
Siang itu kembali Hasya ke kantor Zehan, kali ini dia ditemani langsung oleh Hejun, karena rencananya memang mau mengajak Melinda untuk belanja beberapa keperluan acara pernikahannya. Yang awalnya acara pertunangan saja, berubah menjadi acara pernikah karena rengekan Hasya setelah mendengar seluruh cerita mengenai Melinda yang kena salah paham perkara awal suaminya ngidam yang berakhir menjadi rumor. Demi menebus kesalahpahaman itu Hasya kemudian mengusulkan untuk langsung menikah saja, supaya rumor dan gossip itu bisa cepat berlalu.
"Jun, kamu sudah kasih tau Melinda kan? Kalo hari ini saya mau ajak dia belanja."
"Sudah bu, tapi apa tuan tidak akan marah ? Masalahnya ibu lagi mengandung begini, kalau kecapean bagaimana?" meski Hejun senang karena mendapat perhatian lebih dari istri bossnya namun ia tetap cemas mengingat istri bossnya tengah hamil tua.
"Tenang saja Jun, kalo cape kita istirahat dulu, lagian kita nanti cuma ke toko perhiasan dan ke butik langganan keluarga kok, insyaallah ngga akan terlalu capek, lagian bosen juga di rumah terus" kata Hasya sembari memamerkan senyum lebar kepada Hejun.
Dengan pengawalan Hejun, para pegawai staff yang kebetulan berpapasan jadi tahu sosok istri asli Zehan yang selama bertahun-tahun hanya katanya saja kalau istri boss mereka itu sangat cantik.
"eh eh tadi liat ngga perempuan yang bareng sama Pak Hejun, cantik ya?"___" hooh, kulitnya putih dan mulus banget coba"___" Ya wajar lah, namanya juga istri boss pasti perawatannya juga mahal kan?"___"Hmm, kayaknya bener deh si Boss itu incer si Melinda, sekilas aja mereka rada-rada mirip lho kata aku mah"
"Pak Hejun?" sapa sekertaris Zehan, kemudian ia langsung berdiri dari kursinya begitu melihat sosok wanita hamil dibelakang Hejun.
"Hmm,, pasti beliau ini istrinya pak Zehan, ternyata emang secantik ini, mana pipi tembemnya malah bikin gemes, duh ampun itu perutnya menggoda tangan ku buat ngelus.. uuhh gemes masya allah" ungkap Nadia dalam hati.
"Nad, Ooy Nadia?!" seru Hejun, suara Hejun yang sedikit meninggi langsung membuyarkan lamunan Nadia.
"Eh Iya pak, kata pak Zehan kalo bapak dan ibu boss dateng, langsung masuk aja"
__ADS_1
"Ngelamunin apa sih? Awas lho tar kesambet" ejek Hejun sembari ngeloyor menuju ruangan Zehan diikuti oleh Hasya yang mengekori Hejun.
Hejun kemudian mengetuk pintu, tak lama kemudian Zehan yang membukakan pintu, dan ternyata di dalam sana sedang ada tamu. Hasya mengernyit berpikir kenapa tadi sekertarisnya tidak bilang kalo sedang ada tamu.
"Sayang" sambut Zehan, tanpa ragu langsung merangkul pinggang Hasya dan mencium keningnya di depan orang-orang itu tanpa canggung.
"Mas.." Hasya sedikit meronta karena merasa risih seraya tetap memberikan senyum canggung kepada para tamu Zehan yang tengah melihat ke arah mereka.
"Ekhem.. "Zehan berdehem mengerti maksud Hasya yang merasa tidak nyaman karena di sana ada teman-temannya.
" Sayang, kenalkan mereka teman-temanku. Ini Sofian, ini Aldo, dan ini Faruq." Hasya lalu mensalaman dengan mereka satu persatu, dari ketiga orang itu hanya Faruq yang membuat Hasya tidak nyaman. Entah kenapa tatapan Faruq ketika melihatnya sedikit liar dan nakal, seolah-olah ia menemukan sesuatu yang bisa dimain-mainkan sebelum melahapnya. Setelah selesai Hasya lalu duduk disamping Zehan.
"Iya baru kali ini saya melihat secara dekat istri pak Zehan, dulu pas resepsi cuma sekilas aja, maklum bawa buntut" kekeh Sofian.
"Ngomong-ngomong pak Zehan produktif ya? baru pertengahan 30an udah mau punya anak tiga" kata Aldo lagi. Entah kenapa kata-kata Aldo barusan seperti sudah menginggung Faruq yang sedari tadi terus memperhatikan Hasya dengan tatapan yang hampir tanpa berkedip.
"Al hamdulillah, rezekinya mudah" jawab Zehan.
"tok tok tok" pintu kembali di ketuk, rupanya Hejun datang bersama Melinda. Setelah berbasa basi Hasya kemudian pergi bersama Melimda dan Hejun ke tempat-tempat yang sudah mereka reservasi sebelumnya mengingat kandungan Hasya yang sudah mendekati waktu melahirkan.
__ADS_1
"Ze, meski aku pernah bertemu istrimu beberapa kali tapi kok rasanya makin cantik ya?" kata Sofian yang memang sudah beberapa kali berkunjung ke rumah yang di Ciwidey karena dia juga ikut dalam gabungan beberapa pengusaha yang mengembangkan jalur wisata selatan.
"Makanya nikah, terus buat istrimu hamil" celetuk Aldo, lagi-lagi kata-katanya membuat Faruq melempar tatapan sinis tidak suka kepadanya.
"Lho apa hubungannya? Lagian kan bukan aku ngga mau nikah, memang aku belum bertemu yang tepat saja, makanya selalu gagal menuju pelaminan" gerutu Sofian sedikit kesal, padahal mau Aldo jelas taahu apa menyebabnya hingga saat ini ia belum menikah seperti sahabat-sahabatnya itu, alasannya tentu bukan karena semacam ia belum mapan tentu bukan karena itu. Alasan ia enggan menikah untuk saat ini adalah karena ia sudah tiga kali bertunangan namun gagal menjelang pernikahan karena perselingkuhan. Dan entah bagaimana dalam kasusnya, Sofianlah yang selalu menjadi korban perselingkuhan itu.
"Iya lah ada! Kalau kamu menikah, kamu bisa melihat perubahan terhadap istrimu. Dan percayalah ketika istrimu tengah mengandung anak mu, aura kecantikannya akan makin terpancar berkali-kali lipat apalagi kalau dia mengandung anak perempuan" kata Aldo bersemangat menjelaskan.
"Ah sok tau kamu Do !" sanggah Sofian.
"Eeh dikasih tau ngeyel.. Eh Far, bagaimana dengan istrimu jadi kalian melakukan untuk melakukan inseminasi* ?" Aldo sedikit serius.
"Iya, jadwalnya sudah ditentukan bulan depan. kalau masih gagal juga kemungkinan bayi tabung" jelas Faruq meski sebenarnya ia enggan membicarakan mengenai hal itu. Karena bagaimanapun sedikit banyak ia merasa harusnya tidak perlu melakuan inseminasi atau bayi tabung jika istrinya tidak mengalami Endometriosis*.
"Aku doain semoga berhasil" kata Zehan tersenyum hangat sembari menepuk bahu Faruq. Faruq hanya menanggapinya dengan senyum tipis saja. Kata-kata seperti itu sudah sangat sering ia dengar bahkan ia hampir merasa jengah ketika ada orang yang mengucapkan kalimat tersebut. Kalimat doa berisikan harapan semua orang, namun ketika tidak membuahkan hasil kekecewaan yang amat sangat selalu ia rasakan beberapa tahun ini.
Di tengah-tengah perbincangan tentang bisnis mereka, di sisi lain Faruq malah tengah membayangkan dirinya tengah duduk santai bermesraan bersama Hasya sambil membelai perut besar Hasya.
"Ah andai dia adalah istriku aku pasti sudah sangat bahagia sekarang" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...