
"Jangan bunuh aku, jangan ... Jangan bunuh anakku! Tolong!"
"Astaga, Sayang," panggil Jackson langsung membangunkan Nata dengan cepat.
"Jackson!" Teriak Nata yang yang langsung duduk dan refleks menghamburkan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Jackson.
"Kamu mimpi buruk?" Tanya Jackson membalas pelukan erat Nata.
"Aku takut, Jackson."
"Tenanglah, tidak usah takut lagi. Sekarang ada aku di sini," bujuk Jackson melonggarkan pelukannya. Jackson mengulurkan salah satu tangannya, meraih gelas di atas nakas.
"Minumlah dulu," Jeckson membantu Nata meneguk air putih agar Nata sedikit merasa tenang.
"Sudah, tenanglah ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu," tutur Jackson seraya menyeka perlahan air mata Nata.
Nata menghela napas, hingga rasa takutannya mulai menghilang. "Apa sudah lebih baik?" Tanya Jackson dan Nata mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Naiklah ke punggungku," titah Jackson membelakangi Nata.
"Buat apa?" Tanya Nata bingung.
"Makan siang, sayang," jawab Jackson memutar setengah kepalanya.
"Aku mau jalan sendiri saja," tolak Nata memilih turun sendiri dari ranjang.
Jackson pun urung menggendong Nata, dia lebih memilih untuk menuruti apa pun keinginan Nata, termasuk berjalan sendiri. Tapi, tentu saja dia tetap memapah Nata dan tampak begitu perhatian dalam menjaga Nata serta calon bayinya.
Setelah usai makan siang. Jackson kembali akan membawa Nata ke kamar untuk istirahat. Namun, Nata menolak dengan alasan takut akan kembali bermimpi buruk. Nata malah mengajak Jackson untuk membawanya melihat sunset. Padahal jelas-jelas waktu masih menunjukkan pukul 13:50
"Aku mau sekarang, Jackson," jawab Nata keukeuh.
"Ini masih sangat siang, Sayang. Sunset masih lama baru akan muncul. Yasudah, sekarang kita nonton film dulu, sore nanti kita akan ke pantai untuk melihat sunset seperti yang kamu inginkan," jelas Jackson memberikan solusi.
"Aku mau ke sana sekarang Jackson! Aku hanya menginginkan itu kenapa sulit sekali mendapatkannya. Baru saja beberapa jam yang lalu kamu mengatakan akan melakukan apa pun yang aku inginkan. Tapi, sekarang kamu sudah melupakan janjimu sendiri!" Nata menghentakan salah satu ke lantai lalu pergi dari hadapan Jackson.
__ADS_1
"Tunggu, Sayang," cegat Jackson.
"Baiklah, kita ke pantai sekarang. Tunggu di sini sebentar. Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan tempatnya."
Jackson segera pergi entah ke mana, sedangkan Nata yang ditinggal tampak bingung. Nata pun segera duduk di sofa, tak lama kemudian Nata pun terlelap tanpa dia sadari.
"Astaga," ingin sekali Jackson mengumpat. Namun, urung dia lakukan kala melihat wajah tenang, polos serta imut Nata ketika terlelap.
"Baguslah kalau kamu tidur, Sayang. Setidaknya tidak jadi kepanasan karena melihat matahari di siang bolong," gumam Jackson langsung mengangkat Nata dengan begitu perlahan untuk di bawa ke kamar.
***
"Kenapa tidak membangunkan aku!" Bentak Nata murka, karena terbangun haru sudah mulai gelap.
"Tidak mungkin aku tega membangunkan kamu, sayang," jawab Jackson mencoba untuk tetap sabar.
"Terserah, aku tidak mau bicara padamu lagi!' sentak Nata kembali menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Ayolah, sayang. Kita masih lama bulan madu di pulau ini, pantainya tidak akan pergi ke mana-mana. Besok, besok aku berjanji akan membawamu melihat sunrise. Kali ini aku akan membangunkanmu walau kamu sedang tertidur nyenyak. Aku berjanji," ucap Jackson berusaha membujuk Nata yang masih tak bergerak di dalam selimutnya.
Tak ada sautan dari Sang Istri, Jackson pun tersenyum licik, lalu naik ke atas ranjang. "Kalau tidak menjawab, diam-mu akan aku artikan sebagai ajakan bermain di atas ranjang," goda Jackson....