
Brakk!
"Taun Jackson, aku tidak suka kasar, pelan-pelan saja, hem," godaku menghentikan gerakan Jackson yang sebelumnya asik ******* bibirku terburu-buru.
"Bagaimana kalau kamu yang bermain," tantang Jackson tersenyum sinis. Kini, kami telah berada di dalam kamarku di spring mansion.
"Cik! Tuan menantangku? Apa tuan lupa siapa aku?" Aku membelai rahang tegas milik Jackson, merasai bulu-bulu halus yang selama ini membuatku merasa geli setiap kali bercinta.
"Malam ini, aku pastikan akan membuat kamu kualahan, Jackson Baldev."
"Kalau begitu buktikan!" Tantang Jackson lagi.
"Tentu saja, akan aku buktikan kalau pelan-pelan itu lebih nikmat," aku memainkan dasi yang melingkar di leher Jackson. Melepaskan dasi itu dengan begitu perlahan.
"Kemarikan kedua tanganmu," pintaku langsung dituruti oleh Jackson.
"Malam ini, tangan nakal ini tidak akan berbuat apa-apa," aku mengikat kedua tangan Jackson sambil menatap Jackson menggoda. Aku lihat wajah Jackson sudah semakin memerah, aku yakin dia sudah tidak tahan.
"Baiklah, aku akan memberimu uang yang banyak kalau berhasil memuaskanku." Jawab Jackson tetap diam di tempat.
Setelah mengikat kedua tangan Jackson, aku mulai melepaskan kancing kemeja Jackson satu persatu. Aku membuka kancingnya sambil membukukan tubuhku dan mengapit kedua gundukkanku hingga separuhnya berhasil Jackson tonton.
Kini, Aku membelai kotak-kotak keras dan kuat yang berada di perut Jackson, setelah berhasil mempoloskan tubuh bagian atasnya.
Kulihat Jackson memejamkan mata menikmati.
Aku maju dan semakin maju, sedangkan Jackson mundu dan semakin mudur, saat sudah berada di samping ranjang, aku langsung mendorong Jackson hingga terbaring di ranjang dengan kedua tangan yang masih terikat.
Aku pun juga ikut naik ke atas ranjang, kemudian melepaskan ikat pinggang Jackson. Resleting itu aku buka perlahan hingga sebuah benda keras yang berdiri tegak mampu membuat nyaliku menciut seketika.
Namun, karena sudah terlanjur basah, bukankah lebih baik mandi keringat sekalian. Aku menghela nafas dalam, lalu baru membuka kain terakhir yang membungkus junior milik Jackson.
"Ya Tuhan, belum dielus saja dia sudah sebesar ini. Pantas saja milikku Sampai perih. Entah apa yang dikonsumsi pria ini, hingga memiliki junior yang begitu perkasa." Batinku sedih sambil menatap sesuatu yang kini sudah tegak berdiri menantang.
"Apa yang kamu pikirkan?" Goda Jackson yang tangannya masih terikat. "Apa takut?" Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Siapa juga yang takut sama ular bengkok begini!" Gurauku sambil menonyol pelan benda aneh itu.
"Akh! Apa kamu tidak waras?" Amuk Jackson kala merasa sedikit sakit.
"Hehehe ... Maaf, Tuan. Barusan refleks," alasanku.
"Baiklah, mari kita mulai," ucapku memposisikan tangan kiri untuk mengelus milik Jackson dengan gerakan ke bawah lalu ke atas.
Kulihat Jackson memejamkan mata menikmati, sedangkan aku semakin khawatir karena benda itu kian dielus kian membesar.
"Ah sudahlah, kelamaan ntar makin gede nih benda," Kesalku dalam hati dan langsung melepaskan benda itu.
Kulihat Jackson membuka mata, aku yakin dia akan protes karena belum sampai menuju puncak Himalaya.
"Ssssttt ...." Aku menutup mulut Jackson dengan jari telunjuk, lalu aku naik ke atas tubuh Jackson, menggesekkan bokongku dengan miliknya. Aku membelai perlahan dada bidang Jackson yang begitu kekar.
"Sampai kapan akan terus begini?" Tanya Jackson tak sabaran.
"Sampai Tuan berjanji tidak akan melakukannya dengan kasar lagi," jawabku langsung mengalihkan pandangan tak ingin melihat ekspresi marah dari Jackson.
Dengan sekali gerakan Jackson membalikkan badanku hingga kini, aku kembali berada di bawah kukungan Jackson.
"Jackson, pelan-pelan saja," pintaku mengiba.
"Kamu yang memilih," jawab Jackson setidaknya membuatku tenang.
Dengan perlahan namun pasti, Jackson melepaskan semua benang yang melekat di tubuhku hingga kami sama-sama polos. Jackson memandangku lama kemudian mulai merem*s gundukkanku yang menggodanya.
Puas merem*snya, Jackson beralih menghis*p dan mengig*t lembut chocochip milikku.
"Aahhh, ge-geli, Jackk ...." Erangku karena menikmati.
"Geli apa enak?" Tanya Jackson bercanda tapi masih tetap dengan wajah dinginnya. Aku menghindari tatapan Jackson karena malu.
"Hemmm ...." Aku tak dapat menahan segala kenikmatan kala Jackson mengusap lembut bagian intiku di bawah sana.
__ADS_1
"Aaaakh! Jack, Hem," Jackson menyusupkan salah satu jarinya membuatku melayang terbang di udara.
Kulihat Jackson tersenyum penuh kemenangan setelah puas melihatku tak beradaya dalam genggamannya.
"Kita akhiri permainan ini," ujar Jackson mulai menyatukan miliknya dan milikku.
"Ahhh pelan-pelan sa-saja ...." Pintaku saat kami telah menyatu menjadi satu.
Aku terus mengeluarkan suara erotis seirama dengan gerakkan Jackson. Entah sudah berapa kali pelepasan, dan entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Hingga akhirnya, Jackson mau menghentikan permainan setelah aku merengek kesakitan.
Hufff ....
Aku bernapas lega setelah Jackson turun dari ranjang dan memakai kembali celananya. Aku meraih selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.
Jackson kembali naik ke atas ranjang dengan membawa rokok. Jackson yang masih setengah telanjang mulai merokok dengan khidmat. Aku beranjak ke atas badan Jackson dan berkata manja, “Jackson .…”
Jackson menatapku dengan wajah datar sambil menutup muluttku dengan jari telunjuk. Zea menelepon Jackson saat itu, aku dengar Zea ingin meminta Jackson membantu Andreas, Jackson diam.
"Kalau kamu tidak mau membantu membebaskan Andreas, maka jangan harap kamu bisa tenang berselingkuh dengan Cecilia. Cecilia sedang seranjang denganmu bukan?" Ancam Zea membuat Jackson menutup telepon sepihak.
Saat ini ada telepon lain yang masuk, Jackson langsung mengangkatnya. "Hallo ada apa?" Tanya Jackson singkat.
"Tuan, berita berselingkuh antara Tuan dan Nona Cecilia di acara amal telah sampai ke media hingga viral." Aku mendengar ucapan bawahan Jackson dan kulihat Jackson mengepalkan tangan erat setelah selesai bicara.
"Cecilia , kamu ingin aku malu? Simpan saja trikmu itu!" Bentak Jackson membuat napasku jadi tidak teratur.
"Kamu kira aku bersedia begitu? Apakah sangat membanggakan dengan jadi simpananmu, Tuan Jackson? Kamu terhormat dan punya istri, sedangkan aku dikurung olehmu di Spring Mansion ini, apa aku tidak bisa malu? Apa kamu kira aku senang dan bahagia hidup seperti ini? Aku lebih memilih hidup miskin daripada hidup tapi menjadi budak nafsumu. Apa kamu mengira aku senang diperlakukan kasar olehmu, apa kamu kira aku tidak sakit!" Aku lepas kendali hingga tanpa sadar berteriak pada Jackson.
Aku menundukkan wajah dengan tangisan pilu setelah sadar kalau aku telah membentak seorang Jackson Baldev. Jackson terus menatapku, lalu segera pergi ke kamar mandi meninggalkanku seorang diri.
Jackson selesai mandi dan pergi ke ruang tamu untuk mengurus dokumen. Sedangkan aku sengaja berdandan tipis di dalam kamar, seakan sudah melupakan maslaah sebelumnya.
Aku pergi mencari Jackson dan ada pria lain di ruang tamu. Mereka sedang membahas masalah aib di acara amal itu.
__ADS_1
Aku memang sengaja bertindak begitu agar terbongkar kalau aku adalah simpanan Jackson. Agar pernikahan Jackson dan Zea dalam masalah. Ini dapat menjadi kelemahan Jackson bagi Hadden. Dengan begitu Hadden bisa membantuku pergi jauh dari Jackson.