
Zesya terlihat masih berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya menunggu mamanya datang untuk menjemputnya.
"Iiissh mama pasti lupa jemput lagi" gerutu Zesya sembaru menendang-nendang krikil jalanan.
"Lho ? Zesya belum di jemput mamanya ya?" tanya seorang guru yang memang sengaja menghampirinya karena takut malah ada seseorang yang berbuat jahat jika Zesya terus berdiri di sana seorang diri saja. Zesya hanya mengangguk pelan pada gurunya itu.
"Kalau gitu Zesya tunggu di dalem aja. bahaya kalau terus berdiri di sini" ajak gurunya. Zesya pun mengikuti ajakan gurunya tersebut. Karena ia sendiri sudah merasa sedikit pegal pada kakinya.
30 menit berlalu namun Hasya masih belum menampakan batang hidungnya. Zesya yang sedari tadi mulai gusar ditambah perutnya mulai keroncongan karena memang sudah hampir waktunya jam makan siang.
Ketika sedang bosan itu tiba-tiba Zesya melihat pak Amin tukang ojeg langganan Bi Rani, ARTnya. Menurunkan penumpang yang tidak lain masih staff sekolah Zesya.
"Pak Amin..!!" teriaknya Kemudian Zesya pun mendekati pak Amin yang belum menyadari keberadaan Zesya.
"Harr.. Naha acan uwih Den?" ( Lho kenapa belum pulang, Den?)
"Mama nuju sibuk siga na mah pak," (mama lagi sibuk kayaknya pak)
" Nya tos atuh hayu uwih sareng bapa we, pamit wawartos heula ka ibu guru na bilih melangeun" (Ya udah, ayo pulang bareng bapak aja, pamit, bilang dulu sama ibu gurunya, biar ngga cemas) Zesya lalu segara masuk ke dalam ruang kantor guru untuk berpamitan pulang pada gurunya. Dan supaya bu gurunya bisa memastikan orang yang akan membawa Zesya akan pulang dengan selamat.
"Oh Pak Amin, nya sok atuh, titip nya pak Min"
" Siap bu, di jamin langsung dianterkeun ka bumi na" Zesya pun segera naik di jok belakang pak Amin agar segera bisa pulang ke rumahnya.
"Pak tapi nanti mampir dulu ke toko mama ya"
__ADS_1
"Siap den!" mereka pun segara berlalu dari sekolah Zesya menuju ke toko bunga Hasya.
...****************...
Siang itu cukup terik jika saja bukan daerah perkebunan teh, sudah pasti Zehan akan sangat merasa sangat kepanasan. Zehan dengan beberapa pengambang sedang melihat wilayah yang akan mereka bangun dari area perbukitan namun masih bisa melihat dengan jelas keadaan laju kendaraan yang hilir mudik di jalanan.
" Saya rasa semuanya sudah ok, hanya perlu beberapa revisi saja " para pengembang, arsitek, juga para memilik lahan mengangguk-angguk paham.
Proyek pengembangan jalur wisata selatan ini harusnya menjadi proyek yang cukup besar namun beresiko bisa menjadi lahan basah kor*psi jika tidak di awasi dengan ketat. Meski sempat mendapatkan penolakan, namun pada akhirnya Zehan bisa meyakinkan bahwa pengambangan jalur wisata selatan itu tetap di kelola oleh dan untuk masyakat sekitar.
Survey pun berjalan lancar. Sedang yang lain makan siang bersama di sebuah restoran, Zehan memisahkan diri untuk melihat-lihat suasana tempat tersebut dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit ia berjalan santai sekilas ia melihat seorang anak laki-laki yang mirip dengannya saat ia kecil baru saja turun dari motor masuk ke dalam sebuah toko bunga yang berada di dalam gang tersebut.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kencang, tanpa berpikir panjang ia pun bergegas menuju ke toko bunga tersebut.
"About Flowers" gumamnya, wajahnya nampak serius saat melihat nama toko tersebut.
"Selamat datang di toko kami ada yang bisa kami bantu pak?" sambut seorang gadis pramuniaga toko tersebut.
"Anu, permisi mbak, saya mau tanya, tadi sepertinya saya melihat seorang anak laki-laki masuk ke toko ini. Apa saya boleh bertemu dengannya sebentar. Karena saya harus memastikan sesuatu "
"Hmm... Anak laki-laki?? Oh mungkin maksud bapak Den Zesya, sebentar saya panggilkan dulu" Zehan mengangguk mengulas senyuk pada gadis tersebut.
"Maaf bapak siapa ya, ada perlu apa mencari saya?" tanya Zesya waspada pada Zehan yang sedang melihat-lihat toko bunga mamanya itu.
"Deg !!"Zehan menelan salivinya dengan cepat, entah kenapa suara Zesya sangat menggetarkan perasaan. Detak jantung berdetak lebih cepat dari saat ia berlari mengejar Zesya ke toko tersebut. Jantung seolah akan meledak padahal Zehan belum berbalik menghadap Zesya yang sedang memperhatikan punggungnya yang tinggi. Dan saat berbalik, air mata dari mata sebelah kanannya tiba-tiba saja meluncur bebas begitu saat melihat rupa anak itu. Matanya terbelalak membulat, manik matanya makin bergetar dan terendam air mata ketika memperhatikan Zesya lebih cermat lagi, dan ia ingat jika wajah anak itu ternyata sangat mirip dengan dirinya semasa kecil. Buru-buru ia menyeka air matanya sekaligus menenangkan perasaannya, Zehan lalu mendekati Zesya yang tertegun dingin tak bergeming, mereka saling melempar tatapan, menelisik satu sama lain dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1
" Ha.. Haaii.." sapa Zehan, namun Zesya masih tidak bergeming ataupun merubah ekspresi wajahnya yang judes. Merasa canggung Zehan pun mendekati Zesya lalu mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
"Hai,, ehmm.. kenalkan nama Om, Zehan."
"Zehan Akhilendra Hirawan? Sungguh?" tiba-tiba saja sorot mata Zesya yang dingin berubah menjadi binar ceria yang hangat mengalir dalam hati Zehan.
"Ah.. ya.. itu saya." ucap Zehan mengulas senyum paling manis pada Zesya.
"Kenalin Om, namaku Zesya. Om yang pernah muncul di tivi kemarin kan, wah hebat Zesya bisa ketemu Om langsung" ungkap Zesya dengan mata berbinar.
"Hmm itu aneh, biasanya anak seusia kamu sukanya game atau tokoh-tokoh anime"
"Saya juga tetap suka, tapi kan bukan berarti dunia anak kecil hanya game dan anime saja kan, om?" gimik Zesya saat menyambut uluran tangan Zehan seperti orang dewasa saja. Dan tidak butuh waktu lama untuk bisa larut dalam obrolan seru. Tidak terasa 2 jam berlalu, tiba saatnya Zehan untuk pamit karena masih ada pekerjaan namun ia berjanji lain waktu ia akan datang lagi setelah memberikan nomor whatsappnya pada Zesya.
"Baiklah, kalo begitu om pamit dulu. Om masih ada pekerjaan soalnya. Hmm om usahakan hari minggu ini Om akan datang lagi, ok?"
"Ok om,, ya siapa tau nanti Om bisa kenalan sama mama aku"
"Nanti mama kamu jatuh cinta lho sama om, nanti papa kamu gimana?"
"Kalo memang papa ku sayang mama, pasti papa tinggal sama kita om, tapi sejak aku lahir, aku belum pernah ketemu papa, kata mama papa sibuk jadi belum bisa ketemu kita lagi" mendengar penuturan Zesya jelas sedikit mengusik batinnya, antara terkejut heran dan kasihan juga ada rasa tersindir. Karena kurun 7tahun, tetap saja sebagian besar waktu habis untuk pekerjaan, dan setiap menerima laporan jika Hasya belum juga ditemukan maka ia akan pergi bermabuk-mabukan.
"Kamu pernah nanya papa mu kerja apa dan di mana?" Zehan tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kata mama, papa itu pengusaha yang tinggal Jakarta. " sekali lagi detak jantung Zehan seperti tersengat listrik saat mendengar penuturan Zesya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...