The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 95


__ADS_3

"Maa... !! Maa..." teriak Deliza saat baru sampai mulut teras rumah. Mama Hasya yang sedang menata vas bunga melongok sambil mengerutkan dahinya.


"Ma.. Maaa" lagi suara Deliza dan lebih nyaring dari yang pertama


"Masuh rumah itu ucap salam Del," tegur mamanya Hasya.


"Eh nenek, Assalamualaikum nek" Deliza mengucap salam seraya mencium punggung tangan neneknya.


"Waalaikumsalam"


"Mama mana, nek?" tanya Deliza mengecilkan suaranya.


"Ada di kamar, kamu kenapa terburu-buru gitu?"


"Iya nek, lagi dikejar setan soalnya"


"Huus kamu itu, pamali. inget mama kamu lagi hamil"


"Ups,, maaf nek, keseringan lihat yang begitu atuh da" ucap Deliza dengan senyum canggung dipaksakan lantas ia pun berlalu menuju kamar Hasya. Perempuan paruh baya itu hanya bisa menggeleng dengan tinggal bocah kelas 4 SD itu. Tidak lama kemudian Zesya muncul dengan wajah kusut, ia memberi salam juga mencium tangan neneknya. Berbeda dengan Deliza yang masih powerfull baterai, Zesya mungkin hanya tersisa 40% persen saja sisa tenaganya. Ia berjalan gontai menuju kamarnya.


"Eh kamu udah pulang nak?" sambut Hasya ketika melihat Deliza masuk ke kamarnya.


"Iya mah, barusan." ucap Deliza sambil mencium tangan mamanya.


"Atuh kenapa langsung ke sini bukannya ganti baju dulu"

__ADS_1


"Itu nanti aja" tolak Deliza


"Hmmm.."


"Yang terpenting sekarang, aku mau pinjem ponsel mama"


"ponsel? Buat apa?" tanya Hasya heran. Ya Zesya dan Deliza belum diizinkan memegang ponsel sepanjang waktu. Sesekali saja, paling itupun lebih sering digunakan bersama saar videocallan saja. selebihnya mereka menggunakan laptop itupun hanya boleh 3jam/hari, tujuannya tentu saja agar bisa mengontrol Zesya dan Deliza menggunakan akses internet hanya untuk seefisien mungkin hanya untuk belajar saja.


"Aku mau telepon wawa Nayuwan, Deliza kangen mah"kata Deliz memberi Hasya alasan yang masuk akal agar bisa meminjam ponsel mamanya. Hasya pun segera mengambil ponsel S23 dari atas nakas lantas segera memcari kontak Nayuwan lalu menghubungkannua sesuai permintaan Deliza.


"Halo"


"Halo teh ini kata Deliza kangen"


"Oh iya Sya, coba videocalls aja." Hasya pun memberikan ponsel miliknya pada Deliza dan membiarkannya membawa ponselnya keluar kamar, melihat hal itu Hasya hanya menghedikan bahunya tidak mengerti. Di saat seperti itu Hasya kadang merasa kalo sikap adab sopan santun Deliza itu seperti orang dewasa.


"Wawa kapan bisa ke sini ?"


"Entahlah aku cukup sibuk mengurusi si kembar" ucap Nayuwan acuh tak acuh pada Deliza. Meski begitu Nayuwan memperhatikan dengan serius pada hasil tangkapan kamera belakang yang diarahkan Deliza.


"Tunggu Del" seru Nayuwan tiba -tiba dan langsung membuat langkah Deliza terhenti.


"Kurang ajar !!! Siapa yang berani mencoba merusak "benteng" yang aku buat!!" geram Nayuwan setelah melihat kilatan berkilauan, pertanda ada seseorang yang sedang berusaha merusak segelnya.


"Jadi ini yang ini alasanmu,kenapa aku harus ke sana sekarang?"

__ADS_1


"Ya begitulah, tapi yang terpenting bukankah saat ini, sangat berbahaya bagi mama kalo sampai benteng itu rusak, terlebih mama sedang hamil pasti aroma manis dari calon adikku lebih menggoda mereka, dibanding mengambil paksa rohku kembali??"


"Ssshhh,, " Nayuwan mendesis, raut wajah menunjukan kemarahan yang berapi-api.


"Baik aku segera ke sana malam ini juga"


"Wah?? Sejak kapan Ua ku ini berbicara santai begitu"


"Berisik !! Tetap saja dimata ku wujudmu itu seorang perempuan dewasa" bibirnya yang bergetar menyeringai julid pada Deliza. Sedang gadis kecil berpipi chuby itu juga turut mendecih seraya mengernyihkan bibirnya karena sebal mendengarkan apa yang dilontarkan perempuan itu adalah benar.


"Jaga mama mu baik-baik, dan suruh papa mu pulang juga"


"Siap wa!" mereka pun segera mengakhiri percakapan saluran telepon tersebut, dan sesuai perintah Nayuwan Delizapun segera menghubungi papanya agar segera pulang dengan alasan mamanya kesakitan karena mengalami kram perut. Zehan yang bucin tentu saja begitu mendengar kabar itu langsung memanggil Nadia untuk melipahkan semua pekerjaannya pada Gibran, sedang ia dan Hejun segera bergegas menuju Ciwidey.


Deliza terlihat berdiri di depan gerbang pintu rumahnya, netranya mengedar ke segala penjuru tempat, ia pun memperhatikan kilatan cahaya di atas langit rumahnya. Ia tahu pasti kilatan cahaya itu bukan berasal dari kilatan petir yang menandakan akan segera turun hujan meski memang langit saat itu benar-benar terlihat sangat gelap.


Tubuh Deliza bergetar hebat ketika sekelabatan ia melihat kembali sosok yang ia lihat di sekolah tadi. Dengan sekuat tenaga perlahan Deliza berjalan mundur, hingga tubuh mungilnya menabrak sesuatu. " Aduh" pekik Deliza tepat saat pantatnya mencium lantai tanah yang dilapisi hamparan rumput Jepang. Kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang baru saja ia tabrak, oh ternyata Joon Woon batinnya, yang segara membungkuk untuk membantunya.


"Nona tidak apa-apa?"


"Pantatku sakit, pangku" pintanya dengan nada manja dan berekspresi genit khas anak-anak perempuan seumurannya. Joon Woon pun dengan enteng meraup tubuh mungil itu dengan entengnya, dan memangku Deliza seperti sedang menimang bayi.


Sesampainya di dalam rumah Deliza segera meminta untuk diturunkan, ia takut kena omel sang nenek jika melihat ia masuk ke dalam rumah dengan cara seperti itu. Joon Woon pun menurunkan Deliza dengan hati-hati. "Cup" tanpa diduga-duga Deliza mencium pipi Joon Woon, tanpa peduli apa tanggapan Joon Woon gadis kecil itu segera berlari kabur dan menghilang di balik pintu. Sedang Joon Woon dengan perlahan ia menegakan tubuhnya sembari meraba kembali pipinya yang baru saja ternodai oleh kecupan mungil Deliza. Lalu ia berbalik balik, berjalan kaku seperti robot dengan tatapan kosong sambil terus memegagi pipinya yang dikecup Deliza.


Sementara itu Nayuwan berpacu dengan waktu, ia terus menerus melihat ke arah langit selatan yang terlihat gelap oleh awan hitam yang menggelayutinya. Tidak! Ia sadar betul riakan kilatan itu bukan hanya sekedar pertanda akan segera turun hujan lebat. Ia menyadari itu adalah pagar gaib miliknya yang sedang diserang oleh seseorang.

__ADS_1


"B3deb4h, kurang 4jar !! Kalian berani mengganggu ku rupanya ! Tunggulah, akan aku habisi kalian semua, S3tan !!" umpatnya sambil memukul stir mobilnya. Ia pun segera menginjak gas menambah lagi kecepatan mobilnya. Meski ranger rover miliknya bisa berlari hingga kecepatan maksimum 242km/jam, namun ia tetap saja dijalanan ibu kota sebelum masuk ke toll ia hanya mampu berlari 80-90km/jam saja dan itu benar-benar membuat Nayuwan merasa menyesal kenapa ia malah membawa mobil bukan memakai motor sportnya saja yang pastinya akan membuat ia bisa memangkas waktu 1 hingga 2 jam perjalanan. Ya sudahlah ia berusaha sebisanya meski sepanjang perjalanan ia harus berkali-kali menekan tombol klakson agar orang didepannya mau memberinya jalan terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2