
"Bukannya kamu masih libur hari ini, Sayang?" Tanya Nata yang kini melahap sarapannya.
"Ada urusan mendadak, Sayang. Tapi, aku nggak akan lama kok, siangnya juga akan pulang. Bukankah Paman Hadden dan Bibi Nasa akan pulang hari ini," tutur Jackson yang juga sedang melahap sarapannya pagi itu.
"Oh iya, aku hampir melupakannya. Nanti aku akan menyiapkan makanan yang spesial untuk menyambut mereka," saut Nata antusias
"Tidak perlu, Sayang. Kamu dan kandungan kamu harus istirahat dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan apa pun itu. Biar para pelayan yang bertanggung jawab soal makanan," tentang Jackson.
"Tapi aku—"
"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah." Nata tidak dapat membantah dan hanya mengerutkan bibirnya tanda merajuk.
"Dia tidak ingin aku kelelahan, lalu semalam apaan," gumam Nata terdengar oleh Jackson.
"Kamu bicara apa, Sayang?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apa pun. Kamu cepatlah habiskan sarapanmu, sudah mau siang, jangan sampai Kabut terlambat tiba di sekolahnya," ujar Nata mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Jackson menatap Kabut yang beru saja selesai sarapan. Jackson pun menyingkirkan piringnya yang belum habis isinya. "Kok nggak habis?" Tanya Nata.
"Sudah kenyang, Sayang. Aku buru-buru, aku dan kabut berangkat dulu, ya. Kamu hati-hati di rumah. Ingat pesanku tadi, jangan menginjakan kakimu di dapur. Kalau butuh apa-apa panggil saja pelayan," Jackson mencium kening Nata setelahnya tak lupa mencium perut serta menggelus pelan perut Nata yang kini sudah sangat membulat.
"Kamu juga hati-hati di jalan."
"Mommy Nata, Kabut juga berangkat," izin Kabut berdiri dari kursinya.
"Hati-hati, Sayang. Belajar yang rajin," pesan Nata sambil melambaikan tangannya kepada Kabut juga Jackson.
Setelah kepergian kedua pria itu, kini Nata telah duduk di ruang keluarga sambil menonton film ditemani dengan secangkir teh hangat juga cemilan manis.
Nata berdiri, ingin ke dapur untuk mengambil buah-buahan yang ingin dia makan. Tapi, pesan Jackson yang melarangnya ke dapur, seketika menghentikan langkah kakinya. Nata pun berbalik arah menuju ke kamar. Tak lupa Nata juga meminta pelayan untuk mengambilkannya buah.
***
Di PT Samudera Raya....
__ADS_1
"Daddy Jack, kenapa Daddy membawaku ke tempat ini?" Tanya Kabut yang kini mengekor di belakang Jackson kala memasuki sebuah ruangan tersembunyi yang begitu luasnya.
"Ikut saja," jawab Jackson menghidupkan lampu. Perjalanan pun kembali dimulai, melewati lorong demi lorong hingga tiba di sebuah ruangan yang begitu ramai orang di dalamnya. Kabut tercengang kala melihat banyaknya komputer berukuran kecil hingga besar dengan tombol yang Kabut belum ketahui fungsinya.
"Kenapa Daddy Jack membawaku ke ruangan sistem pengaman PT Samudera Raya?" Batin Kabut heran.
"Kalian semua boleh keluar dari ruangan ini!" Titah Jackson dan semua karyawan itu pun berangsur keluar dengan begitu banyak pertanyaan di kepala mereka, tentang siapa anak kecil yang di bawa oleh Tuannya itu.
Setelah ruangan telah sepi, Jackson pun meminta Kabut untuk duduk di sebuah kursi besar di sana. Kabut diam dan bingung, namun dia tetap patuh megikuti apa yang Jackson perintahkan untuknya.
"Cobalah," ujar Jackson yang melihat raut wajah Kabut yang tampak begitu bahagia melihat semua benda yang ada dihadapannya kini. Dari raut wajah bahagianya, Jackson melihat rasa keingintahuan yang begitu besar di wajah tampan dan misterius Kabut.
"Daddy Jack serius?" Tanya Kabut dengan mata berbinar tak sabar.
"Serius, cobalah," kata Jackson mengizinkan dan Kabut pun mulai memencet tombol-tombol yang ada dihadapannya dengan begitu cepat.
"Apa yang kau temukan?" Tanya Jackson serius.
__ADS_1
"Sesuatu yang luar biasa," jawab Kabut membuat Jackson penasaran.