Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 47


__ADS_3

Keesokan paginya.


Pagi itu aku bangun kesiangan dan aku tak lagi melihat Jackson. Tentu saja, karena aku bangun sudah jam sepuluh pagi dan Jackson sudah pasti telah berangkat ke kantor.


Aku berusaha turun dari ranjang dengan menahan rasa nyeri di sekujur tubuhku. Rasanya sangat malas untuk bangun apalagi berangkat ke kantor. Tetapi aku tetap memaksakan diri untuk berangkat. Setelah selesai membersihkan diri juga bersiap-siap, aku langsung mengemudikan mobil menuju kantor.


Sesampai di kantor, kepala satpam tiba-tiba muncul, "Nona Cecilia, Tuan Jackson dan Nyonya Zea ada di ruangan Tuan Jackson. Nyonya Zea meminta Nona ke sana lebih dulu," ujar Sang Satpam memberitahuku kalau Zea datang ke kantor dan meminta aku datang ke ruangan Jackson.


Tanpa merespon Satpam itu, aku langsung berjalan ke arah ruangan Jackson dan tak sengaja mendengar mereka bertengkar di dalam ruangan.


"Kamu selingkuh dengan Asisten pribadimu! Dan kamu menginap di rumahnya tadi malam!" Teriak Zea membuat langkahku terhenti dan dengan perlahan aku tetap masuk ke dalam ruangan Jackson. Zea yang membelakangi ku belum menyadari kehadiranku.


"Beraninya kau!" kesal Jackson yang merasa sangat marah ketika menyadari Zea selama ini mengutus orang untuk mengikuti dirinya.


"Cecilia, keluarlah dulu." Titah Jackson mengusirku keluar saat aku sudah masuk ke ruangan.

__ADS_1


Zea berjalan cepat ke arahku sambil berteriak dan menangis, “Aku sudah salah karena percaya padamu!”


"Nyonya, Tu-tuan Jackson memang menginap di rumah saya. Tapi kami hanya membahas pekerjaan, kami tidak melakukan hal lebih," jelas Cecilia berkilah.


"Dasar wanita murahan!" Zea mengayunkan tangannya mau menamparku, aku menutup sisi kanan pipiku dengan telapak tangan sambil terpejam. Sesaat aku tak merasakan Zea menamparku, ternyata Jackson menahan tangan Zea, “Kamu gila, ya? Cecilia, pergilah dan beri tau juga karyawan di depan untuk bubar," titah Jackson menahan Zea yang terus berontak ingin menghajarku.


Aku segera keluar dari ruangan Jackson, menutup pintu rapat dan menyuruh semua karyawan untuk bubar.


"Dasar Pelakor tidak tahu malu!" Sindir seorang karyawan lalu Langsung pergi.


Saat ini, aku melihat dari luar pintu. Kulihat Zea memohon pada Jackson agar Andreas dibebaskan.


"Aku bisa saja membebaskan Andreas. Tapi, dengan syarat kamu harus mengakui kesalahanmu karena berselingkuh dengan Andreas dan aku akan menceraikanmu dengan tetap membiarkan PT. Samudera Raya tetap menjadi milikku. Bagaimana?" Jackson kembali bertanya hal yang sama pada saat Zea menyewaku untuk menjadi pelakor.


Zea tidak bisa berkata-kata dan kemudian berjalan menuju pintu. Jackson menahan Zea dan berkata, “Jadilah Nyonya Baldev dengan baik, jangan membuat masalah lagi.”

__ADS_1


Zea tercengang lama sekali dan pergi dalam diam. Saat berpapasan denganku.


"Kamu sudah punya buktinya sejak awal. Dan kamu tidak memberikan bukti itu padaku karena kamu melihatku dan Andreas berhubungan hari itu dan kamu ragu-ragu untuk menyerahkan bukti itu. Kamu benar-benar pengkhianat Cecilia!" Ujar Zea yang tampak menahan emosi yang begitu besar.


"Saya melakukan itu karena saya tau satu fakta yang tidak Nyonya sadari. Percayalah pada saya Nyonya, Andreas tidak tulus pada Nyonya. Dia hanya ingin memanfaatkan kekayaan Nyonya." Aku mencoba menjelaskan pada Zea kalau Andreas tidak tulus pada Zea, tapi Zea sama sekali tidak mau mendengarkan dan pergi begitu saja.


Setelah kepergian Zea, aku masuk ke dalam ruangan Jackson. Kulihat Jackson berdiri sambil memandangi gedung-gedung pencakar langit di luar sana.


"Tuan Jackson," panggilku dengan sedih.


Saat Jackson berbalik badan, aku langsung berlutut di hadapan Jackson.


"Tuan Jackson. Saya mohon lepaskan saya. Saya tidak ingin terlibat lebih dalam lagi dalam situasi yang sangat kacau ini. Bukankah Tuan sudah mendapatkan bukti untuk menekan Nyonya Zea, jadi saya mohon lepaskan saya, Tuan. Biarkan saya pergi karena tugas saya telah selesai. Saya mohon Tuan Jackson, lepaskan saya." Aku berlutut dengan menyatukan kedua telapak tangan sambil menangis, aku memohon pada Jackson untuk melepaskan diriku.


Jackson berjongkok lalu mencengkam kuat daguku. "Tidak semuda itu untuk bisa lepas dariku," jawab Jackson tersenyum sinis. Jackson melepaskanku lalu segera keluar dari ruangannya menuju ruang meeting. Aku tetap berlutut di sana sambil menumpahkan begitu banyak air mata penyesalan.

__ADS_1


Malamnya, Jackson pergi ke perjamuan di sebuah club di jalan East River. Sedangkan aku pulang ke rumah seorang diri. Ketika aku sudah sampai, aku merasa ada yang salah saat keluar dari lift.


Dan ternyata benar saja, ada sekelompok wanita yang menuju ke arahku. Rupanya Brigita yang menjadi pemimpin mereka, aku liat kepala Brigita masih dibalut perban. Brigita ingin membuat perhitungan denganku. Aku tahu sudah berada dalam masalah besar, tapi masih berusaha tenang, “Kamu tidak kapok dan masih ingin membuat perhitungan denganku?”


__ADS_2