa gunanya aku punya teman sepertimu. Ayo!" Ajakku langsung menarik lengan Angela.


Karyawan yang berjaga di pintu tidak berani meloloskanku walaupun ada Angela di sisiku. Aku pun meminta Angela untuk menyogok karyawannya. Hingga akhirnya karyawan membuka sedikit celah pintu. Dan aku pun segera mengintip dan menguping.


Aku melihat dengan jelas bahwa saat ini Jackson tengah duduk dengan arogan. Dengan seorang Gadis polos berusia 22 tahun, yang kudengar bernama Jenny, dia adalah wanita yang dikirim Jackson ke sisi Tuan Besar Liandra, Peter Liandra.


"Tuan Jackson, Peter sudah sangat lemah, aku tidak bisa mengandung anaknya." Itulah Kalimat pertama yang kudengar dari gadis itu.


Jackson mengetuk meja sesekali: “Sudah 2 tahun.”


Gadis itu tampak begitu ketakutan hingga berlutut di sisi kaki Jackson.


Pelayan juga terkejut hingga menumpahkan alkohol, lalu diusir keluar oleh Jackson.


Tepat saat aku sedang menguping, aku diselimuti oleh aroma peppermint yang datang dari belakang punggungnya. Aku sadar kalau itu bukanlah aroma Angela. begitu mengangkat kepala, aku begitu terkejut rupanya yang berada di belakangku adalah Hadden.


Aku sangat takut padanya, "Apa yang kamu dengarkan," ujarnya membuatku terdiam.


"Aku tidak akan memberitahu Jackson. Tapi dengan syarat kau harus membalas kebaikanku." Sambungnya lagi.


"Dalam animal world, seekor singa hanya akan menunjukkan kepemilikannya saat seekor singa lain memasuki wilayahnya. Menurutku Nona Sesil tidak akan bisa mendapatkan Jackson meskipun sudah berusaha sekeras mungkin. Sebagai seekor singa yang menyerang, bukankah aku telah membantu Nona Sesil. Dan Nona Sesil harusnya berterima kasih padaku." Tuturnya lagi.

__ADS_1


Aku berpura-pura tidak mengerti, "Aku tidak menonton animal world." Jawabku.


Hadden mengeluarkan foto saat diriku tengah mencium Jackson tadi pagi, Andreas-lah yang memberikan foto itu padanya.


__ADS_2