
"Apa yang kamu katakan? Apa kamu lupa kalau tadi aku menolak Tuan Hadden. Aku adalah perempuan yang setia. Aku tidak akan berkhianat." Jawabku tegas.
Jackson adalah pria yang sangat cerdik, aku yakin dia pasti tau kalau tadi aku hanya berbohong kepadanya. Entah pria seperti apa Jackson sebenarnya, sejujurnya aku sangat takut padanya. Dia sangat cerdik membolak-balik fakta. Bahkan dia dapat mengalahkan Hadden dengan begitu mudah. Entah aku bisa atau tidak menyelesaikan misi kali ini.
Nyawaku menjadi taruhan, aku tidak dapat mundur dan maju pun juga berbahaya. Aku benar-benar telah terjebak. Aku sangat menyesal menerima misi ini. Bagaimana mungkin aku begitu tergoda dengan uang 1 miliar yang bahkan tidak ada apa-apanya bagi Jackson.
"Aku peringatkan padamu. Hadden adalah buaya, jangan mendekatinya sesuka hati. Dia tidak sejahat yang terlihat karena dia lebih jahat dan licik dari yang kau lihat. Kau belum sepenuhnya mengenal dia. Jangan mencoba untuk macam-macam dengannya atau kau sendiri yang akan terjebak dalam masalah yang akan semakin rumit." Tutur Jackson membuatku merinding. Tapi tunggu,
"Apa Tuan mengkhawatirkanku?" Tanyaku berusaha untuk mengubah topik.
"Menurutmu," jawabnya membuat tersenyum.
"Oh iya, Apa kau tau, Bianca memintaku bertemu dengannya secepat mungkin."
"Jangan, Tuan! Di-dia bukanlah perempuan yang baik. Dia juga sama liciknya dengan Tuan Hadden." Jawabku reflek.
"Semakin kau larang, aku semakin penasaran." Jawabnya singkat membuatku tak tenang.
"Aku tidak berbohong Jackson," kesalku dengan menyebut namanya.
"Sudah sampai di rumahmu. Sekarang Turunlah, aku ingin menemui Bianca, aku sangat penasaran dengannya." Ujar Jackson berpura-pura ingin menemui Bianca untuk menakuti-nakuti aku agar berkata jujur. Tapi aku tidak akan membongkar rahasia secepat itu.
Dengan terpaksa aku segera keluar dari mobilnya. Dan langsung masuk kedalam rumahku.
"Hari yang sangat melelahkan," keluhku melemparkan tubuhku ke atas kasur ku yang terasa sangat empuk.
"Bagaimana mungkin berbaring saat lelah bisa senyaman ini. Ah, aku merindukan Nasa. Bagaimana kabarnya saat ini? Apakah sama denganku yang terjebak dalam masalah besar. Heh, pekerjaan kita sangat beresiko ya Nasa. Aku harap kamu tidak terkana luka tambak lagi saat pulang nanti. Huffff ... Sebaiknya aku mandi lebih dulu." Ocehku bangkit dan langsung menuju kamar mandi.
Didalam kamar mandi, aku sengaja memfoto diriku saat sedang mandi susu di dalam buthub dalam keadaan setengah terbuka dan juga tertutup. Lalu aku kirimkan foto itu ke nomor Jackson dengan emot cium.
Derrtt!!!
__ADS_1
"Dia menelponku?" Tanyaku tak percaya. "Apa ini artinya dia tergoda. Itu sudah pasti." Sambung ku lalu segera mengangkat panggilannya.
"Ada apa Jackson?" Sapa ku lebih dulu.
"Sepertinya kau sangat kesepian. Kenapa tidak kirimkan saja kepada Zea?" Tanyanya terdengar menantangku.
"Apa ini artinya Tuan tergoda?" Tanyaku menggodanya.
"Bukankah aku sudah melihatnya secara langsung." Saut Jackson lalu memutuskan panggilan.
"Kenapa pria ini sangat cuek." Kesalku.
Setelah membersihkan diri, aku duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutku dengan handuk mini.
Setelahnya, aku langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur. Tanpa memasang pakaian lebih dulu, aku langsung terlelap.
Beberapa menit kemudian
"Sial! Aki baru saja terlelap," umpatku kesal.
Nyonya Baldev. Ada perlu apa dia menelponku? Aku melirikkan mataku ke jam di dinding.
"Ternyata baru pukul 19:13. Terlalu banyak pikiran membautku merasa begitu lelah." Batinku lalu mengangkat panggilan.
"Ada apa Nyonya?" Tanyaku to the point.
"Da-datanglah ke rumahku. Ahh ... Ada hal yang ingin aku katakan," titahnya dengan suara yang mendes*h seperti seseorang yang sedang bercocok tanam.
Tuttt!!!
"Apa yang terjadi? Tidak bisakah biarkan aku istirahat sebentar. Aish!" Kesalku menuju lemari dan segera bersiap.
__ADS_1
Aku pergi menemui Zea setelah mengambil mobil baruku. Saat tiba di tempat tujuan, aku dikejutkan dengan pemandangan Zea/Nyonya Baldev yang sedang berselingkuh dengan Andreas di garasi basement rumahnya. Dari sini barulah aku menyadari betapa dalamnya jurang PT. Samudera Raya.
Aku merasa sangat ketakutan, aku tidak tahu siapa sebenarnya sang pemburu terakhir. Masalahnya tidak seperti yang dikatakan Zea kepadaku di awal cerita. Apa jangan-jangan Jackson sudah tahu transaksinya dengan Zea sejak awal? Kalau iya, ini akan sangat mengerikan.
Mengendarai mobil dan aku segera pergi dari sana. Aku mengatakan kepada Zea lewat telpon kalau aku tidak bisa menepati janji karena ada kemacetan. Untunglah Zea percaya dan mau menunda pertemuan ke lain hari.
Keesokan harinya, aku berpenampilan sangat formal saat bekerja. Aku juga hanya membicarakan persoalan kerja tanpa tindakan untuk menggoda Jackson lagi.
Aku merasa yang dikatakan Hadden benar, aku selalu sangat berinisiatif maju menghadapi Jackson, sudah saatnya untuk berhenti sejenak. Biarkan Jackson bersantai dulu, dan biarkan Jackson yang memintaku dengan sendirinya.
"Jackson, saatnya istirahat. Aku izin cari makan siang di luar." Izinku seperti Asisten normal lainnya.
"Tidak perlu, aku sudah memesankan makanan untukmu." Cegah Jackson membuatku cukup terkejut.
"Kemarilah!" Panggil Jackson padaku. Walau ragu, tapi aku tetap maju menghadapnya.
"Aku ingin kau melihat ini." Ucap Jackson dingin.
Bola mataku seakan copot dari mataku ketika melihat beberapa lembar fotoku yang Jackson lemparkan ke wajahku kasar.
Aku menatap gemetar beberapa foto mesra, seksi, atau polosku saat menggoda pria sebelumnya. Sudah kudaga, Jackson bukanlah pria sembarangan. Bagaimana mungkin aku bisa melawannya.
Aku telah terjebak, dan aku tidak lagi bisa menghindar dari masalah rumit ini.
Jackson sangat cerdik, cekatan, dia banar-benar tidak dapat dikalahkan. Lihatlah betapa mudahnya dia mengetahui semuanya. Entah sejak kapan Jackson mengetahui semua ini.
"Tidak kusangka kemampuan anak catur yang dipilih oleh Istriku begitu hebat dan di luar dugaanku. Awalnya aku tidak peduli pada semua trikmu, tapi aku harus mengakui kalau aku hampir saja terjerumus 2 kali." Ujar Jackson dengan eskpresi wajah yang sangat mengerikan. Mata tajam serta wajah kakunya, begitu menakutkan.
"Dua kali, dua kali yang mana?" Tanyaku bingung.
Jackson menghembuskan asap rokoknya ke wajahku.
__ADS_1
warning : Sebentar lagi judulnya akan berubah ya guys, judulnya Othor ganti ke Pesona pelakor: Menggoda CEO Miliarder 😍😘🤗