Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 72


__ADS_3

"Tidak, ini tidak mungkin," aku sangat tidak percaya hal yang paling aku takutkan benar terjadi. Ceciliaku, Ceciliaku pergi. Ke mana dia sekarang? Tidak, ini tidak mungkin terjadi bukan? Bagaimana mungkin dia pergi.


Aku seoarang pria yang tangguh dan kuat, tapi kini, semuanya sirna. Saat seorang wanita paling berharga dalam hidupku pergi meninggalkanku. Mataku mulai memanas, hidungku terasa penuh. Hingga pada akhirnya aku menangis, menangisi wanitaku tercinta yang telah tiada sebelum aku mengucapkan kata cinta kepadanya. Dia pergi sebelum aku mengatakan segala isi hatiku kepadanya. Dia pergi sebelum aku mengucapkan kata maaf, dia pergi sebelum aku menikahinya, dia pergi membawa Putraku.


Tidak, dia tidak mungkin pergi. Pasti Peter atau Zea yang sudah menculiknya. Aku tidak akan memberikan mereka hidup lama bila berani menyentuh Cecilia. Aku tidak akan memberi ampun kepada mereka.


Aku terjatuh ke aspal tepat dihadapan mobilku yang didalamnya terdapat mayat Alex yang bersimpuh darah dengan luka tembak di perutnya. kakiku seakan melemas tak dapat menahan beban akan sakitnya kehilangan orang yang dicintai.


Aku berdiri, berjalan ke arah mobil dengan posisi melintang itu walau terseok-seok karena luka di kakiku. Membuka pintu kursi penumpang begian belakang dengan cepat. Hanya tersisa masker, tapi dan kacamata yang berubah menjadi warna merah karena telah berlumuran oleh darah segar.


Aku menangis histeris kala melihat dengan mata kepalaku sendiri lautan darah di kursi tempat Cecilia duduk. Darah kental yang masih baru itu begitu banyak hingga mengucur ke bawah.


Aku tak dapat menahan sakitnya kehilangan, hanya ada dua kemungkinan akan darah itu. Darah Cecilia yang dihabisi atau darah Cecilia yang keguguran. Memikirkan hal itu, penyelesalan dalam hidupku kian bertambah. Apalagi saat mengingat begitu banyak penderitaan yang aku berikan kepadanya. Aku menyesal, aku sangat menyesal.


"Maaf, Tuan. Kita harus cepat membereskan tempat ini."

__ADS_1


Salah seorang anggotaku berkata, aku kembali berdiri. Mereka membantuku, namum aku menepis. Aku hanya perlu waktu untuk menyembuhkan luka di kakiku, menyusun rencana yang matang. Lalu membunuh Peter Zea, dan Andreas. Mereka bertiga harus mati di tanganku.


***


Beberapa hari kemudian, luka di kakiku mulai membaik. Aku dan anggota lain mulai menyusun rencana untuk menyerang Peter.


"Tuan, ada berita penting yang ingin saya sampaikan," kata salah satu pengawalku.


"Ada apa? Katakan," sautku penasaran.


Yang membuatku kaget adalah kabar meninggalnya Zea.


"Apa kau bercanda?" Tanyaku antusias.


"Tidak, Tuan. Ini bener terjadi. Polisi juga telah menyerahkan jasad Nyonya Zea kepada Peter. Dan saat ini polisi tangah mencari keberadaan Andreas," jelasnya lagi.

__ADS_1


"Andreas aman bukan?"


"Aman, Tuan. Kami menguburkannya di ruang bawah tanah."


"Bagus. Lalu, bagaimana keadaan Peter setelah mengetahui Zea dibunuh oleh Andreas?"


"Terlihat sedih. Tapi—"


"Tapi apa?"


"Tapi tidak tulus, Tuan. Peter tidak terlihat seperti seseorang Ayah yang sedih ditinggal anaknya, sepertinya Peter tidaklah menyayangi Zea," jawab pengawalku yakin.


Ini mencurigakan. Apa yang sebenarnya Peter rencanakan? Apa pun itu, yang pasti tujuanku hanya satu. Yaitu merebut kembali Cecilia dan membalaskan dendam atas kepergian Cecilia. Andreas dan Zea beres. Yang terakhir adalah Peter. Dia harus mati ditanganku.


"Oh iya, apa kalian sudah mendapatkan kabar tentang Hadden?"

__ADS_1


__ADS_2