
"Jackson, aku hamil," Jackson terdiam, sedangkan aku menutup mulut dengan salah satu telapak tangan.
“Malam ini kamu pulang? Aku mau membahas sesuatu denganmu," sambung Zea lagi.
"Tentu saja, aku pasti pulang. Ada berita baik tidak mungkin tidak pulang," jawab Jackson santai.
Mendengar mereka berdua berinteraksi cukup akrab, sedikit luka tergores di dalam lubuk hatiku. Aku benar-benar gila, bagaimana mungkin rasa cinta kepadanya tidak berkurang sedikit pun, padahal Jackson sudah menyiksaku hingga benar-benar tersiksa.
Cik! Keduanya sama-sama iblis. Kenapa Zea bisa hamil? Dasar Jackson bajingan. Jelas dia tidak menyukai Zea, tapi dia tetap menyentuhnya. Aku sangat membencimu hingga ketulang-tulang.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Jackson.
"Kenapa? Wajahku memang cantik dari dulu," ketusku.
"Kamu cemburu?"
"Cemburu? Jangan berlebihan, lagipula untuk apa cemburu? Apa seorang wanita simpanan punya hak untuk cemburu?" Aku berjalan menuju sofa lalu duduk di sana, dengan melipat kedua tangan.
"Lebih baik kamu segera pulang sekarang, bukankah Istri sah-mu hamil. Pergilah, temui dia. Dia pasti sangat membutuhkan Suaminya, dan anakmu, pasti sangat ingin dimanja oleh Ayahnya," sambungku lagi.
"Aku pergi, tapi jangan harap kamu juga bisa pergi," ancam Jackson lalu meraih jas dan kunci mobilnya.
"Simpanan bukan hanya disimpan, tapi juga dipenjarakan," sindirku tapi tak digubris Jackson sedikit pun.
__ADS_1
"Pergilah, temui istrimu yang hamil," sambungku lagi, dan Jackson langsung pergi tanpa melirikku sedikit pun.
"Yah, pergilah bajingan ...." Tangisku pecah kala Jackson telah pergi menghilang dari pandanganku. Aku sangat membenci Jackson, tapi sialnya, entah kenapa aku merasa sangat sedih ketika Jackson meninggalkanku seorang diri.
Setelah lelah menangis, aku pun keluar dari ruang kerja berjalan menuju dapur. Melewati ruang makan, aku mengabaikan makanan yang tersaji di meja makan. Aku berjalan menuju kulkas, mengambil es krim se-cup besar. Lalu aku bawa ke ruang tamu.
Aku nonton film sambil makan begitu banyak es krim. Baru setengah film yang kutonton, tiba-tiba ponselku berdering pertanda ada panggilan masuk. Nama Nyonya Lia tertera di layar, aku langsung mengangkatnya.
"Hallo Nyonya Lia," sapaku menempelkan ponsel ke kuping kanan.
"Hallo juga Nona Cecilia, bagimana kabar Nona? Apa Nona masih mengingat saya?" Tanya Nyonya Lia di seberang sana. Nyonya Lia adalah salah satu clientku yang paling baik.
"Saya baik, Nyonya. Tentu saja saya masih mengingat Nyonya Lia." Jawabku ramah.
"Tidak, saya tidak sedang sibuk, Nyonya. Kebetulan sekarang sedang libur bekerja."
"Benarkah, kalau begitu, bolehkah saya mengajak Nona menonton pertunjukan sore ini."
"Tentu saja bisa, Nyonya. Pasti saya akan datang," jawabku.
Setelah memutuskan panggilan dengan Nyonya Lia, aku pun segera berdiri walau kesulitan, sepertinya aku terlalu banyak makan es krim.
Menuju kamar, aku mandi dan bersiap untuk bertemu dengan Nyonya Lia. Begitu selesai. Aku turun ke bawah. Tiba di depan pintu utama, Pengawal berdiri menghadangku.
__ADS_1
"Tuan Jackson mengizinkanku untuk pergi, kalau kalian tidak percaya, kalian boleh mengikutiku." Jawabku berusaha meyakinkan para pengawal. Mereka saling menukar pandangan, namun akhirnya ikut naik ke mobil denganku.
Sesampainya di depan gedung pertunjukan, Nyonya Lia melambaikan tangan padaku dan aku langsung menghampirinya. Nyonya Lia menggandengku masuk ke dalam Aula, duduk di barisan VIP. Nyonya Lia membawaku melihat pertunjukan peragaan busana. Ketika masuk, acara sudah langsung dimulai. Para model dengan pakaian terbaru bercatwalk satu persatu menebar pesona keindahan pakaian yang mereka kenakan.
Pengawal berdiri di barisan depan untuk mengawasiku. Diam-diam, aku meminjam ponsel pada Nyonya Lia untuk mengirim pesan pada Hadden.
Semua gerak gerikku sangat rapi dan pengawal tidak menyadari sama sekali.
Kini, aku sendiri duduk di kursi ketika Nyonya Lia pamit pergi ke toilet.
"Dengar-dengar Nyonya Zea hamil, ya?" Pertanyaan seseorang di kursi barisan depan tak sengaja terdengar. Aku sedikit melirik dan memperhatikannya. Ternyata, dia adalah salah satu temen Brigita yang waktu itu juga ikut memukulku.
"Iya. Tapi kasihan, karena Tuan Jackson lebih mempedulikan simpanannya,"
"Cecilia maksudmu?"
"Tentu saja, siapa lagi wanita murahan yang terus mendekati Tuan Jackson."
"Wanita murahan itu benar-benar tidak tau malu!" Sautnya merasa jijik.
"Tenang saja, liat saja nanti, dia pasti akan menerima karmanya. Setelah menghancurkan rumah tangga orang lain, aku yakin dia juga akan hancur."
"Kau benar, haha," tawa keduanya.
__ADS_1
Aku terus mendengarkan ocehan mereka yang menjelekkanku. Kali ini, aku berusaha untuk sabar.