
Aku duduk disalah satu kursi di ruangan itu sambil menunggu kedatangan Andreas. Andreas memang tidak terlambat, tapi aku sendiri yang datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang telah disepakati.
10 menit menunggu, barulah Andreas menampakkan batang hidungnya.
"Maaf, Nona Sesil. Sepertinya aku terlambat," sapa Andreas yang baru memasuki ruangan.
"Tuan Andreas tidak terlambat. Tapi aku-lah yang datang lebih awal." Jelasku. "Silahkan duduk, Tuan." Ucapku mempersilahkannya dengan sopan kepalsuan.
"Terima kasih, Nona Sesil." Jawabnya tersenyum palsu.
"Jadi, ada hal penting apa yang ingin Tuan Andreas katakan kepadaku hingga mengajak aku makan malam secara pribadi?" Tanyaku to the point segera memulai perbincangan.
"Aku ingin mengajak Nona Cecilia bekerja sama denganku untuk menjatuhkan Jackson, aku akan memberikan Nona Cecilia 10 unit rumah yang bisa Nona pilih di mana saja." Jawabnya cepat.
Aku tidak terkejut sama sekali dengan tawarannya, karena aku sudah menebak sendiri apa yang dia inginkan dariku.
"Tuan, Tuan Andreas. Andaikan Tuan tau kalau aku, Cecelia Humeera telah menjatuhkan hatiku, cintku, serta pilihanku untuk Tuan Jackson sepenuhnya. Apakah Tuan akan berani mengajakku untuk bekerja sama." Batinku berkata. Tidak mungkin aku mengkhiati seseorang yang kini namanya terukir didalam hatiku. Hanya Jackson, pria pertama yang mampu membuatku melupakan misi dan melupakan apa yang ingin aku capai sebelumnya.
Dia berani mengancam seorang palakor sepertiku. Dia pintar aku juga tidak kalah pintar, kita lihat siapa yang akan terjebak oleh siapa.
Aku sengaja menunjukkan pertunjukan yang sangat luar biasa, aku tidak takut sama sekali, tapi juga tidak menerimanya dengan tenang, melainkan menggetarkan jemariku—guna menunjukkan ekspresi ketakutan kepadanya, sehingga membuat Andreas merasa diriku adalah perempuan yang mudah dikendalikan.
"A-apa Tuan serius dengan perkataan Tuan? Apakah Tuan tidak sedang berbohong? 10 rumah setidaknya bernilai puluhan miliar, Tuan tidak sedang bercanda bukan?" Tanyaku berpura-pura ketakutan serta tergiur dengan tawaranya.
"Saya bersumpah kalau apa yang saya katakan barusan adalah kejujuran, dan saya memang tidak akan berbohong kepada Nona. Saya memang akan memberikan 10 unit rumah mewah, dengan syarat Nona mau bekerja sama dengan saya." Jelas Andreas lagi.
"Sa-saya setuju, Tuan. Saya sangat setuju untuk bekerja sama dengan Tuan Andreas. Saya akan melakukan apa pun yang Tuan Andreas inginkan." Jawabku berpura-pura yakin untuk menerima tawarannya.
Setelah negosiasi mencapai kesepakatan, aku dan Andreas segera pulang ke rumah masing-masing. Aku membiarkannya pergi lebih dulu. Setelah merasa Andreas benar-benar pergi. Barulah aku kembali masuk ke restoran, dan masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan ruangan saat aku makan malam dengan Andreas tadi.
Masuk ke ruangan, aku langsung dapat melihat Hadden yang sedang melihat ikan koi yang berenang ke sana kemari di dalam kolam.
__ADS_1
Tujuanku adalah supaya Hadden mendengar sendiri dengan jelas ketamakan Andreas agar Hadden melawan Andreas.
"Apa Nona Sesil tahu kenapa aku tidak turun tangan terhadap Andreas?" Tanya Hadden membuatku mengerutkan dahi.
"Karena PT. Samudera Raya perlu keseimbangan, jika Andreas diusir, maka tangan-tangan yang mengarah padaku akan jadi sangat besar. Jika Andreas jatuh, maka Jackson akan segera berhadapan secara langsung denganku," Jelas Hadden.
"Kalau misalnya suatu hari Jackson harus turun dari posisinya sekarang, apa Nona bersedia kalau orang itu aku?" Sambungnya dengan bertanya padaku akan kesetiaan.
"Kurasa Tuan Hadden lebih bisa diandalkan daripada Andreas." Jawabku memilihnya, tapi jelas aku akan lebih memilih Jackson. Hadden dan Andreas tidak satu pun dari kalian berdua yang akan aku pilih.
"Lalu, apa tujuannya dengan kejadian hari ini?" Tanyanya.
"Hanya demi Jackson," jawabku santai. kalau Andreas mau turun tangan, Jackson tidak akan bisa Menghadapinya dengan mudah. Jadi, kenapa tidak meminta Hadden yang turun tangan menangani Andreas.
Hadden menasehatiku "Kurasa kamu sebaiknya mengontrol diri, yang namanya perasaan gampang berubah."
"Tuan Hadden, dalam puluhan kasus, aku tidak pernah gagal." Jawabku percaya diri.
Aku melompat ke pelukannya dan memeluknya erat.
"Jeckson, aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu." Aku benar-bemar telah kehilangan akal, aku tidak lagi dapat menahan rasa ini terlalu lama. Jackson, pria pertama yang rela dengan sengaja aku cium, aku peluk, bahkan aku rela bila dia mengingnkanku saat ini juga. Sebesar itulah rasa cintaku padanya. Sulit, sangat sulit untuk menolak pesonanya. Dia pria pertama yang mampu meluluhkan hatiku. Pantas tidak pantas, yang pasti aku menginginkannya dan aku harus mendapatkannya.
Aku memeluknya sangat erat, tubuhku dan tubuh Jackson berdempetan.
"Aku bahkan menerima tawaran Andreas yang menyuapku agar mau bekerja sama dengannya. Aku berpura-pura setuju demi kamu, aku juga membawa serta Hadden, aku membiarkan Hadden mendengar pembicaraanku dan Andreas. Aku ingin Hadden tau ketamakan Andreas, aku ingin membaut Hadden dan Andreas saling menjatuhkan dan mereka berdua akan hancur tanpa campur tangan darimu. Dan aku melakukan semua hal ini untukmu. Aku hanya ingin melihatmu jatuh dari puncak untukku, pakaian yang kusut, dan kecanduan terhadapku." Jelasku detail sambil terus memeluknya dan menggerakkan tubuhku membuat kesan imut.
Jackson menahan pinggulku, "Jangan gosok-gosok,"
Aku pura-pura polos, "Gosok mana?" Tanyaku dengan wajah menggoda.
Jackson melepaskanku, lalu menarik dasi dan membuangnya ke lantai. Kemudian mengambil jas dan berjalan keluar.
__ADS_1
Setelahnya, Jackson pergi dinas bersama dengan tim survei perkotaan untuk melakukan penelitian dana dan pasar pada kantor pusat dan cabang PT. Samudera Raya. Mereka bolak-balik di 2 kota, sekretaris Clara yang ikut serta sama sekali tidak punya kesempatan bertemu Jackson.
Kontrol diri Jackson terhadap godaan ***** sungguh menakjubkan, jika membiarkannya istirahat untuk waktu lama, pasti akan sulit membuatnya terjatuh lagi di tempat yang sama.
Aku menelpon sekretaris Clara, sekretaris Clara memberitahuku kalau Jackson akan membawa tim survei ke Osteria Restaurant malam ini.
Aku sengaja berdandan cantik, aku bahkan mengeluarkan gaunku yang paling menawan dan seksi pastinya. Tubuhku sempurna benar-bemar aku pamerkan demi Jackson. Aku tidak akan melepaskannya kali ini. Hgh heels setinggi 7 cm membuat penampilanku sangat-sangat sempurna. Tidak ada gadis lain di kota ini yang dapat menandingi kecantikan serta keseksuan tubuhku.
Tiba di Ostereria Restaurant, aku mendorong pintu ruangan, Jackson sudah agak mabuk saat ini.
Mata para pria yang berada di dalam ruangan tertuju padaku. Mereka sedang menebak siapa yang mengatur ini.
Salah satu pria yang sudah terpancing nafsunya berkata sambil merokok. "Cewek secantik ini diundang Tuan Jackson ya?"
Yang satunya lagi, "Tuan Jackson tau aja."
Jackson tidak tertarik untuk makan bersama dengan orang-orang ini, rasa mabuk di matanya sudah menghilang saat ini. Tatapan matanya yang tajam seolah-olah menusuk kulit dan dagingku.
Itu jelas, karena Jackson belum pernah melihatku yang seperti ini, anggun, elegan, menawan, kecantikannya seolah ingin melahap jiwa orang.
Aku berjalan kesana, lalu sedikit membungkuk untuk berbicara di telinganya, "Tuan Jackson, apa aku tidak diperkenalkan?"
Jackson tidak berbicara, dan sama sekali tidak menanggapi bisikkanku, dia tetap menatapku.
Hingga pada akhirnya aku memperkenalkan diriku sendiri, "Saya asisten Tuan Jackson, panggil saja Sesil.”
“Sisil?” seorang pria mendekat.
Jari Sesil mencolek jari pria itu dengan pelan: “Cecilia.”
Raut wajah Jackson sudah semakin tidak enak dilihat.
__ADS_1