
Sampai di kamar, aku tidur hingga tengah malam. Begitu terbangun, aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, karena tidak nyaman tidur dengan tubuh yang lengkat serta merasa lesu.
Setelah mandi dan memakai piyama tidur, aku bersiap menuju ruang makan karena merasa lapar. Saat akan membuka pintu, ternyata Jackson juga mendorong pintu. Dengan tenaganya yang kuat, mampu membuatku terhuyung kebelakang karena kaget.
Beruntung Jackson menahan pinggangku hingga aku tak jatuh ke lantai.
"Kamu wangi," ujar Jackson Jackson tersenyum sekilas. Aku memperbaiki posisi dan segera berdiri.
"Tuan minum wine?" Jackson tak menjawab, namun langsung berlalu menuju ranjang dan duduk di sana.
Aku terpaksa mengurungkan niat untuk makan karena Jacksom memintaku mendekat.
"Tuan akan menginap di sini?" aku berjalan ke arah Jackson dan duduk di sampingnya.
"Aku datang kemari untuk memberitahumu, kalau aku akan lama baru akan datang ke Spring Mansion ini." Aku terdiam dan merasa wajar kalau Jackson pulang, karena ada Istri yang menunggunya di rumah. Aku malah sangat berharap Jackson tidak akan pernah datang kemari lagi seumur hidup.
Kulihat Jackson diam lalu menatapku sekilas, lalu berniat pergi. Sebelum pergi Jackson bertanya, "Apa kamu masih menerima pekerjaan?"
Aku langsung berkata, “Apa aku bisa menerima pekerjaan kalau diawasi Tuan Jackson 24 jam penuh?” ya, aku tau Jackson mengirimkan orangnya untuk mengawasiku selama dua puluh empat jam. Jackson memperketat pengamanan untukku sejak kejadian Brigita yang mencekaiku. Aku anggap perhatian Jackson adalah hal wajar yang akan dilakukan oleh semua pria bila memiliki wanita simpanan. Jadi, aku menyimpulkan bahwa Jackson melakukan itu adalah agar aku aman dari musuh serta istrinya Zea, yang mungkin saja juga ingin membalas dendam padaku.
__ADS_1
Jackson tersenyum dan terlihat sangat tampan namun juga berbahaya, “Baguslah kalau kamu tahu.”
Setelah kepergian Jackson, aku langsung menuju ruang makan, dan melahap makanan yang telah pelayan siapkan di atas meja. Begitu selesai, aku kembali menuju kamar untuk beristirahat.
Aku memilih rebahan di atas kasur, aku mengobrol lewat chat dengan Angela. Angela membujukku agar mengakhiri pekerjaan dari Zea. Aku tidak menjawab dan langsung menghapus histori chat. Lalu kembali melanjutkan tidur malam.
***
Senin saat masuk kerja, aku masuk mengantar kopi hitam ke ruangan Jackson. Rupanya Hadden juga ada di dalam. Hadden perhatian terhadapku, "Bagaimana kondisi luka Nona? Apa masih sakit?" Tanya Hadden.
"Sudah lebih baik, Tuan Hadden." Jawabku ramah.
"Iya, Tuan Hadden. Saya pindah ke Mansion Tuan Jackson." Aku menjawab jujur pada Hadden.
"Sepertinya kau lupa umur, Paman Hadden," sela Jackson cemburu dan langsung menyindir Hadden yang memang sudah berusia, namun usia tidak mampu menutupi ketampanannya.
"Dan kamu Cecilia. Aku tau kamu wanita murahan, tapi sadari posisimu saat sedang bersamaku." Sambung Jackson membuatku mengepalkan tangan, “Aku ingin meninggalkan kota ini, semakin jauh akan semakin bagus, CEO Hadden bisa mengantarku?” ujarku membuat Hadden dan Jackson saling menyindir karena merebutkanku.
Hadden pergi tidak lama kemudian. "Tuan, saya khawatir Hadden akan mengungkap masalah saya pindah ke Spring Mansion pada Peter."
__ADS_1
"Hadden tidak akan tega mencelakaimu." ujar Jackson santai.
.
.
.
.
Hallo reader semua, jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komen, vote, dan juga hadiahnya, ya. Lopeeeee sekebon untuk reader semua😘😘😘
terima kasih🙏
Jackson 😘
Peter😱
__ADS_1