Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Apa bosan?" Jackson selesai mengeringkan rambut Nata, dia segera duduk di samping Nata yang masih asik melahap makananya.


"Sedikit bosan, tapi lebih bosan kalau hanya di Mansion. Di Pulau ini tidak buruk juga, asal tidak di kamar terus," jawab Nata dengan mulut penuhnya.


"Kita sudah mencoba di ruang tamu dan kamar mandi. Tidak hanya di kamar, sayang, gaya yang kita gunakan juga berbeda-beda. Nanti kita coba lagi di dapur dan tempat lainnya," jawab Jackson menyeka sisa makanan yang menempel di bibir Nata.


"Bukan tempatnya yang membuatku bosan. Di kamar juga sudah oke, aku merasa tidak aman bila melakukannya di tempat yang aneh-aneh," jawab Nata tak ingin menatap wajah Jackson karena malu.


"Jadi, maksudnya kamu ingin jalan-jalan?" Jackson bertanya sambil membelai wajah Nata dengan penuh kelembutan.


"Hu'um, kita berlibur ke pulau tapi hanya di rumah saja, kan bosan," keluh Nata sambil mencebikan bibirnya membuat Jackson gemes dan pada akhirnya mencium bibir Nata dengan penuh kelembutan.


Jackson melepaskan Nata ketika melihat Nata yang hampir kehabisan napas. "Habiskan sarapanmu, setelah ini kita akan jalan-jalan," Nata langsung mencium balik bibir Jackson, saking gembiranya mendengar perkataan Jackson yang akan membawanya jalan-jalan walau dia sendiri tidak tau akan dibawa ke mana.


***

__ADS_1


"Ayo masuk Sayang," ajak Jackson kala Nata malah berhenti berjalan.


"Kenapa malah ke sini?" Tanya Nata tak suka mendengar suara tembakan pistol kala para pengawal berlatih menembak.


"Ini adalah tempat favorit kita dulu dah kamu sangat menyukai menembak. Aku harap kamu dapat mengingat sedikit kisah di masa lalu."


"Benarkah apa yang kamu katakan? berarti dulu aku bisa menembak?" Tanya Nata seakan tak percaya. Memegang pistol saja dia merasa begitu berat, apakah benar dirinya bisa menembak.


"Bukan hanya bisa, bahkan kamu pandai membidik tepat sasaran di usia 6 tahun," jelas Jackson mencoba mengingatkan Nata.


"Ayo masuk dan kamu coba dulu. Meski otak dan pikiranmu tidak bisa mengingat kejadian di masa lalu, aku sangat yakin hatimu tidak mungkin melupakan masa lalu. Lihatlah, dari kecil hingga dewasa kamu tetap bisa mencintaiku. Itu artinya hatimu tidak dapat melupakan, hanya saja kamu perlu waktu. Dan ini saatnya kamu berlatih untuk mengingat semuanya, aku akan selalu menemanimu," tutur Jackson mampu membuat Nata yakin dan segera masuk ke arena tembak menembak dengan suara bising yang memekakkan telinga.


"Baiklah, aku akan mencobanya!" Tegas Nata mencoba memberanikan diri.


"Akh!" Jeritnya ketika ada seseorang yang menembak di sampingnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ayo," Jackson menggandeng tangan Nata.


"Selamat datang Tuan Jackson dan Nona Nata," sapa seorang pengawal yang Nata yakini adalah ketua dari mereka semua.


"Kalian semua pergi ke tebing, menembak akan dilanjutkan nanti," tegas ketua pengawal itu membuat pengawal lainnya pergi.


"Silahkan Tuan, saya akan membawa para pengawal lainnya untuk berlatih mendaki tebing ," ujar pengawal itu membungkuk di hadapan Jackson dan Nata.


"Bagus," jawab Jackson singkat.


"Kenapa mereka semua pergi? Apa kamu mengusirnya?" Tanya Nata heran.


"Apa kamu mendengar aku mengusir mereka?" Tanya balik Jackson.


"Kita ke sini untuk menembak agar aku mengingat masa lalu. Kamu jangan macam-macam!" Tegas Nata menebak isi pikiran Jackson.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mana mungkin kita kuda-kudaan di sini," jawab Jackson menahan tawa. Jelas dia tidak memikirkan hal itu sama sekali. Karena Nata yang mengatakan itu, dia pun terpaksa membayangkan hal yang seharusnya tidak dibayangkan.


__ADS_2