Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 34


__ADS_3

Pukul 23:55


Sudah menjelang tengah malam saat aku dan Jackson akan meninggalkan kuil, Jackson berjalan lalu masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di kursi kemudi.


"Masuk!" Titah Jackson ketika dia telah lebih dulu berada di dalam mobil.


Aku langsung membuka pintu mobil, kemudian mempoisisikan bokongku di kursi penumpang samping Jackson. Ketika tengah anteng duduk, aku melihat gerak-gerik Jackson yang mencurigakan, kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak sedang berpita indah berwarna pink. Aku segera mengalihkan pandangan berpura-pura cuek dan tidak melihat.


"Ini, ambillah," ujar Jackson dengan tetap mempertahankan raut wajah dinginnya.


"Apakah ini hadiah ulang tahun saya, Tuan? Wah, terima kasih banyak, Tuan," aku tersenyum senang ketika menerima hadiah Special darinya. "Apa Tuan sendiri yang memilih hadiah ini?" Tanyaku dengan raut wajah penuh arti.


Jackson benar-benar sangat dingin, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Dia bisa menggabungkan sikap romantis sekaligus dingin. Pria yang benar-benar sulit ditebak.


 


Jackson mulai memakai sabuk pengaman dan melajukan mobil. Tanpa mempedulikannya, aku segera membuka hadiah darinya.


Aku membulatkan mata sempurna ketika membuka kotak hadiah itu, aku benar-benar terkejut ketika melihat isinya, cincin berlian putih dengan batu mulia indah mengelilingi setiap sudutnya, bila diperhatikan lagi, terdapat ukiran nama di dalam lingkaran cincin itu. Tapi tidak jelas bila hanya dilihat dengan mata tel*njang. Sepertinya ukiran itu hanya dapat dilihat dengan alat khusus. Bodoh dengan hal itu, aku lebih memikirkan sedikit keganjalan di dalam hati ketika menerima hadiah penuh makna darinya.


"Kamu menyukainya atau tidak?" Tanya Jackson santai.


Aku merasa hadiah tersebut tidak sering digunakan walaupun sangat mahal, karena biasanya aku memang selalu membiarian jari manisku sepi tanpa cincin melingkari.


"Se-sepertinya hadiah ini tidak cocok untuk saya, Tuan." Jawabku membuat Jackson terdiam dan menggerakkan setir kemudinya.


Aku tiba-tiba berpikir mungkin ada arti lain dibalik hadiah ini. Cincin, bukankah ini berati ikatan sebuah hubungan yang jelas. Sedangkan aku dan Jackson ... Entahlah, aku benar-benar pusing dengan keadaan saat ini.


Aku berusaha memikir dan mencari alasan untuk menolak hadiahnya, kulihat Jackson menyipitkan mata dan melihatku sekilas, “Hadiah ini tidak semahal bayaran yang Istriku berikan padamu.” Jackson pendendam dan sering mengungkitnya. Aku diam tidak bicara. Selama diperjalanan suasana menjadi lenggang.


 


40 menit kemudian, mobil Jackson parkirkan di bawah apartemenku, lalu aku segera turun dari mobil.


"Bawa dan ambilah hadiah itu," ujar Jackson dingin.

__ADS_1


Aku ragu sesaat karena merasa serba salah. Aku tidak bisa kabur dari Jackson, dan juga merasa nyawaku dalam bahaya karena sudah mencelakai Andreas. Aku tidak ingin menyinggung Jackson dan kehilangan tempatku untuk berlindung.


 


Hingga pada akhirnya aku menerima hadiah itu. "Ulang tahun Tuan Jackson kapan?"


"Sudah lewat," jawabnya singkat dan cepat, raut wajahnya semakin dingin dengan rahang yang semakin mengeras.


 


Aku begitu terkejut karena ulang tahun Jackson sudah lewat.


"Apakah mau diganti?" Aku merasa konyol dengan pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulutku.


"Tuan menginginkan hal apa dari saya?" Sambungku lagi.


Jackson melepaskan pegangan di setir kemudi, “Kamu berhutang dulu padaku,”


"Sa—"


Bruumm!


Sejak saat itu, Jackson tidak pernah muncul lagi. Aku merasa tidak aman. Apa dia marah karena aku sempat menolak hadiah pemberiannya? Atau ada sesuatu yang dia rencanakan. Entahlah, tapi yang pasti aku begitu gelisah dengan situasi saat ini. Dia menunjukkan sikap peduli kepadaku, tapi dia sudah bersama dengan wanita lain. Tidak, ini bukan lagi tentang kepedulian, tapi sudah bisa dikatakan cinta. Tidak mungkin Jackson memiliki perasaan kepadaku bukan?


 


5 hari kemudian, aku baru bertemu dengan Jackson, aku melihat para kolega sedang bergosip tentang Jackson di loby kantor.


"Apa kalian tau? Tadi pagi aku tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Jackson. Ya Tuhan ... Tatapan matanya yang tajam benar-benar menyentuh hatiku. Ingin sekali aku memilikinya," kudengar salah satu dari mereka berbicara.


"Tidak mungkin Tuan Jackson mau denganmu, jangan mimpi di siang bolong. Tapi, Tuan Jackson benar-benar tampan, nyaris sempurna. Jika saja dia bisa tersenyum, seluruh dunia ini pasti akan ikut meleleh. Beruntung sekali wanita yang akan memilikinya," sambung satunya.


"Membosankan sekali, aku bahkan sudah pernah tidur dengannya," umpatku dalam hati kembali akan melangkah.


"Apa ada berita hangat yang kini baru beredar, berita ini tentang Cecilia Asisten baru Tuan Jackson," aku seketika melambatkan langkahku, kala mendengar namaku yang mereka gosipkan.

__ADS_1


"Benarkah, apa itu?"


"Ceceilia itu adalah wanita murahan yang sangat menjijikkan. Dia berani tidur dengan para pria kaya demi mendapatkan harta," jawabnya dengan eskpresi jijik.


"Hey, berhenti bicara, ada Cecilia," bisik pelan salah satu dari mereka ketika melihatku.


Aku tidak peduli dengan mereka semua, aku terus melangkahkan kakiku hingga melewati ruangan Direktur dan terbiasa mengintip melalui jendela. Kulihat Jackson sedang membaca file di belakang mejanya. Duduk disingasana dengan raut wajah yang tampak begitu serius.


"Salah satu gosip mereka ada benarnya, Jackson memang sanga tampan. Apalagi di saat dia sedang serius begitu," batinku menikmati pemandangan indah itu.


 


Aku langsung menyadarkan diri dari keterkaguman, kemudian kembali ke ruanganku dan membuka komputer untuk mencari majalah populer edisi terbaru.


"Hot news, Jackson Baldev Direktur PT. Samudera Raya tertangkap sedang berjalan-jalan bersama seorang wanita yang diketahui adalah Sekretaris sekaligus Asisten Pribadinya. Dari kedekatan keduanya, tampaknya tidak mungkin bila keduannya tidak punya hubungan spesial." Aku merasa begitu geram ketika membaca berita itu. Rupanya telah heboh, aku dan Jackson tertangkap paparazi saat berada di kuil.


 


Tidak ada kolega yang gosip terang-terangan, semua membahasnya di belakang dan seluruh perusahaan jadi heboh.


"Sial! Apa karena ini Jackson tidak mau menemuiku selama 5 hari ini!" Ujarku kaget.


Asisten Clara sedang cuti 2 minggu pulang kampung karena menikah. Dan akhirnya akulah yang akan bertanggung jawab atas tugas yang belum diselesaikan Clara. Aku mengantar laporan proyek terkini untuk Jackson.


Tok! Tok!


"Apa saya boleh masuk, Tuan?" Tanyaku sopan layaknya seorang karyawan biasa.


Tidak ada sautan membuatku langsung membuka pintu lalu menutupnya lagi.


"Tu-tuan," kagetku kala Jackson memeluk dari belakang.


“Suasana hatiku sedang buruk.” ucapnya akan mencium leherku.


Aku menghindari ciuman Jackson di belakang leherku lalu berkata, "Saya tidak pernah jadi simpanan siapa pun sebelumnya. Jadi, tolong jaga tindakkan, Tuan." ujarku melepaskan diri dari pelukkannya.

__ADS_1


Jackson tersenyum kemudian berkata, "Apa kamu mau jadi simpananku?" Tanyanya seperti perintah. "Aku bisa memenuhi semua kebutuhan hidupmu," sambungnya lagi kembali meraih tubuhku masuk ke dalam pulukannya.


"Kamu mulai menggoda pria sejak umur 22 tahun dan kini sudah 5 tahun. Cecil, kamu berani menggoda pria yang paling hebat?" Ujarnya sambil mendekatkan wajah, mengarah bibirnya ke bibirku.


__ADS_2