Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 20


__ADS_3

Setelah memasuki ruangan, aku terus berakting sebagai sosialita.


Namun, sebenarnya proyek ini sudah sangat pasti bisa didapatkan oleh Jackson, aku sama sekali tidak perlu seperti ini. Lagipula tujuan utamaku bukanlah ini, melainkan untuk memikat Jackson.


Jackson menatapku tajam, aku yakin dia tau kalau tujuanku datang hanyalah untuk memikatnya dan menunjukkan kalau aku adalah wanita yang bisa dibawa keluar siang dan malam. Aku benar-benar berniat menguji kasabarannya.


Seusai perjamuan, seseorang pria bule mendekati Jackson lalu berbisik, "Tuan Jackson, Nona disampingmu bolehkah untukku?" Pinta bule itu dengan nada suara halus.


Jackson tidak bersuara, dia hanya diam sambil menatap pria dihadapannya dengan pandangan tak suka.


"Gunakanlah kartu ini, ada sekelompok model baru yang datang di Queen Club, semua tagihan bisa dihitung ke akunku." Ucap Jackson memecah lenggang, sambil memberikan sebuah kartu emas ke pria bule tadi.


Pria tersebut juga tahu kalau ini artinya Jackson tidak setuju. Tapi pria itu tetap mengambil kartu yang Jackson berikan, lalu segera pergi.


Aku agak mabuk, aku bersandar pada Jackson di bawah pengaruh alkohol. Pusing, tidak nyaman, mual, semua rasa itu kini bersatu. Tapi sedikit berkurang ketika bersandar di bahu Jackson yang lebar. Tubuhku dan Jackson saling menempel. Seperti biasa, Jackson tidak mulai duluan maupun menolak.


Sekretaris Clara datang menjemput lalu bertanya tentang keadaanku. “Ada apa dengan asisten Cecil?” Tanyanya


“Aku lagi meluk Tuan Jackson dong.” jawabku yang memeluk erat Jackson, kini, aku benar-benar dibawah pengaruh alkohol.


Aku merasa tubuhku terbang di udara, ada Jackson juga terbang disisiku. Kamu bergandengan tangan mesra, aku berhalusinasi sangat tinggi.


Jackson menggendongku masuk ke dalam mobil.


“Udah mau jalan?” Tanyaku bodoh, mabuk benar-benar membuat ku lupa diri.


Jackson melemparkan sepatu kepadaku, menyuruhku untuk pakai sendiri.


"Pria seharusnya berbuat lembut kepada wanita lemah sepertiku. Bukannya melemparku dengan sepatu. Jackson, ayolah pasang sepatuku, aku tidak bisa," omelku ingin Jackson yang memakaikan sepatu untukku. Aku sangat kesal karena berapa kali aku salah menginjak.


"Ini salah kamu, ngapain juga lepasin sepatuku.” Ocehku dengan nada menangis.

__ADS_1


Jackson tidak menggubrisku sama sekali, dia mengambil high heels ku dan melemparnya ke kursi di sebelah pengemudi didepan. "Emang bisa jalan di tangga pakai high heels?"


"Kamu kan bisa gendong aku," rayuku bersikap imut. Jackson kembali diam, aku yang masih dibawah pengaruh alkohol—langsung naik ke atas pangkuannya. Dan bermanja-manja sambil menyentuh wajahnya lembut.


"Jackson, aku sangat merindukanmu. Aku sangat-sangat mencintaimu, Jackson." Racauku sambil mengalungkan kedua tanganku di lehernya.


"Kau hanya pelakor tukang bohong. Kau itu rubah kecil pembohong." Balas Jackson.


"Tidak, aku sungguh mencintaimu. Aku tidak berbohong sama sekali. Di misi sebelumnya, aku tidak pernah memeluk pria sedekat ini. Aku juga tidak pernah berciuman di bibir dengan mereka. Aku hanya sebatas menyentuh tangan mereka, mencium pipi mereka dengan jijik, hanya sebatas itu saja. Percayalah kamu adalah pria pertama yang pernah menyentuh bibir manisku ini." Racauku semakin tak jelas.


"Kau tidak menyentuh, tidak mencium, tapi kau tidur dengan mereka." Saut Jackson menatapku tak suka.


"Tidak pernah, saat di hotel aku membuat mereka mabuk hingga pingsan, setelah mendapatkan bukti aku langsung pergi. Percayalah, tubuh indahku ini belum pernah terjamah siapa pun. Apa kau ingin buktinya? Ayo tiduri aku." Ocehku memintanya meniduriku sambil memohon imut.


"Kau seperti jal*ng saja." Ujar Jackson tak suka.


"Terserah apa katamu, yang penting aku menginginkanmu." Jawabku langsung ***** bibirnya lembut. Aku terus bermain dibibirnya, cukup lama Jackson belum juga membalasku. Hingga akhirnya aku menyusupkan salah satu tanganku kedalam celananya.


Aku sungguh menguji ketahanan Jackson.


Tak lama mobil pun berhenti di pinggir jalan.


"Kalurlah," Jackson mengusir Supirnya.


"Baik, Tuan." Jawab sang Supir lalu segera keluar dari mobil.


"Mau kemana? Jangan tinggalkan aku," rengekku ketika Jackson kaluar dari mobil lalu pindah ke kursi kemudi, kemudian menyetir manuju Apartemenku. Tanpa pikir panjang aku juga berpindah ke depan dan kembali menggoda Jackson.


"Kenapa Supirnya diusir, aku jadi susah menciummu," ocehku mendekati pada wajah Jackson lalu kembali meraba otot perutnya.


"Berhenti menggodaku, apa kau ingin mati!" Bentak Jackson yang kesulitan menyetir.

__ADS_1


"Kau menyetir saja, biarkan aku begini. Kalau tidak begini, bagaimana aku akan menggodamu agar mau menerimaku. Aku sangat mencintaimu Jackson, ayolah tiduri aku." Bujukku dalam alam bawah sadarku. Jika tidak dipengaruhi Alkohol mungkin aku tidak akan berkata seperti itu. Tapi aku juga tidak mungkin terus mengulur waktu, kalau aku terus mengulur waktu, aku takut Jackson menutup kembali pintu hatinya. Hanya dia harapanku satu-satunya sebagai tempat berlindung.


"Dasar! Jangan menyentuhnya!"


"Jangan memainkannya!"


"Jangan digosok!"


"Jangan di—" teriak Jackson selama di dalam perjalanan.


Beruntung perjalan sudah tidak terlalu jauh. Jackson kembali menggendongku masuk ke dalam Apartemen.


Semua ketenangan sirna saat Jackson membawaku memasuki apartemen dan berdiri di balik pintu. Jackson langsung menahanku di dinding dan menggigit telingaku lembut.


Dalam sekejap, dunia pun runtuh.


Tegas, gelap, seksi, Jackson menciumku, aku pun membalas ciumannya tak kalah panas.


Aku agak kesulitan menahan hasrat yang membara dari hati paling dalam.


Aku melihat hawa ***** Jackson yang menerobos keluar. Aku tidak bisa bergerak di dalam pelukan Jackson, sekujur tubuhku menjadi sangat lemas.


Jackson sangat pandai berciuman, aku semakin terpesona dengannya. Dia mencumbu Setiap inchi tubuhku. Satu desah*n lolos ketika dia bermain di dua gundukkanku yang masih terbalut pakaian minim yang kukenakan. Tangan Jackson terus bermain hingga aku benar-benar kehilangan akal sehat. Jackson menggiringku masuk kedalam kamar, lalu mendudukkan ku di pinggir ranjang.


Jackson melepaskan ikat pinggangnya sendiri, kukira dia akan memberikan pisang impornya padaku, tapi aku salah.


"Sana mandi." Titahnya dengan suara serak.


Aku linglung: “Buat apa?”


Jackson yang berdiri di hadapanku sehingga otot perutnya berhadapan dengan wajahku.

__ADS_1


"Bukannya mau menggodaku? Cecil, aku akan tinggal."


Bersambung ....


__ADS_2