Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 18


__ADS_3

"Tuan Jackson? Ahahahaha ... Jangan bermimpi terlalu tinggi Nona Sesil. Tuan Jackson bukanlah pria yang dapat dengan mudah untuk didekati, jangan mentang-mentang kamu adalah asistennya dan bisa terus berada di sisi Tuan Jackson. Tapi kamu tidak akan berarti apa-apa baginya." Talak salah satu karyawan perempuan, dan disambut tawaan oleh keryawan lainnya.


"Aku dari awal juga sudah curiga dengan penampilannya yang seperti seorang Jal*ng."


"Aku juga berpikir begitu. Tapi ternyata memang benar Nona Sesil adalah wanita murahan perebut suami orang, sangat menjijikkan."


"Benar, dasar wanita murahan!"


"Pelakor tidak tau diri!" Hina yang lainnya. Aku tidak marah dengan hinaan mereka, aku tersenyum sinis menatap mereka satu-persatu. Lalu pergi setelahnya.


Kehidupan ku sangat mulus selama 4 tahun ini, bisa dimarahi sampai ditunjuk-tunjuk oleh semua banyak orang juga sulit dihindari di usia 26 tahun.


Hampir semua wanita sedang mengataiku murahan, pelakor, ngak tahu diri masih mimpi mau dapatin Jackson.


Karena kesal, aku berjalan seorang diri menuju tangga darurat. Duduk disana dengan segala kesedihan, sesedih apa pun hidupku, aku sangat jarang mengeluarkan air mata, aku sangat menghindar menjadi seorang perempuan yang lemah. karena orang yang lemah akan mudah tertindas, untuk itulah aku selalu menunjukkan keberanianku.


Merasa sangat bosan, aku mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik api. Merokok dengan khusyuk guna menenangkan pikiran.


Dert! Derrtt!


"Hallo, ada apa Nyonya?" Sapaku langsung mematikan sisa rokokku.


"Tadi malam apa Jackson pergi ke rumahmu?" Tanya Zea diseberang sana.


"Benar Nyonya, tadi malam Tuan Jackson datang berkunjung ke rumahku." Jawabku jujur.


"Apa ada kemajuan?"


"Ya, tentu saja ada Nyonya. Bukanlah ini pertama kalinya dia datang ke Apartemen wanita. Tapi dia masih menolakku saat aku mengajaknya menginap. Dia masih dapat mengontrol dirinya. Tapi, Nyonya tenang saja, aku akan terus menggodannya hingga dia sendiri yang berinisiatif padaku." Kilahku demi meyakinkan nyonya Baldev.


"Kerahkan semua kemampuanmu Nona Sesil. Aku akan mempersingkat waktu yang dijanjikan 2 tahun sebelumnya menjadi 3 bulan. Dalam waktu 3 bulan, Nona Sesil harus bisa menaklukkan Jackson." Jawabnya disebarang sana.


Wanita siluman ini, dia pasti sudah tidak sabar ingin bersama dengan Andreas.


"Nyonya, apakah Nyonya sadar dengan perkataan Nyonya. 3 bulan terlalu singkat untuk misi sebesar ini," keluhku.


"Saya tidak meminta Nona Sesil untuk memilih. Ini adalah permintaan saya sebagai klien. Dan Nona harus melakukan apa pun yang saya katakan." Sautnya.


Aku tidak menjawabnya, aku hanya diam. Memikirkan bagaimana cara menyingkirkan si siluman rubah ini. Daripada bekerja untuknya yang seenaknya memerintahku, lebih baik aku bekerja untuk Jackson. Aku yakin dia dapat melindungiku. Hanya dia satu-satunya harapanku.

__ADS_1


"Pikirkan baik-baik Nona. Jangan mencoba untuk macam-macam berkhianat kepadaku. Karena aku tidak akak membiarkan Nona Sesil hidup tenang." Ancamnya lalu memutuskan panggilan sepihak.


Huffff ....


Aku menghela napas berat, setelahnya aku mulai berdiri. Dan pergi menuju toilet.


"Dia ingin menggoda Tuan Jackson\, Ahahaha .... Jangan bercanda kamu. Dia itu hanyalah perempuan murahan\, perempuan bekas\, jal*ng\, pelac*r. Mana mungkin Tuan Jackson mau padanya. Mau secantik bidadari sekalipun kalau bekas dan sudah terjamah banyak pria\, percuma."


Di dalam toilet, aku begitu geram dengan cacian penanggung jawab dept administrasi, Aurel. Entah dengan siapa, dia terus mencaci makiku habis-habisan dan sangat tidak enak didengar.


Tidak tahan, aku langsug menendang pintu toilet, lalu datang menghampirinya yang kini tengah memakai make up di pentihouse.


Aku mengayunkan tanganku lalu menampar Aurel sekuat tenaga.


"Ya, memangnya kenapa kalau aku wanita murahan, pelakor, penggoda, tidur dengan banyak pria beristri. Kenapa memangnya? Masalahmu denganku apa? Setauku aku tidak pernah merebut sugar Daddy-mu, pacarmu bahkan suamimu!" Bantakku murka.


"Berani sekali kau menampar! Dasar perempuan murahan!" Teriaknya akan menamparku balik. Dengan kuat aku menahan lengannya, lalu memelintirkan lengannya hingga dia kesakitan.


"Dengarkan aku baik-baik, Nona Aurel. Aku memang adalah selingkuhan Taun Jackson, dan itu semua terjadi karena Tuan jackson sangat memanjakanku." Ujarku angkuh.


"Kalau Nona Aurel hebat, coba saja cari masalah denganku." Sambungku lalu menghempaskannya kasar hingga terjerambab di lantai toilet.


Setelah masuk ke ruang kantor, Jackson baru saja selesai mandi dan berpakaian. Saat ini Bianca sudah semakin keterlaluan, Zea juga terus mendesakku, dan yang bisa menangani Bianca hanya Jackson, aku selangkah demi selangkah maju untuk memikatnya.


Aku berdiri dihadapannya, tubuh atletis dengan otot-otot perutnya yang pernahku lihat begitu kuat. Sosoknya sangat gagah dengan pakaian formal.Aku menengadah menatap wajahnya yang terlihat sangat menyegarkan, aroma tubuhnya begitu nyaman dan lembut saat dihirup, hingga memberikan efek bunga-bunga bertebaran ketika aroma itu sampai ke perutku.


Aku berjinjit, lalu mengalungkan tanganku di lehernya. Lalu menyatukan bibir ranumku ke bibir seksinya. Aku terus ***** benda kenyal itu, walaupun tidak mendapatkan perlawananan darinya.


"Jeck, kamu sangat tampan sestelah habis mandi." Godaku lembut. Wajahku ditimpa air dari rambutnya yang masih basah.


Pria ini begitu sangat mempesona, kalau saja dia tidak misterius dan dingin, pasti dia akan aku cap sebagai pria paling sempurna di dunia ini yang pernah aku temui.


Wajahnya masih saja kaku, walau aku baru saja selesai membasahi bibirnya dengan salivaku. Salah satu tanganku menyentuh dagu runcingnya yang tegas. Sedangkan satunya turun menyentuh leher lalu menyusuri perutnya yang berpola kotak-kotak.


Aku menunjuk hidung mancungnya dengan satu jariku telunjuk, lalu turun kebawah hingga kini telah sejajar dengan tanganku yang telah berkelana di otot-otot perutnya.


Pria ini masih bisa menahan setiap sentuhan lembut jemariku. Tapi bagaimana dengan sentuhanku yang lainnya. Tangan kananku perlahan menyusup kedalam celananya. Aku tersenyum lebar menatapnya.


"Jangan bergerak untuk 2 kali," ucap Jackson menyuruhku. Tapi aku tidak mendengarkannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, Tuan. Sekali saja, ajari aku bagaimana caranya." Tanganku sudah menemukan sesuatu yang ternyata telah menegang dibawa sana. Aku menelan Saliva ketika tanganku telah mengusap benda keras yang membuatku tersenyum karena ukurannya yang jumbo. Aku mengusapnya lembut, kulihat Jackson mulai terlena dengan memejamkan matanya menikmati sentuhanku.


Jackson benar-benar pria terbaik yang ada di dunia, tepat saat Jackson hampir terlena.


"Tuan!" Teriak Aurel berjalan masuk ke ruangan Jackson.


Jackson menghindar, sedangkan aku langsung berpura-pura menjadi orang baik.


"Tuan, Tuan lihat wajahku. Ini adalah ulah wanita penggoda itu! Dia telah memukulku, Tuan!" Tunjuk Aurel yang terlihat seperti wanita gila.


"Dia yang lebih dulu menggangguku, Tuan. Dia telah membocorkan alamat rumahku kepada karyawan lainnya. Bagaimana kalau tiba-tiba para karyawan yang membenciku datang dan ingin berbuat jahat padaku. Dia sendirilah yang berulah." Jawabku menyerangnya dengan mengatakan kebohongan.


"Apa yang kau bicarakan! Tuan, dia memfitnahku," Belanya.


"Sebagai kepala dept administrasi, orang tersebut harus angkat kaki dari posisinya apabila bertindak jauh di luar tanggung jawabnya," sambungku membuat Aurel terkejut dan tak percaya. Selama bekerja disini hanya dia yang bisa menindas karyawan lainnya. Tapi kini, dia yang telah tertindas olehku. Pelakor sepertiku, menghancurkan wanita seperti Aurel bak mengedipkan mata.


Dia pantas mendapatkannya karena selama ini, dia juga tidak bertindak sesuai jabatannya. Dua seharusnya tidak boleh hanya tahu mengadu dan iri hati di sini.


Aurel terlihat sangat takut dengan Jackson yang tidak berbicara sedari tadi, karena tidak tahu harus berkata apa, dia akhirnya keluar dari kantor.


Hal yang tadi tidak lagi bisa dilanjutkan, aku mencium Jackson dengan lembut, lalu keluar. Kemudian aku menerima telpon dari Andreas yang mengundangku makan bersama.


Deerrt!


"Andreas? ngapain dia nelpon aku." ucapku bingung.


Merasa penasaran, aku segera mengangkat panggilannya. Tak lupa aku sedikit menyingkir guna mencari tempat aman.


"Hallo, Tuan Andreas. Ada perlu apa Tuan menelpon saya?" Tanyaku to the point.


"Hallo, Nona Sesil. Apa Nona ada waktu malam ini?" Tanyanya berbasa basi.


"Tidak ada juga akan saya adakan, kalau sangat diperlukan." jawabku ramah.


"Datanglah ke Osteria Restaurant malam ini, saya sangat ingin makan malam bersama Nona," jawabnya diseberang sana.


"Baiklah, Tuan. Saya pasti akan datang." jawabku lalu panggilan pun berakhir.


***

__ADS_1


Jam 6 sore, aku sampai di Osteria Restaurant. Aku secara khusus meminta pelayan untuk tidak menutup pintu kecil, karena masih ada ruangan yang terhubung di ujung sana.


__ADS_2