
"eh eh aku denger dari bagian resepsionis katanya istrinya boss dateng lho" ___ "Iya katanya cantik banget"___ " Wah gimana tuh si Melisa, batal dong jadi nyonya muda hahaha" ___" sok ganjen sih" ___" palingan istrinya si boss itu dateng gara-gara mau labrak si melinda" tanpa mereka sadari orang yang sedang mereka bicarakan itu tepat di belakang mereka terhala oleh Joon Woon yang memang sengaja berdiri di depan Hasya untuk melindungi Hasya kalau-kalau liftnya penuh seperti sekarang, sedang anak-anak mereka lebih memilih ikut tantenya makan gelato sejenis es krim khas dari negara Italia di kafe baru buka dekat kantor mereka beberapa mingggu lalu.
"Melinda? sepertinya aku pernah dengar tapi di mana ya?" batin Hasya sedikit terusik dengan topik bahasan para pegawai apalagi mereka menyebutkan bahwa hubugan Zehan dan perempuan yang bernama Melinda itu sepertinya cukup dekat.
"Joon, kita langsung pulang aja, aku capek" pinta Hasya saat orang-orang itu keluar di lantai tujuan mereka. Tanpa bertanya Joon Woon langsung menekan lantai G, atau lantai pertama yaitu area Lobi. Padahal tujuan mereka ke lantai lima belas yaitu lantai ruangannya Zehan hanya tinggal 3 lantai lagi saja.
Hasya berdiri di depan lobi menunggu Joon Woon mengambil mobil, kepalanya tertunduk karena sedang mengechat Zia, sekalian minta pada Zia untuk nanti mengantarkan anak-anak ke mantion sekaligus pamit dengan alasan kakinya tiba-tiba sakit juga lelah karena efek kehamilannya. Zia pun mengiyakan.
Sesampainya di rumah Hasya langsung masuk ke kamarnya, Bi Ani yang melihatnya langsung bertanya pada Joon Woon karena tumben sekali Hasya tidak menyahuti salam darinya.
"Non Hasya kenapa Joon?" tanya Bi Ani.
"Biasalah bi, tadi di Kantor belum sempat ketemu sama Tuan, Bu Hasya malah denger suaminya selingkuh, ya meski ngga tau pasti kebenarannya, tetap aja kan namanya perempuan suka gampang baper." kata Joon Woon berusaha bersikap netral.
"Kalo Tuan Zehan selingkuh kayaknya ngga mungkin deh Joon," rengut Bi ani skeptis.
"Makanya tadi aku bilang, perempuan itu gampang baperan"
__ADS_1
"Ah kamu Joon, kayak yang tau aja, punya pacar aja kamu ngga punya, sok-sok an nilai perempuan itu baperan."seloroh bi Ani seraya memukul lengan Joon Woon, ngga kenceng, tapi tetap terasa pedas di lengannya Joon Woon.
"Andai dia tau bagaimana cemburunya nona Deliza" ungkapnya dalam hati, namun begitu ia tetap berusaha tersenyum meski dipaksakan. (Kasian Joon Woon, kekasihnya masih berwujud bocah😅)
...----------------...
Sekitar hampir isya Zehan sudah pulang ke rumah, anak-anak yang sedang belajar di ruang keluarga sambil di temani nyala tivi langsung berhambur menyambut papa mereka. Jika ditanya bagaimana sikap Zehan dan Hasya terhadap Deliza, tentu aja sikap mereka makin menyayanginya, makin melimpahkan kasih sayang dan memanjakannya, apalagi kebenaran tentang anak itu sangat memilukan untuk anak yang seharusnya berusia remaja itu. Karena keserakahan atas warisan peninggalan orang tuanya ia harus sampai kehilangan dirinya yang sesungguhnya. Mereka tetap memperlakukan Deliza seperti anak seumurannya, begitupun Zesya tetap memperlakukan Deliza sebagai adiknya. Sikap asli Deliza akan berubah ketika berhadapan dengan Joon Woon, dihadapan pemuda itu ia sama sekali tidak ingin dianggap anak-anak berusia sepuluh tahun. Karena itulah Deliza sering mendapat ancaman akan menyekolahkan dia diasrama khusus wanita jika ia tidak menjaga sikapnya terhadap Joon Woon. Tapi meski begitu Zehan dan Hasya juga tidak menolak jika suatu saat Joon Woon menjadi menantu mereka jika usia Deliza sudah 24 tahun, usia yang sama saat Hasya menikah. Maka dari mereka lebih menekankan pada Joon Woon agar bisa lebih sabar dan bisa menahan diri terhadap segala tingkah laku Deliza. Setidaknya Joon Woon sudah punya lampu hijau dari Zehan dan Hasya, hanya menunggu waktu saja.
"Pah, tadi kita ke kantor papa lho" Deliza mulai bercerita.
"Hah?? Kok papa ngga tau?"
"Kalian ketemu Zia juga?"
"Iya pah, tante Zia papa lagi ada rapat penting makanya ngajakin kita makan es krim dulu, tapi pas kita lagi makan es krim mama malah pamit sama tante Zia, katanya kaki pegel-pegel jadinya pulang duluan" jelas Deliza.
"Ya udah kalo gitu papa ke kamar dulu ya, papa mau mandi, tapi kalian tidurnya jangan terlalu malem, ingat besok hari pertama kalian di sekolah kalian yang baru, jangan sampai mama kalian merepet seperti sirine polisi pas nyiapin kalian berdua yang telat ke sekolah.
__ADS_1
"Siap pah" Deliza dan Zesya tersenyum lebar sembari memberi hormat komandan pada papa mereka.
...****************...
Zehan membuka pintu kamar, lalu memasukan sedikit kepalanya mengintip apa Hasya sudah tidur atau belum. Ia pun melihat Hasya sedang berbaring miring ditopang bantal hamilnya membelakangi pintu. Ibu hamil memang lebih suka tidur dalam posisi tersebut dibandingkan tidur terlentang. Namun Zehan melihat sedikit keanehan pada Hasya tidak biasanya ia tidur dengan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, tertutup dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu kenapa Sya, ada yang kerasa?" kata Zehan sambil perlahan membuka selimut yang menutupi wajah Hasya, ia sedikit terkejut melihat Hasya yang tertidur namun seperti habis menangis lama, ia terlihat dari bantalnya yang masih agak basah, juga sisa air mata di pipi Hasya. Zehan tahu Hasya masih belum terlalu pulas itu terbukti dengan Hasya masih sesenggukan tipis juga kerut di dahinya yang masih terlihat kencang seperti sedang menahan sesuatu.
"Sayang, kamu ada yang sakit?" tanya Zehan sekali lagi, perlahan Hasya pun membuka matanya.
"Kamu sudah pulang mas, maaf aku ketiduran, kamu udah makan? udah sholat isya belum?" kata Hasya terkejut salah tingkah sambil berusaha bangun untuk duduk dari posisinya. Tanpa menjawab semua pertanyaan Hasya, Zehan langsung merangkul tubuh Hasya dan mendekapnya lembut.
"Sayang, aku ngga tau, hari ini kamu kenapa? bertemu siapa? atau mendengar apa hingga membuatmu sekacau ini. Tapi tolong ingat satu hal saja. Aku hanya mencintaimu seorang, dan kamu satu-satunya ratu di rumah ini, juga satu-satunya permaisuri satu-satunya dalam hidupku. Jika kamu kecewa padaku tolong katakan biar aku berusaha untuk memperbaikinya" alih-alih menyahuti kata-kata Zehan, Hasya justru kembali menangis sejadi-jadinya. Kata-kata Zehan seolah menohok uluh hatinya sekaligus menjawab semua kecurigaannya seharian ini.
"Maafin aku mas,, hiikss ngga seharusnya aku curiga padamu hanya karena mereka lebih sering berada di sekitarmu" ungkap Hasya yang kalimatnya tersendat-sendat karena sesenggukan.
"Jadi benar, hari ini kamu ke kantor mas?" kata Zehan sambil perlahan melepaskan rangkulannya, kepalanya sedikit miring untuk mencari wajah istrinya yang tertunduk. Hasya mengangguk sambil berusaha meredakan senggukannya. Lantas Zehan mengambil segelas air yang berada di atas nakas lalu memberikannya pada Hasya, Hasyapun meminumnya hingga tandas.
__ADS_1
"Jadi, apa yang mereka bicarakan hingga membuat ratuku ini sedih, heh??" rayu Zehan lembut pada istrinya yang sedang cemburu buta itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...