
71
DOR!
"Aaakhh!" Cecilia berteriak—kala mobil tiba-tiba mengerem mendadak, karena di depan sana tampak dua mobil sport berwarna merah menghadang. Terlambat mengeram sedikit saja, maka tabrakan besar akan terjadi.
Aku tersentak ke kursi depan, sedangkan Cecilia juga terguling ke depan. Aku segera menyelamatkan Cecilia, aku panik sekaligus khawatir karena Cecilia sudah tidak sadarkan diri. Aku langsung melihat ke bawah, dan aku merasa sangat lega karena tidak menemukan darah. Itu artinya, kandungannya baik-baik saja.
DOR!
Syukur tak bisa lagi aku ucapkan, saat musuh mulai menembak badan mobil. Masih beruntung karena bady mobil yang terbuat dari bahan anti peluru. Hingga peluru mereka tidak bisa menembusnya. Dalam keadaan darurat begini, aku tidak bisa berbuat banyak selain menyerahkan diri.
"Jaga Cecilia dengan baik, lihat aba-aba dariku. Begitu ada kesempatan bawa Cecilia kabur. Apa kau mengerti?" Ucapku pada Supir sekaligus pengawalku.
"Ta-tapi, Tu-tuan—"
"Cecilia adalah perempuan yang paling berharga dalam hidupku. Dan Putra yang kini dia kandung adalah darah dagingku. Aku mohon kepadamu, Alex. Selamatkan Nyonya dan Tuan mudamu dengan nyawamu," ucapku tegas.
"Baik, Tuan. Saya pasti akan menjalankan amanah Tuan dengan baik. Berhati-hatilah Tuan." Pesan Alex.
__ADS_1
Aku membuka pintu mobil dengan cepat, aku keluar dari mobil sambil mengangkat tangan. Beberapa anak buah Andreas menodongkan senjata M-16 kepadaku. Aku melemparkan pistolku dan kembali mengangkat tangan.
Kini, kami berada di jalan yang sisi kiri dan kanannya di kelilingi pantai dan hutan berjurang curam.
"Hallo, Jackson. Apa kabar? Aku suka melihatmu mengangkat tangan dengan raut wajah ketakutan serta tak berdaya," sapa Andreas yang keluar dari kerumunan anggotanya. Kira-kira ada 20 anggota yang bertubuh kekar lengkap dengan senjata di tangan mereka. Kali ini, aku benar-benar tertangkap basah dan tidak bisa menghindar.
"Apa yang kau inginkan?"
"Tidak banyak, setidaknya aku tidak menginginkan nyawamu. Aku hanya ingin 55% saham PT. Samudera Raya," jawab Andreas turut menodongkan pistolnya tepat ke arah kepalaku.
"Jangan mimpi!" Sekejab mata aku berhasil merebut salah-satu senjata M-16 milik anggota Andreas.
DOR!
Semua anggota Andreas berfokus kepadaku. Saat itu juga, Supirku tancap gas membawa pergi Cecilia agar aman dan meninggalkanku seorang diri.
Baku hantam dengan saling tembak menembak jarak dekat pun terjadi. Satu lawan 20, bukan masalah besar bagiku.
Aku memukul, menendang, dan memberikan tembakkan pada musuh yang semuanya menyerangku tiada henti. Beberapa dapat aku lumpuhkan dengan mudah. Aku terus menghindari peluru jarak dekat yang mereka arahkan. Tapi, mereka bukanlah lawanku. 10 anggota lumpuh dalam kurun waktu tidak sampai satu menit.
__ADS_1
10 musuh tersisa, mereka terus memberikan hujan senjata, aku berlari menuju mobil mereka, menjadikan mobil itu sebagai temeng menghindari senjata.
Saat terus diserang tiada henti, mata tajamku menangkap Andreas yang ingin kabur. Aku membidik tepat mengenai kedua bahu Andreas.
Walau aku juga terkana luka tembak di bagian kaki. Tapi, Aku tetap puas melihat Andreas yang terbujur lemah tak berdaya di aspal jalan dengan luka berat.
Walau berjalan pincang dan menahan sakit di kaki. Tapi, aku tetap melawan para musuh hingga mereka tumbang satu persatu. Tak berselang lama, para anggotaku akhirnya tiba dan langsung melumpuhkan beberapa musuh. Dua diantara membantuku berjalan.
Mereka membawaku ke dalam mobil. Sedangkan yang lainnya tetap di sana untuk menghilangkan jejak dan menangkap beberapa musuh yang masih hidup.
Salah satu anggota yang mengerti ilmu medis mulai memberikan pertolongan pertama padaku. Aku menahan sakit yang luar biasa kala mereka mengeluarkan peluru yang tertancap di kakiku.
Begitu selesai, mereka membalut lukaku dengan perban. "Cepat lacak di mana keberadaan Alex sekarang. Cecilia bersamanya!" Titahku.
"Baik, Tuan." Jawab mereka langsung melecak di mana Cecilia sekarang.
"Di jalan mawar, Tuan."
"Kita ke sana sekarang juga," ujarku cepat.
__ADS_1
"Baik, Tuan."