Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 09


__ADS_3

Aku tertegun selama beberapa detik, barulah paham apa yang dikatakan Jackson. Saat itu juga aku segera mengerti kalau Jackson barusan bukannya tidak tergerak, tapi hanya saja dia pandai menahan diri.


Aku segera beranjak kembali seperti seekor kucing, berjongkok di hadapan Jackson dan memberitahu Jackson.


"Jackson, aku tidak hanya terlihat cantik, tapi juga lebih cantik lagi kalau disentuh." Ucapku menggodanya.


"Menurut mu, mana yang lebih bagus. Bibir atau tangan?" Tanyaku berjongkok didapannya yang kini tengah duduk di kuris kebesaraannya. Aku menanyakan hal itu sambil menengadah menatap wajahnya dengan ekspresi menggoda.


Tak lupa aku juga mengatakan sederetan kata yang suka didengar pria.


"kamu adalah pria pertama yang memelukku di dalam air, aku tidak pernah pacaran dengan pria lain sebelumnya. Dan aku juga tidak pernah memeluk pria karena kehilangan kendali seperti saat di dalam kolam renang. Bahkan, ciuaman pertamaku juga durengut olehmu ketika kita di dalam mobil. Apa kamu masih ingin meragukan kesucianku." Ucapku lalu mengelus tanganya yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus yang akan terasa geli-geli nikmat bila tersentuh ke kulit ku.


Kemudian, aku beranjak memainkan cincin pernikahan di jari manis Jackson.


"Menurutmu kenapa jari manis menjadi tempat terikatnya janji suci pernikahan?" Tanyaku kembali menatap Jackson yang kini juga menatapku.


Jackson tidak menjawabku, dia tampak memejamkan matanya menikmati ketika aku menyentuh dada bidangnya yang masih terbalut kemeja.


"Apa jawabannya? Aku tau kau sudah pasti tau jawabnnya?" Tanya Jackson ternyata menanggapi perkataanku. Hanya saja waktu loadingnya cukup lama.


Sebelum menjawabnya, aku menyusupkan tanganku ke dalam kemejanya lalu mengelus dada bidangnya yang kurasakan bulu-bulu yang membuatku merinding seketika.


"Jari manis adalah tempat yang memiliki hubungan terdekat dengan jantung. Untuk itulah dia dipilih menjadi tempat terikatnya pernikahan suci.


Jackson semakin memejamkan matanya, pria ini akhirnya tergoda dengan godaanku. Sedikit lagi aku akan memenangkan misi kali ini.


Dert, drrtt ....


Suara ponsel yang bedering menjadi orang ketiga yang memisahkan ku dan juga Jackson yang hampir saja terhanyut dalam suasana.

__ADS_1


"Hallo Clara. Ada apa?" Tanya Jackson. "Baiklah," Sambungnya singkat.


"Bersiaplah, kau akan menemaniku lagi untuk berangkat ke perjamuan." Titahnya, tanpa banyak bertingkah, aku pun segera merapikan pakaianku dan make up ku. Kemudian mengekor di belakang Jackson.


Kira-kira setengah jam perjalanan, akhirnya kami tiba di ruangan perjamuan yang terletak di sebuah restoran ternama di kota.


Belum sempat Jackson mendudukkan bokongnya. Tapi para Boss-boss yang berada di satu ruangan yang sama langsung menyambut kehadiran Jackson dengan mengatakan.


"Yang datang terakhir, akan minum 10 gelas anggur." Ucap seorang boss bertubuh pendek.


"Jackson sudah minum banyak saat di hotel. Jika dia minum 10 gelas lagi, maka Jackson akan benar-benar mabuk." Batinku.


"Kebetulan saya membawa Asisten pribadi." Jawabnya tetap tenang. Lalu dengan santainya dia mengulurkan segelas anggur kepadaku. Sial, pria ini membuatku menjadi penghalang agar dia bebas dari hukumannya.


"Ayolah Nona cantik. Kau tidak mungkin tidak bisa minum bukan. Perempuan yang datang bersama Tuan Jackson tidak mungkin perempuan lemah." Sambung salah satunya mengompori.


Aku menatap Jackson lama, senyuman liciknya membuatku tertantang. Dan aku segera merebut gelas itu dari tangnnya. Dan langsung meneguk anggur itu dalam sekali tegukkan. Pahit, walaupun aku sudah terbiasa minum anggur. Tapi kesan pertamanya selalu saja pahit.


"Cukup, sudah sepuluh gelas," cegat Jackson. Tanpa menjawabnya aku mendur beberapa langkah berdiri disampingnya. Kepalaku mulai terasa pusing. Tapi untungnya aku cukup kuat terhadap anggur hingga tidak mabuk.


Di tengah-tengah perjamuan, aku bertemu dengan musuh bebuyutanku. Aku begitu terkejut melihat Bianca yang sedang menggandeng Sugar Daddy baru dan aku segera berpura-pura sakit perut di hadapan Jackson dan bersembunyi ke luar.


Tapi sayang, karena Bianca sudah melihatku, jadi dia tidak akan membiarkanku begitu saja. Jackson adalah orang yang pintar, jadi aku sangat yakin dia pasti bisa menebaknya.


Bianca dan teman-teman pelakornya menamai aku sebagai Sesil si rubah, artinya adalah rubah penggoda pria.


Terakhir kali aku membuat Bianca ditelanjangi oleh Istri sah, dan dipukuli hingga masuk rumah sakit. Serta seluruh orang di bangunan itu tahu kalau di rumah sakit sedang terbaring seorang pelakor, Bianca pasti tidak akan melepaskanku.


"Ternyata kau di sini Sesil si rubah." Ucapnya mendekatiku.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan!?" Tanyaku menggertaknya. Sialnya Bianca membawa rombongan. Coba saja tidak, aku pasti menang bila menghabisinya. Apapagi aku sudah menguasai beberapa jurus beladiri dari Nasa Asisitenku.


"Apa kau memerlukan bantuan kami Bianca?" Tanya salah satu temannya.


"Kalau aku kalah," jawab Bianca dengan santainya akan menyerangku.


Aku dan Bianca pun kemudian bertengkar, aku tidak menggubrisnya sama sekali. Aku tidak ingin mencari masalah lagi dengannya. Misi ku kali ini bukan lagi Bianca tapi Jackson.


kemudian Bianca mulai mengambil tas di tangannya dan mengayunkannya ke arah wajahku, aku menepisnya. Dia yang merasa geram seketika langsung menarik rambutku. Kami berdua mulai saling menarik rambut.


Bianca banar-benar kehabisan akal, dia seolah-olah menginginkan nyawaku. setiap gerakannya amat sadis. Kuku cantikku bahkan patah karena ulahnya. Rambutku acak-acakan, dan kulit tangan serta wajahku yang mulus terdapat luka sayatan kuku dari Bianca.


Tepat saat kami sedang beradu panas-panasan, terdengar suara Jackson dari belakang, "Ngapain Kalian?"


Bianca dapat melihat kalau aku takut kepada Jackson, amarahnya semakin besar, teman-temannya tidak pernah menang dari ku sebelumnya. Akhirnya sekarang giliran aku yang sial.


Detik berikutnya, Bianca terkejut melihat ku mengacak-acak rambutnku sendiri dengan berlinang air mata.


"Tuan Jackson, hiks. Nona ini mengatakan bahwa aku punya hubungan gelap dengan Tuan Jackson. Dan mereka semua menghanjarku habis-habisan, mereka juga mengancamku untuk mengadukannya kepada Nyonya Baldev. Aku mohon bantu aku Tuan, hiks." Tangisku dengan akting yang begitu menyedihkan. Aku bak wanita lemah yang telah dibuli.


Jackson menatap luka di wajah dan lenganku dengan wajah datar.


"Tuan Robert, tolong ajari sugar Daddy-mu dengan baik." Ujar Jackson memberi perintah kepada boss Bianca.


Aku menang lagi, dan aku begitu senang ketika Jackson membelaku. Bianca menatapku tak pervaya. Aku memang begitu hebat, siapa yang akan sanggup bila melawanku.


Pada akhirnya Bianca menampar dirinya sendiri sebanyak 2 tamparan di bawah tekanan Sugar Daddynya.


Aku masih ingin melampiaskan amarahku padanya. Luka di lengan dan wajahku. Aku tidak akan pernah terima.

__ADS_1


Aku melangkahkan kaki ingin memberi pelajaran kepada Bianca, tapi aku dikejutkan oleh tatapan Jackson, "Masih belum cukup?"


__ADS_2