Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Untuk mengurangi rasa sakitnya, Asi-nya perlu dikelurkan, Tuan," jawab Dr. Dera membuat Jackson tersenyum simpul menatap Nata yang masih meringis dengan tubuh bagian atasnya yang polos membuat Jackson tentu saja tergoda.


"ASI-nya harus dikeluarkan dengan alat pompa asi. Tuan bisa meminta pelayan untuk mengambil alatnya ke sini," sambung dr. Dera lagi.


"Apa maksudmu menggunakan alat-alat itu. Aku sendiri bisa mengeluarkannya, kenapa harus pakai alat-alat segala," saut Jackson protes.


"Ah baiklah, Tuan. Tentu saja bisa Tuan sendiri yang mengeluarkannya asal Tuan tidak keberatan," tutur Dr. Dera pelan karena takut salah bicara lagi.


"Tentu saja aku tidak keberatan, dia Istriku."


"Baiklah, kalau begitu sekarang Tuan boleh mengeluarkan ASI-nya. Setelah selesai, bawa Nona untuk mandi air hangat. Kemudian kompres lagi pay*dara Nona dengan es batu atau air dingin. Kalau masih sakit juga, tolong kabari saya, ya, Tuan," jelas dr. Dera membuat Jackosn mengerti dan langsung memutuskan panggilan sepihak.


"Bagaimana, Sayang? Dr. Dera bilang apa?" Tanya Nata pelan disela-sela ringisanya.


"Katanya, air susunya perlu dikeluarkan, Sayang." Jawab Jackosn duduk di samping Nata.


"Dengan cara?"


"Aku yang akan melakukannya," jawab Jackosn menatap Nata penuh perhatian.


"Apa kamu mau? Apa tidak jijik?"


"Dengan senang hati, Sayang. Tidak ada isinya saja aku his*p apalagi ada isinya," jawab Jackosn antusias.

__ADS_1


"Lagipula kamu itu Istriku, kenapa mengira aku akan jijik? Apa kamu lupa ini adalah bagian kedua yang paling aku suka setelah yang di bawah sana," sambung Jackosn mejelaskan dengan senyuman yang tak pernah lepas sedari tadi.


"Aw! Jangan menyentuhnya. Sakitt sekali," ringisa Nata.


"Maaf, Sayang. Aku mulai sekarang, ya?" Tanya Jackson meminta izin.


"Iya. Tapi, jangan menyentuh apa lagi merem*snya," ujar Nata mengingatkan Jackosn.


"Tentu saja, Sayang."


Jackson segera memposisikan dirinya sebaik mungkin dan mulai menyusu pada istrinya layaknya seoarang bayi.


"Aaahhhh ... Pelan-pelan, Sayang," des*h Nata membuat Jackson menurut.


"Jackosn sudah, sebelah kanan sudah tidak sakit lagi. Sekarang tolong his*p yang sebelah kiri," ujar Nata meminta Jackson untuk menghis*p pay*dara sebelah kirinya yang masih tampak begitu kencang.


"Baiklah, sayang."


Jackson bangkit, memutari ranjang hingga tiba di seberang sana. Tanpa berlama-lama Jackson kembali menghis*p gundukan Istrinya yang sebelah kiri.


"Ahhh, pelan sedikit, Sayang. Sebelah sana sakitt sekali," pinta Nata seraya menggenggam erat selimut guna meminimalisir rasa sakit yang kini dia rasakan.


"Di sini sangat banyak, sayang. Tahan sedikit, ya, Sayang." Jawab Jackosn lalu kembali menghis*p gundukan itu dengan cepat karena di sebelah sana air nya lebih banyak.

__ADS_1


"Ahh, sakit sekali, Jackson, ahh ...." d*sah Nata semakin kuat menggenggam selimut hingga tangannya memutih.


"Sayang, bibirku kebas," keluh Jackson yang sepertinya mulai lelah.


"Sudah, Sayang. Sudah agak mendingan sekarang. Sudah tidak sakit seperti tadi lagi. Sakitnya sudah berkurang," ucap Nata dengan pipinya yang sudah semerah tomat. Nata segera menyelimuti kedua gundukannya dengan selimut.


"Ah, semakin malu-malu begitu. Aku semakin tidak tahan," keluh Jackson hanya dalam hati. Memang senjata pusakanya sudah berdiri tegap sedari tadi. Tapi, tidak mungkin dia bertempur bila lawannya tidak ingin. Lagian, mana mungkin dia tega melakukan itu. Dapat menghis*p saja Jackson merasa sudah sangat senang.


"Sekarang aku antar kamu mandi, ya."


"Iya. Aku tidak nyaman dengan tubuh lengket begini," jawab Nata dan Jackson pun langsung menggendongnya menuju kamar mandi.


.


.


.


Cerita apa ini, guys?🤣


Kan dah Othor kata, Othor nggk bisa bikin part bucin, kalau bucin bakal belok nih cerita, kagak bakal bisa lurus🙈🤣


Kita akhiri kebucinan gaje ini, atau lanjut, guys?🤭

__ADS_1


Serius ini, bingung Othor. Begini mulu nih, tanpa konflik🙈


__ADS_2