
Keesokan harinya saat pagi menyingsing mentari dengan hawa yang terukur masih sangat dingin dengan suhu sekitar 13 sampai 15°C tidak mengurangi keceriaan Zesya dan Deliza yang sedang bermain kejar-kejaran, sedang Zehan barjalan santai sambil mengawasi kedua bocah itu sekaligus menemani Hasya. Terutama di usia kehamilannya yang makin membesar Hasya memang sangat dianjurkan untuk selalu aktif bergerak, salah satunya dengan berjalan-jalan pagi seperti sekarang sebagai penggabti alternatif olahraganya, ya meskipun Hasya setiap malam selalu melakukan latihan pernafan dengan latihan Yoga, ia juga masih sibuk di toko meski sebagian besar urusan toko sudah di handle oleh Diana. Namun olahraga pagi ditemani suami tercinta tetap tidak boleh dilewatkan, karena hanya dua kali saja dalam seminggu Hasya bisa melakukan hal itu. Sesekali mereka juga di sapa dan menyapa warga sekitar yang juga sudah terlihat mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang sedang menyampu halaman rumah mereka, ada juga yang sudah menjemur pakaian, ada juga yang sudah sibuk dengan peralatan perkebunan mereka.
Zehan sendiri sudah mulai terbiasa dengan suasana dan lingkungan tempat tinggal Hasya di sini. Beberapa kali juga Zehan dan Hejun pun ikut bersiskampling ronda dengan para pemuda dan bapak-bapak di sana. Tentu saja yang lebih rutin melakukan semua itu adalah Joon Woon karena dia memang tinggal bersama dengan Hasya, ia bertugas untuk menjaga sekaligus mengawal Hasya juga anak-anak. Meski sebelumnya Hasya menolak hal semacam itu. Namun akhirnya ia mengalah demi keselamatan anak-anaknya. Biar bagaimanapun posisi Zehan bukanlah posisi yang membuat dirinya dan keluarga bebas dari protokol pengawalan seperti orang pada umumnya.
Tidak Hasya pungkiri juga bahwa selama masa pelariannya dulu, Nayuwan bahkan menaruh puluhan pengawal bayangan yang mengawasinya 24jam. Dan tanpa Hasya sadari bahkan perempuan memasang pagar ghoib untuk dirinya, namun tetap saja serangan dari manusialah yang paling berbahaya di dunia ini.
Karena kepatuhannya itulah Joon Woon sudah seperti AKAMSI alias anak kampung sini, ia bahkan cukup populer dikalangan para warga di sana. Para orang tua, bahkan tidak segan menjadikan kandidat calon suami dan menantu idaman mereka. Sosoknya yang tampan, meski tidak terlalu suka banyak bicara, tapi ia sosok yang kepada siapapun. Dan selama Zehan atau Hasya mengatakan "iya boleh" ia hampir tidak pernah menolak ajakan untuk kegiatan yang diadakan para warga.
"Kamu lelah sayang?" tanya Zehan menoleh seraya menatap lembut pada Hasya.
"Tidak apa-apa, baru juga sebentar kita jalan-jalannya, nanti kita bisa istirahat di ujung sana saja sekalian sarapan, hari ini aku ingin makan nasi kuning" jawab Hasya tersenyum lembut menghindari tatapan suaminya yang membuat pipinya merona.
"Baiklah, kita jalan pelan-pelan saja."tanpa menunggu perintah Hejun pun menyusul Joon Woon yang sedang bermain kejar-kejaran atau mungkin dia sedang bermain kucing-kucingan dengan Deliza dan Zesya. Melihat tawa lepas ceria dari seorang Joon Woon dan Hejun bersama anak-anak. Mereka baru menyadari satu hal. Joon Woon dan Hejun tetaplah seorang anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Dan ketika bersama Deliza dan Zesya-lah, Joon Woon dan Hejun bisa seperti kembali menikmati moment masa kecil merek yang cukup suram.
"Anak-anak itu sudah tumbuh besar rupanya?" ucap Zehan.
"Maksud Mas Hejun dan Joon Woon?"
"Haaah..Ya siapa lagi?" Zehan menghirup oksigen banyak-banyak lalu melepaskannya kembali dengan perlahan.
"Dulu saat bertemu mereka, tubuh mereka bahkan tidak sebesar itu. Hejun masih lebih baik karena waktu itu ia di rawat oleh panti. Sedang Joon Woon, saat Gibran membawanya beserta adiknya dari Korea, keadaannya benar-benar menyedihkan. Tapi sekarang dia tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah, adiknya juga menjadi gadis yang baik dan cantik."
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat mengenal mereka semu ya mas?"
"Tentu saja, bukan kah aku yang merawat mereka"
"Jatohnya seperti malika ya mas, yang dibesarkan dengan setulus hati seperti anak sendiri" kekeh Hasya.
"Kau ini, bisa saja." Zehan ikut tertawa.
"Tapi yang membesarkan mereka kan mama dan papa, aku lebih seperti seorang kakak yang memiliki banyak adik" kata Zehan lagi. Tiba-tiba Hasya berhenti kemudian menghadap Zehan tangan merentang lebar.
"Mau peluk aku?" kata Hasya malu-malu. Zehan menahan diri untuk tidak memperlihatkan sikap salah tingkahnya secara berlebihan. Beberapa detik kemudian Zehan meraih tubuh Hasya dan memeluknya dengan nyaman.
"Aduh enjing keneh meni tos romantis ih si Aa sareng Si neng, " goda seorang ibu-ibu yang tengah berladang. Yang tentu saja membuat Zehan dan Hasya saling melepaskan pelukannya masing-masing karena malu mendapatkan ledekan dari warga yang sedang di ladang.
"Wiit wiiww.." "suiittt suiit" " isuk keneh geura haredang kumaha peting na yeuh" "rungkad ah sayang" "hahahahahhahahah" mereka saling bersahutan berkelakar. Zehan dan Hasya hanya berusaha untuk tetap tenang dengan menahan diri untuk tidak "mereog salah tingkah" senyum merekapun berusaha mereka kulum namun tetap gagal menyembunyikan rona merah di wajah mereka.
"Jangan lari-lari begitu Nak, nanti jatuh" kata Hasya sedikit berteriak khas emak-emak yang menghardik anaknya.
"hup!!" Zehan berhasil menahan kedua anaknya sebelum mereka menabrak tubuh Hasya.
"Kalian ini, mulai nakal ya!! Dibilangin jangan lari-lari. mmuuach mmuuah" Zehan dengan gemas menciumi Deliza dan Zesya yang meronta karena kegelian..
"sudah pah. hahahhaaa sudah... ahahaha ammpuuun hahhaah" kata Zesya dan Deliza bersahutan.
__ADS_1
"Gimana tadi kalo sampe nabrak mama ! hah ??! hah??!" ucap Zehan lagi lagi berkata dengan gemas dan terus menghujani Zesya dan Deliza dengan kelikan serta ciuman.
"Kamu kenapa Joon, senyum-senyum begitu?" tanya Hejun dengan nafas yang masih memburu.
"Ah tidak apa-apa. Aku senang saja melihat keluarga ini sangat harmonis. Bukankah kita sangat beruntung karena bertemu dan hidup diantara mereka yang memiliki cinta dan kasih sayang sebanyak mereka" Hejun menatap lekat-lekat wajah pemuda tanggung yang berdiri di sampingnya lekat-lekat, setelah ia melihat kehangat jalinin keluarga kecil Zehan.
"Sok dewasa," julid Hejun.
"Bang, apa kamu pernah jatuh cinta?" Kata Joon Woon sambil terus melihat keluarga Zehan yang sedang akrab bermain-main. Namun pertanyaan itu malah membuat Hejun curiga pada Joon Woon.
"Tentu saja, makanya tahun ini aku akan menikahi wanita pujaan hatiku, bahkan tuan yang akan melamarkan gadis itu untukku" ucap Hejun menyombong.
"WAAAHH... BENARKAH?!!" kata Joon Woon excited dalam bahasa Korea.
" Iya, tentu saja. Untuk apa aku bohong" kata Hejun menyahuti Joon Woon dengan bahasa kantonis.
"Ciih sombong" decih Joon Woon, yang tentu saja makin membuat Hejun jumawa dibuatnya.
"Kenapa?? kamu iri?" kata Hejun sambil memangku tangan.
"Tidak, untuk apa aku iri. Toh aku belum ingin menikah. Aku kan masih MU-DA" ucap Joon Woon menekankan kata muda seraya menaik turunkan kedua alisnya, serta bibir yang tersenyum lebar songong kepada Hejun.
"Yaaish!! Shibal Sae-kki-ya" umpat Hejun sambil berlari mengejar Joon Woon yang sudah berlari meninggalkan dirinya sambil terus memeletkan lidah serta menaruh kedua tangannya di dekat telinganya, jelas itu adalah sikap paling menyebalkan saat mengolok-ngolok seseorang seperti Hejun.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...