Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Huhu ... Sa-sakitt!" Teriak Nata serta tak berhenti menangis.


"Maaf, Sayang. Aku nggak sengaja," mohon Jackson karena khilaf, dan tak sengaja membuat Istrinya kelelahan dengan 2 kali permainan.


"Tanggung jawab!" Bentak Nata.


"Yang mana yang sakit, Sayang? Aku pijat, ya?" Bujuk Jackson mendekat pada Nata.


"Pakai dulu celanamu!"


"Baik, Sayang. Tunggu sebentar," Jackson turun dari ranjang, memungut celananya yang berceceran di lantai, lalu memasangnya dengan cepat.


"Apa yang di bawah sana sakit, Sayang?" Jackson menunjuk bagian inti di bawah sana yang masih terbungkus selimut.


"Iya, perih. Kamu harus tanggung jawab!"


"Baiklah, aku akan bertanya kepada Dr. Dera."


"Jangan!" Cegat Nata.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Jackson heran.


"Oleskan salep saja, salepnya ada di dalam kotak p3k."

__ADS_1


"Baik, Sayang. Urusan oles-mengoles serahkan kepadaku," Jackson menuju meja, mengambil kotak p3k dan bergegas membukanya. "Yang mana, Sayang?" Jackson bertanya seraya memperlihatkan tiga buah salep dengan tiga warna berbeda.


"Yang warna putih dengan les merah," jawab Nata cepat.


"Sekarang buka selimutnya, Sayang. Akan aku oleskan," titah Jackson tersenyum senang dan siap mengoleskan salep itu pada bagian inti Istrinya.


"Kenapa kamu sangat senang melihatku menderita, hiks ... Berikan salep itu, aku sendiri saja yang oleskan!" Sergah Nata murka.


"Sayang, tentu aku sedih saat kamu kesakitan. Maafin aku, ya?" Bujuk Jackson akan mengelus kening Sang Istri. Namun, dengan cepat Nata tepis.


"Aku sendiri!" Bentak Nata dan Jackson pun mengalah. Jackson pun mengulurkan salep itu kepada Nata dan Nata menerimanya dengan cepat.


"Sekarang kamu keluar dari kamar ini!" Usir Nata.


"Keluar!"


"Ba-baik, Sayang," Jackson mengalah lagi.


Setelah Jackson keluar, Nata pun berusaha untuk bangkit. Tidak terlalu perih memang, tapi itulah caranya agar Jackson tidak mengulang lagi dan lagi. Kalau tidak begitu, Nata yakin Jackson akan membuatnya benar-benar tidak bisa berjalan.


Nata berjalan perlahan dengan berpegangan pada dinding beton kamarnya agar tubuhnya tegap seimbang. Tiba di sana, Nata menghidupkan keran air panas dan air biasa bersamaan. Begitu buthub penuh, Nata menuangkan sabun cair secukupnya. Lalu segera masuk ke dalam buthub untuk membersihkan diri.


Cukup lama dia berendam, setelah merasa cukup, dia pun mengakhiri mandinya. Keluar dari kamar mandi, Nata membuka lemari, mengambil piyama berwana merah, warna kesukaan Jackson.

__ADS_1


Memasangkan piyama itu setelah sebelumnya Nata telah mengoleskan bagian intinya yang sedikit memerah dengan salep yang tadi Jackson siapkan.


"Ke mana Suami brengsek itu?" Nata mendekat pada pintu kamar, mengintip di sebuah lubang bulat kecil di samping gangang pintu. "Dia tidak ada di luar kamar," gumam Nata langsung membuka pintu kamarnya.


"Benar-benar tidak ada. Ke mana dia?" Nata berjalan hingga tiba di lift. Nata masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


"Mommy!" Teriak Kabut.


"Kabut Sayang," Nata duduk dan menyambut pelukan Kabut Louise, Putra dari Pamannya Hadden serta sahabatnya Nasa.


Seharusnya, Nata di panggil dengan nama Alee. Namun, dia ingin dipanggil Nata agar memiliki nama kembar dengan Sahabatnya kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Nasa.


"Ayo Mommy. Ayo kita bergabung dengan Mommy dan Daddyku." Ajak Kabut.


"Tunggu, Kamu sudah tidak cadel lagi, Sayang," ujar Nata kegat.


"Tentu saja, Mommy. Kan Kabut sudah dewasa. Ayo, Mommy!"


"Kenapa Mommy?" Tanya Kabut saat Nata tak mengikutinya.


"Mommy Nata tidak bisa berdiri sendiri, Sayang," ujar Jackson langsung mengambil alih Nata. Jackson membantu Nata berdiri.


"Dasar Om Jahat!" Ejek Kabut lalu berlari menuju ruang tamu di mana ada Hadden dan Nasa di sana.

__ADS_1


"Aku masih marah padamu, ya!" Tegas Nata pada Jackson.


__ADS_2