Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 24


__ADS_3

Begitu selesai dengan bukti yang siap aku berikan kepada Zea. Aku segara keluar dari Apartemen menuju parkir. Masuk ke dalam mobil. Lalu mengemudi menuju Cafe, tempat yang Zea janjikan.


Saat sedang fokus mengemudi, ponselku berdering pertanda ada panggilan masuk.


Aku meraba mencari letak ponselku di dalam tas, begitu mendapatkannya, aku langsung melihat nama yang tertera di layar kaca mengkilap itu.


"Hadden, ada urusan apa dia menelponku?" Gumamku sambil fokus mengemudi


"Hallo, ada apa Tuan Hedden?" Tanyaku begitu mengangkat panggilan itu.


"Apa tidak terbalik, Nona. Bukankah kamu yang menelponku semalam. Aku hanya menelponmu balik." Jawab Hedden dengan nada bersahabat.


"Ah iya, hampir lupa. Maaf, karena tadi malam sudah mengganggumu." Sautku memohon maaf.


"Tidak masalah, Nona Cecil. Bukan wanita yang penting." Jawabnya lagi.


"Syukurlah kalau begitu," jawabku "Em ... Tuan Hadden, apakah tuan akan jatuh cinta pada wanita yang telah menikah?" Tanyaku meminta pendapatnya.


"Tergantung, Nona. Jika itu cinta sejati, maka jawabannya iya." Jawab Hadden jujur. "Lalu, apakah Nona Cecil akan jatuh cinta kepada pria yang telah menikah?" Tanya balik Hadden padaku.


"Tidak!" Jawabku tegas.

__ADS_1


"Dengar, Nona Cecil. Jangan terlalu gampang membuat penilaian terhadap diri sendiri," jawabnya membuatku terdiam.


"Tuan Hadden tenang saja. Aku bukanlah wanita lemah yang biasa Tuan temukan di luar sana." Jawabku santai namun dengan nada bergetar.


"Ahaha ... Kalau soal itu aku percaya." Saut Hadden tertawa renyah.


"Oh iya, Nona. Apa Nona tau kalau Jackson yang telah memutuskan bisnis sugar daddy Aurel yang telah dibicarakan selama setengah tahun." Aku kembali terdiam, aku mengerti kalau ini adalah imbalan dari Jackson untuk apa yang telah aku lakukan dan aku berikan kepada Jackson semalam.


"Benarkah Tuan Jackson yang melakukannya?" Tanyaku pura-pura tak tahu.


"Apa semalam terjadi sesuatu, Nona Cacil?" Tanya Hadden membuatku menjawab tidak dengan tegas.


Huffff ....


"Kenapa semuanya jadi kacau begini. Ah iya, hampir saja lupa." Ujarku ketika melewati sebuah apotik.


Aku langsung memberhentikan mobilku di sana. Memarkirkan mobil, lalu segera turun dan berjalan menuju apotik yang berada di pinggir jalan.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?" Sapa seorang waiter di sana.


"Satu tablet obat kontrasepsi," pintaku tanpa berbasa basi. Waiter langsung mengambilkan obat yang aku butuhkan.

__ADS_1


"Ini, Nona." Ujarnya sopan sambil mengulurkan obat itu kepadaku, aku menerima obat kontrasepsi itu, lalu aku mengambil uang senilai seratus ribu, dan aku ulurkan ke waiter itu.


"Kembaliannya tidak usah," jawabku cepat dan langsung pergi tanpa mendengarkan ucapan terima kasih dari waiter tersebut.


Tiba di dalam, aku segara meraih air mineral yang selalu tersedia dalam mobilku. Lalu mengeluarkan sebutir pil yang tadinya aku beli.


"Yang kuning atau yang putih, ya?" Ucapku bingung. "Ah sudahlah, dua-duanya saja." Kesalku langsung meminum obat itu segera.


"Apa pun, aku mohon jangan hamil. Aku tidak ingin ada yang juga menderita bila lahir kedunia yang kejam ini." Ujarku sambil mengelus perlahan perut datarku.


Begitu selesai, aku kembali tancap gas menuju Moon Cafe.


Tiba di Cafe, aku langsung menuju tempat di mana Zea berada. Zea yang telah duduk di sana sedari tadi. Sepertinya Zea sangat senang, hingga dia datang lebih dulu dariku. Aku duduk tepat dihadapannya.


"Kita langsung ke intinya saja." Ucapku membuka suara. Aku meraba tasku, dan mengelurkan sebuah amplop berwarna putih. Aku mengulurkan barang itu dan menahannya di atas meja.


"Aku menginginkan tambahan 4 miliar," ujarku to the point.


"Hal mudah," jawabnya langsung mengeluarkan kertas berhaganya dan juga pulpen, kemudian langsung menuliskan nominal 4 miliar di sana.


Baru saja Zea selesai menuliskan cek, dia pun melihat Jackson tapat saat mengangkat kepala.

__ADS_1


__ADS_2