
"Pertama kali di kolam renang malam itu ... Dan Kedua, barusan." Jawabnya tenang.
Aku tetegun. dua kali? sudah kuduga dia pasti tau kalau di kolam renang itu aku sengaja menggodannya. Dan memang iya dia hampir terjerumus. Dan, berusan? Barusan katanya, itu artinya dia juga tua kalau aku tidak lagi menggodanya agar dia sendiri yang berinisiatif, dan dia juga hampir terjerumus. Pria ini lebih menakutkan dari yang aku pikirkan.
Setiap perkataannya membuka kedokku, aku tidak pernah kalah terhadap pria atau wanita manapun, tapi aku kalah pada Jackson. Jackson seperti iblis yang bergentayangan di pagi dan malam hari.
Jackson melangkah di tengah sinar matahari di dalam kantor selangkah demi selangkah ke hadapanku. menaikan daguku lalu mengatakan.
"Kau tidak akan hidup tenang entah misimu gagal atau berhasil." ucapnya membuatku merindiing.
Pria ini, entah bagaimana bila dia sadar. Apakah dia akan menghabisi orang-orang yang telah berniat buruk padanya.
Situasiku saat ini adalah, Bianca yang terus menghantuiku seperti anjing gila. Zea yang berhubungan dengan Andreas ketahuan olehku, dan Jackson yang berbahaya. Aku hampir tidak punya jalan keluar, hanya dengan memeluk bekingan yang paling kuat barulah bisa selamat.
"Jackson, kau sudah mengetahui semua kesalahanku. Bisakah aku membayar dosa kesalahannya?" Tanyaku menatapnya sayu. Ya, apalagi yang dapat aku tutupi. Dia begitu pandai, hebat, cerdik, cekatan, pintar, teliti, dan tahu segalanya. Aku bisa apa, selain berkata jujur dan mengakui segala kesalahanku. Harapanku hanya dua, yaitu dia tidak membunuhku dan yang kedua dia membolehkan aku untuk berlindung di sisinya.
Jackson mendekatkan diri ke mata indahku, dia hampir menciumku. Dia tersenyum tipis sambil memainkan rambutku.
"Mau bayar dengan cara apa, pikirkan baik-baik sebelum bicara." Aku menelan salivaku berusaha payah. Aku tidak memikirkan dengan apa aku harus membayarnya. Uang, untuk apa dia uang. Uanganya saja tidak sangup dia habiskan. Kekuasaan, kekuasaan apa yang dapat aku beriakan kepadanya. Bukankah dia sudah memiliki kekuasan tertinggi. Direktur utama. Kekuasaan apa yang lebih tinggi darinya. Wanita, tidak, dia tidak mungkin membutuhkan wanita. Aku tidak percaya pria sepertinya mengingian cinta.
"Ketika di kolam renang. Apakah aku memang punya tenaga sekuat itu untuk menarikmu ke dalam kolam renang. Atau kamu yang bersedia ditarik olehku?" Tanyaku penasaran. Sempat beberapa kali aku memikirkan itu, tapi entah kenapa aku merasa hal itu tidak perlu. Tapi saat ini, aku yakin ada hal lain dibalik kejadian itu.
"Memang kamu pikir, kamu bisa narik aku? Tanya balik Jackson sambil menarik daguku keatas untuk menatap mata tajamnya.
Perkataannya membuatku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan.
***
__ADS_1
Sorenya, aku memutuskan panggilan telepon Zea yang meminta bertemu. Lalu berjalan masuk ke ruang kantor Jackson.
"Jackson," panggilku berani.
Jackson yang tengah fokus ke layar monitornya, seketika melirikku saat aku memanggilnya. Dia tidak menjawabku, tapi dia mengeryitkan dahinya tanda dia mau mendengarkanku.
Aku meju beberapa langkah dan berdiri didepan meja karjanya.
"Kamu sudah mengetahui semua identitasku, dan aku senang kamu tidak melukaiku. Tapi, aku bisa membantumu mendapatkan bukti perselingkuhan Zea untuk menambah peganganmu dalam sidang perceraian." Aku mengucapkan kalimatku dengan begitu tegas tanda keseriusanku.
Jackson masih diam, dia siap mendengarkan sambungan ucapanku.
"Aku ingin mendapatkan gaji 2 kali lipat." Akhirnya kalimatku yang dia tunggu-tunggu terucap.
Jackson tampak sedang berpikir, melihat keraguannya. Aku berjalan memutari meja kerjanya. Mendekat wajahku ke wajahnya lalu mencium dagu Jackson lembut.
Tidak pernah terpikirkan oleh Jackson kalau aku akan mengambil keputusan secepat itu.
"Kenapa bukan beneran terjerumus." Ucap Jackson bertanya balik sambil kembali memainkan rambut panjangku.
Aku sangat tidak percaya pria seperti Jackson akan punya hati yang tulus terhadap siapa pun.
Aku tersenyum simpul lalu berkata.
"Ini hanyalah permainan, dimana kita berdua akan beradu akting didalamnya. Jadi, jangan menjadikan akting ini nyata." Jawabku memperingati Jackson.
Setelah mengatakan apa yang harus aku katakan kepada Jackson. Aku langsung pergi keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Di luar ruangan aku mengambil ponsel di saku ku. Lalu menghubungi Zea.
"Hallo Nyonya. Apa kita bisa bertemu?" Tanyaku to the point.
"Tentu saja, aku dari tadi menghubungimu karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Kebetulan aku sedang berada di restoran saat pertama kali kita bertemu. Kemarilah." Jawabnya diseberang sana. Tanpa menjawabnya, aku langsung memutuskan panggilan lalu pergi ke restoran yang dia katakan.
Di restoran
"Apa ada yang ingin kau katakan Nona Sesil?" Tanya Zea.
"Seperti biasa, aku ingin melaporkan bahwa aku belum mengetahui apa pun tentang Jackson. Dan aku juga belum mengetahui kesukaan Jackson." Laporku padanya. Dia tidak terlihat kesal.
"Tidak masalah," jawabnya santai lalu meminum jusnya santai.
"Aku sudah mengatakan hal ya g ingin aku sampaikan. Sekarang giliran Nyonya, katakan apa yang ingin Nyonya katakan kepadaku." tegasku.
"Ini, aku tidak sengaja menemukan dan memungut kartu staf-mu di garasi basement rumahku. Sepertinya adalah hal lain yang belum kamu laporkan kepadaku." Jawabnya sambil mengulurkan kartu staf milikku yang hilang. Dan ternyata aku tidak sengaja meninggalkannya disana. Sial.
Perkataan Zea seakan membongkar kebohonganku soal kemacetan kemarin.
"Ah ini dia, aku mencarinya kemana-mana. Sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya dan meninggalkannya saat aku tiba di rumah Nyonya. Sebenarnya tadi malam aku sampai sudah malam akibat macet. Aku tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dan saat tiba di rumah Nyonya, malam sudah sangat larut dan ponselku juga kehabisan baterai sehingga tiak bisa menghubungi Nyonya. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi." Jelasku mengarang cerita.
Aku melihat ekspresi Zea kurang yang percaya kepadaku. Ah sudahlah, aku harap dia percaya. Lenggang sejenak dan Zea lahinya menggukan kepalanya.
"Baiklah, apa masih ada yang ingin Nyonya katakan kepadaku?" Tanyaku.
"Tidak ada, kau sudah boleh pergi." Jawabnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya izin pergi, kalau terlalu lama di luar, saya takut jackson akan curiga." Ucapku langsung berdiri lalu berbalik badan untuk pergi.
"Nona Cecil, kuharap kamu selalu ingat kalau aku yang mempekerjakanmu. Selesaikan misi ini dengan sempurna, kita semua akan senang. Kalau tidak bisa, maka aku akan menjadi musuh Nona Cecil yang paling merepotkan."