
"Mari Nona ikut kami!" Ajak pria itu akan mamasangkan borgol tanganku
"Lepaskan dia, kalian berani membuat keributan di perusahaanku!" Bentak Jackson.
"Mohon Izin, Tuan Jackson. Kamu perlu membawa Nona Cecilia pergi untuk dimintai keterangan. Untuk itu kamu minta Tuan Jackson bekerja sama dalam penyelidikan ini, mohon dimaklumi, Tuan." Ucap Pria yang menjadi ketua itu. Jackson tidak setuju setelah melihat bekas tamparan di pipiku.
"Siapa pelakunya?" Tanya Jackson dingin.
Aku segera merapikan beberapa helai rambut untuk menyembunyikan bekas tamparan yang terlihat. Jackson menahan daguku agar wajahku tertahan.
"Apa masih ada luka di tempat lain?" Jackson memeriksa dengan detail apakah masih ada bekas luka lain di wajahku. Aku terdiam dan masih tidak menjawab pertanyaan Jackson.
“Kamu pandai bersilat lidah saat menggoda pria, kini jadi bisu setelah membuat masalah.” kata Jackson dengan sinis.
Pandangan para karyawan di sekeliling tertuju kemari dan mulai bergunjing tak jelas.
__ADS_1
"Akhirnya Asisten Cecilia kena karmanya juga." Ujar salah satu karyawan.
"Disaat seperti ini saja, dia masih bisa menggoda Tuan Jackson agar membantunya, benar-benar wanita mur*han." Saut satunya.
"Iya, kasihan Nyonya Zea. Kalau berita ini sampai ke telinganya, dia pasti akan sangat terluka. Kita kan tau sendiri, Tuan Jackson seperti ini juga berkat bantuan keluarga Liandra. Dan setelah sukses, Tuan Jackson tega menelantarkan Nyonya Zea dan malah tergoda dengan wanita mur*han seperti Asisten Cecil." Gosip lainnya yang beredar.
Aku berbisik pada Jackson untuk mengingatkan, “Lepaskan tanganmu, Brigita yang memukulku.”
"Nyonya Brigita yang Nona Cecil lukai adalah Istri dari Tuan Reyhan," ucap pria berseragam bernama Putra yang aku lihat dari tulisan di dada yang menempel di seragamnya.
Putra menunjukkan lencananya sambil memberitahu kalau sementara ini Cecilia dituduh sebagai tersangka pelaku kekerasan dengan disengaja, “Pak Jackson, mohon bekerjasama.”
Jackson tak berdaya. Dan pada akhirnya aku dibawa pergi ke kontor polisi.
Saat sampai di kantor polisi, dua pria berseragam itu, Putra dan Jonas menggiringku masuk ke dalam ruangan interogasi di lantai 2.
__ADS_1
Ruangan berukuran 4x4 Meter yang tampak lumayan menyeramkan bagiku. Belum pernah sekali pun aku menginjakkan kaki di kantor polisi selama bekerja sebagai pelakor. Dan Sekarang aku menyadari betapa dalamnya aku terjebak dalam misi kali ini. Entah ruangan semenyeramkan apa lagi yang akan aku masuki setelah ini.
Aku mundur dan menolak masuk.
"Saya tidak melanggar hukum apa pun, pak. Kenapa saya harus dibawa ke sini. Tuduhan itu tidaklah benar," aku berontak tidak ingin masuk ke dalam ruangan gelap dengan satu lampu besar remang di atasnya.
"Melanggar hukum atau tidak, akan diketahui jika selesai interogasi." Kata pria berseragam yang bernama Putra.
Aku didorong paksa masuk ke dalam ruang interogasi, mereka mulai menyelidiki kejadian yang terjadi antara dan Brigita.
Saat aku menduduki salah satu kursi di sana. Aku menjadi gemetar. Jonas pria berseragam dihadapanku ini selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaannya yang dapat menekanku.
"Dari rekaman cctv jelas kalau Nona Cecil yang lebih dulu menyerang Nyonya Brigta."
"Saya melakukan itu karena saya ada dendam dengan Nyonya Brigita. Tapi, saya punya foto rahasia Brigita yang bisa menjadi bukti kalau Brigita menipu Tuan Reyhan." Jawabku berani.
__ADS_1
Pria yang bernama Jonas itu melepaskan kacamata sambil memijat kening. "Hal pribadi tidak ada urusannya dengan kepolisian. Yang penting adalah Nona Cecilia tidak boleh memukul orang." Saut Jonas membuatku terdiam. Situasi tidak berpihak kepadaku.