Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 51


__ADS_3

"Hadden tidak akan tega mencelakaimu." Hatiku berdebar kencang akan perkataan Jackson. Aku merasa diriku bukan siapa-siapa bagi Hadden.


"Tuan jangan bicara begitu, saya bukan siapa-siapa bagi Hadden. Hadden juga bagian dari keluarga Liandra. Jadi, mana mungkin dia tidak berani mengadukannya kepada Peter."


"Tentu bisa kalau dia punya maksud lain padamu," aku mengerutkan alis berusaha mencarna apa yang Jackson maksud.


"Maksud Tuan Jackson apa?" Tanyaku heran.


"Menurutku Hadden menyukaimu. Bisa dilihat dari cara dia menatapmu dan perhatian kepadamu, tentu dia menyukaimu." Aku tau kalimat Jackson ini hanyalah candaan. Lagian mana mungkin Hadden menyukaiku. Tapi tetap saja aku jadi merasa malu sekaligus takut.


Aku sangat takut kalau sampai Hadden benar-benar menyukaiku. Hadden dan Jackson, mereka berdua sama-sama tidak bisa ditebak. Aku tidak ingin menambah masalah dengan terikat dan bisa saja juga terjebak dengan Hadden.


Tapi, entahlah. Aku tidak tau Hadden tulus apa tidak kepadaku. Tapi yang pasti, aku sedikit menaruh harapan kepadanya. Aku sangat berharap Hadden dapat melepaskanku dari Jackson.


Jackson kembali serius, “Jumat ini aku ada acara perjamuan amal, kamu ikut pergi denganku.”


"Maaf, saya tidak bisa, Tuan. Saya tidak ingin ada gosip miring lagi tentang kita berdua." Pertemuan dengan Zea saat mengantar dokumen saat itu saja sudah sangat memalukan, aku tidak ingin pergi dan kembali merasakan malu lagi.


"Saat aku mengatakan pergi, maka kamu harus pergi. Apa aku terlalu memanjakan mu hingga kamu berani menolakku." Jackson memaksaku dan aku mau tak mau harus pergi dengannya.

__ADS_1


Malamnya, aku tengah makan malam di ruang makan seorang diri, namun juga ada beberapa pelayan yang berdiri di sisi kiri dan kananku. Aku telah menyuruh mereka berdua pergi. Namun, mereka menolak dengan mengatakan kalau itu perintah Jackson.


Sepertinya Jackson tidak pulang ke Spring Mansion malam ini, aku merasa lega kalau benar begitu. Dia juga tidak meneleponku.


“Nona Cecilia, anda jangan marah, Tuan sangat menyayangi anda, bahkan Spring Mansion ini .…”


"Saya mau tidur," aku memotong ucapan pembantu dan bilang mau tidur. Saat ini Jackson menelepon ke Spring Mansion. Tapi, aku memerintah pembantu untuk tidak mengangkatnya.


Sekembali aku ke kamar dan mengunci pintu kamar. Aku mengangkat panggilan yang masuk dari Hadden. Kebetulan sekali aku juga sangat ingin berbicara dengan Hadden.


"Hadden," Sapaku cepat.


"Tidak, Hadden. Tidak sama sekali. Kebetulan aku memang tengah bosan." Aku berkata sambil merebahkan tubuhku ke atas kasur.


"Benarkah, baguslah kalau begitu. Bagaimana kabar Nona?"


"Aku baik, Hadden. Ngomong-ngomong apa ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"


"Hanya ingin memastikan kalau Nona baik-baik saja," jawab Hadden lembut.

__ADS_1


"Kalau begitu bolehkan aku mengatakan sesuatu?"


"Tentu saja, apa pun untuk Nona akan aku sanggupi kalau aku mampu," goda Hadden.


"Benarkah Tuan mau membantuku,"


"Tentu saja, katakan apa pun yang Nona Cecilia inginkan,"


"Aku ingin lepas dari Jackson. Aku mohon bantu aku untuk lepas darinya. Aku yakin Tuan Hadden bisa membantuku, jadi aku mohon bantulah aku, Tuan." Aku memohon agar Hadden menolong diriku untuk lepas dari Jackson.


Lama lenggang, hingga akhirnya Hadden berkata, “Aku bisa menolong Nona untuk lepas dari Jackson. Namun, aku akan menepati janji kalau Nona Cecilia memenuhi syarat dariku. Kalau Nona mau memenuhi syarat itu, maka aku berjanji akan segera menolong Nona Cacil.” aku terdiam dan menutup telepon dengan cepat.


Saat ini aku merasa sangat takut karena sudah terlalu banyak berbohong pada Jackson serta sudah sering bersandiwara.


***


Jumatnya, aku pergi ke acara amal bersama Jackson. Sesampai di sana, Jackson inisiatif berjabat tangan dengan seorang pria, “CEO Taylor.” CEO Taylor salah paham mengira kalau aku adalah Zea, istri Jackson. Aku merasa sangat malu dan menarik napas dalam-dalam.


"Maaf CEO Taylor, Nama saya Cecilia Humeera. Sementara saya masih Asisten pribadi Tuan Jackson. Tapi, kedepannya—" Ucapku memberanikan diri menjelaskan pada Taylor dengan tersenyum manis, tak lupa menggantungkan ucapanku.

__ADS_1


“Bagaimana menurut Tuan Jackson?” sambungku lagi.


__ADS_2