Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 73


__ADS_3

"Oh iya, apa kalian sudah mendapatkan kabar tentang Hadden?"


"Belum, Tuan. Terakhir, kami hanya mendapatkan kabar kalau Hadden pergi ke luar negeri. Tapi, ke mana Negera tujuannya? Kami tidak bisa melacaknya."


"Sial! Apa dia juga terlibat dalam insiden ini? Apa jangan-jangan ... Apa jangan-jangan dia yang telah menculik Cecilia?" Aku mengepalkan tangan seakan bersiap memberikan pukulan-pukulan di wajah Hadden.


"Itu juga yang kami pikirkan, Tuan. Tapi, bagaimana dengan Peter, Tuan? Apa rencana untuk menyerangnya kita ubah jadi menyerang Hadden?"


"Tidak, ini cukup rumit. Kirim mata-mata Mansion Peter. Tapi, pilih mata-mata yang benar-benar ahli, jangan sampai Peter mengetahuinnya," ujarku.


"Baik, Tuan."


***


"Ini berkasnya, Tuan."

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu tunggu, pergi!" Usirku pada Sekretaris Clara.


"Tuan, ada banyak masalah keuangan yang terjadi. Sebaiknya Tuan fokus pada perusahaan, Tuan sudah terlalu banyak minum," ucap Sekretaris Clara terlihat sangat ketakutan. Namun, sebagai sekretaris, dia harus melakukan tugasnya.


"Pergi!" Bentakku membuatnya terkejut, aku kembali meneguk anggur Langsung dari botolnya.


"Ta-tapi, Tuan. Dengan Tuan yang begini, masalah tidak akan selesai. Nona Cecilia tidak akan ditemukan dan Peter akan kembali merebut PT. Samudera Raya."


Pyaarrr!


Aku melempar botol anggur tepat melewati kepala Sekretaris Clara, pecahan kaca menggores kaki sekretarisku itu.


"Apa hanya sebatas itu usaha Tuan? Kalau memang hanya segitu, Tuan tidak pantas mendapatkan Nona Cecilia," ujarnya lalu keluar dari ruanganku tanpa mendengarkan teriakkanku yang memanggilnya.


Saat itu juga, aku melempar semua berkas penting yang ada di meja, termasuk komputer dan botol-botol anggur yang begitu banyak.

__ADS_1


Aku berjalan terhuyung-huyung, kakiku menginjak beberapa pecahan beling. Sakitnya tak aku rasakan, karena kehilangan Cecilia lebih sakit ketimbang tancapan beling itu.


Aku tidak menyalahkan perkataan Sekretaris Clara, karena dia memang benar. Seharusnya aku berjuang lebih untuk mendapatkan Cecilia yang kini entah di mana. Seharunya aku tidak menyerah begitu saja. Benar apa yang Sekretaris Clara katakan, dari awal, aku memang tidak pantas untuk Cecilia.


Kehilangan Cecilia membuatku terpuruk, benar-benar terpuruk sekaligus pasrah. Pasrah kalau aku telah kehilangan Cecilia untuk selamanya. Meski aku menerima dan pasrah kehilangan dirinya. Tapi, aku tetap tidak dapat melupakannya. Menyiksa dan menghukum diriku sendiri, adalah cara bagiku untuk menembus segala dosa perbuatan jahatku kepadanya.


Sebelum hancur begini, aku telah begitu banyak menerima kekalahan melawan Peter. Si tua Bangka itu, memang bukanlah tandinganku. Dia punya anggota gangster terhebat, melawanku bagaikan menjentikkan jarinya beginya.


Beberapa kali menyerangnya, beberapa kali pula aku hampir kehilangan nyawa. Belum lagi pengawalku yang kini semakin menipis akibat gugur kala melawan Peter. Tak hanya itu saja, PT. Samudera Raya pun semakin lama semakin merugi, harga saham melemah. PT. Samudera Raya nyaris mendekati bangkrut.


Aku heran, heran karena Peter tetap kuat tanpa PT. Samudera Raya, entah apa yang membuatnya kuat? Aku tidak tau. Sudah banyak anggotaku yang meninggal karena tak berhasil menemukan misteri tentang Peter. Dia masih misterius.


Hadden. Entah ke mana pria itu sekarang? Hati kecilku selalu mengatakan bahwa Cecilia pergi bersama Hadden. Dia lebih memilih Hadden daripada aku. Tentu saja, Hadden begitu lembut dan baik kepadanya. Tapi aku, aku malah terus menyiksanya. Mungkin, mereka berdua telah hidup bahagia bersama dengan Putraku.


Hingga saat ini, aku terus berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan. Kenyataan bahwa Cecilia akan lebih bahagia bersama Hadden dibandingkan bersamaku. Kenyataan itu terlalu berat, hingga aku lebih memilih menghukum diri daripada membenah diri.

__ADS_1


Aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Lalu menjulurkan tangan, memejamkan mata, mencabut beberapa pecahan beling yang tertancap. Perih, tapi jauh lebih perih hatiku. Biarkan aku menjadi pria lemah dan bodoh untuk saat ini. Merasa begitu lelah dan ngantuk, aku pun terlelap tanpa sadar. Begitu terlelap, aku merasa ada bayangan seseorang yang masuk ke dalam ruangan.


"Cecilia!"


__ADS_2