
"Aaahhh ...."
"Udah ah," Nata menarik kembali tangannya membuat Jackson kembali membuka mata.
"Nanggung banget Sayang, padahal sedikit lagi keluar," keluh Jackson seketika lesu.
"Kamu bilang cuma sebentar, kenapa jadi lama," protes Nata menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Yaudah, kita langsung saja."
Jackson menindih Nata, menggenggam kedua tangan Nata dengan tangannya. Lalu mencium Nata dalam. Nata memejamkan mata, menikmati alur permainan yang kini Jackson mainkan.
Ciuman Jackson semakin turun, kini dia memberikan bekas kepemilikan di leher jenjang Nata. Sedangkan Nata hanya memeluk Jackson erat, semakin membenamkan kepala Jackson.
"Aw!" Ringis Nata membuat Jackson menghentikan permainannya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Jackson khawatir.
"Tidak apa-apa," jawab Nata juga heran, barusan dia merasakan nyeri di perut bagian bawahnya. Tapi, hanya sekilas, karena setelahnya nyeri itu kembali menghilang.
__ADS_1
"Apa aku membuatmu sakit, sayang?" Tanya Jackson lagi.
"Tidak, ta-tadi itu hanya des*han saja," bohong Nata agar Jackson tak lagi khawatir.
Jackson tersenyum bangga mendengar ucapan Nata, dia kembali melanjutkan tugasnya yang sempat terhenti. Perlahan, Jackson mulai membuka kancing baju Nata satu persatu, hingga akhirnya tiba di kancing baju terakhir.
Jackson meremas serta memberikan tanda kepemilikan di dua gundukan kenyal Nata. Hal itu tentu membuat Nata tak kuasa menahan suara, suara yang membuat nafsu Jackson kian membuncah.
"Kamu menyukainya, Sayang?" Tanya Jackson menggoda sambil memainkan choco chip milik Nata.
"K-kamu ah, kamu juga menyukainya," jawab Nata memejamkan mata.
"Tentu saja aku menyukainya," jawab Jackson kembali fokus pada tugasnya.
Karena dirinya dan juniornya yang benar-benar sudah tak tahan, pada akhirnya Jackson pun langsung menurunkan kain terakhir yang membalut bagian inti Nata.
Jackson tersenyum senang memandang keindahan pemandangan yang kini ada di depan matanya. Sedangkan Nata hanya dapat menutup wajah guna meminimalisir rasa malu yang kini dia alami.
Tanpa ragu, Jackson mulai menanamkan satu jarinya ke dalam inti milik Nata sambil mamandang wajah Nata yang kini terpejam dengan suara erotis yang terus dia keluarkan.
__ADS_1
"Sudah keluar?" Jackson kembali memandang ke tangannya yang kini bermain. Dan betapa terkejutnya dia kala melihat tangannya sudah berlumuran oleh cairan berwarna merah.
"Nata kamu?" Tanya Jackson sambil menunjukkan jari tengahnya.
"Aaaakhh!" Nata menjerit kaget karena takut terjadi sesuatu pada benda miliknya.
"Sayang, kenapa? Tenanglah," Jackson langsung memeluk Nata erat.
"Jackson, aku berdarah. Kamu melukaiku," ujar Nata menangis histeris, dirinya mengira Jackson yang menyebabkannya berdarah.
"Apa sakit?" Tanya Jackson tetap memeluk Nata.
"Ti-tidak," jawab Nata mulai merasa ada yang tidak beres.
"Sepertinya kamu menstruasi, Sayang," tebak Jackson benar.
"Benarkah?" Nata yang malu langsung melepaskan diri dari pelukan Jackson dan langsung berlari menuju kamar mandi dengan membawa serta selimut guna menutupi tubuhnya yang telah polos.
Setelah kepergian Nata, Jackson menghela napas. Lalu mengelus juniornya perlahan, berharap kembali tidur. Jackson berdiri, meraih tisu dan mengelap jarinya sambil merutuki nasibnya yang tak baik.
__ADS_1
"Jackson, apa ada pembalut?" Tanya Nata malu-malu dari dalam sana.
"Seharusnya sudah ada cadangan perlengkapan wanita di dalam lemari paling bawah," jawab Jackson lemas dan lebih memilih meraih laptop untuk melihat perkembangan pekerjaan agar dapat menurunkan nafsu yang masih membuncah.