
Dengan raut cemberut Zesya mengaitkan tasnya pada sisi meja belajarnya, lalu membuka mulai mengganti seragam sekolahnya. Sesudah itu ia bergegas mencari mamanya, tujuannya tentu saja untuk mengomel karena tidak ada yang menjemputnya ke sekolah sampai-sampai dia harus diantarkan oleh wali kelasnya yang kebetulan rumah mereka satu arah.
"Ma, papa kok ngga.. jem.. MAMA !!" teriak Zesya histeris saat melihat mamanya tergeletak di lantai kamarnya.
"Ma.. bangun ma... Ma.. mama Kenapa??" kata Zesya sambil memangku lalu menepuk-nepuk pipi Hasya.
"BI .. !! BI RANI !! BI TOLONGIN MAMA BI !!" teriak Zesya namun tidak ada jawaban karena memang Bi Rani sedang keluar membeli pembalut dan Kir*anti di minimarket untuk belokan.
"Iih kemana sih?!!" Zesya makin panik karena Hasya tetap tidak sadarkan diri meski Zesya sudah memberinya wewangian dan mengoles-ngoles kayu putih pada Mamanya. Saat panik itu ia melihat ponsel mamanya tergeletak di tempat tidur, segera ia mengambilnya dan langsung mencari kontak papanya.
"Pa .. angkat dong pa.. !!" gerutu Zesya.
"Halo, kenapa Sya? Maaf tadi ketemu pak Kades.." jawab papanya di ujung telepon seteah beberapa kali Zesya menghubunginya.
"Pah cepet pulang pah,," teriak Zesya menangis dan terdengar panik.
" A ??"
"Pa, cepet pulang pah.. mama pingsan ini" Zehan langsung berlari saat itu juga. Lantas bergegas pulang tanpa sempat berpamitan dengan pak Kades yang bingung sendiri melihat ke Zehan yang berlari panik, namun setelah beberapa langkah Zehan berbalik lalu membungkukan diri sebagai tanda permintaan maaf jika bersikap kurang sopan kepada pak Kades. Kemudian segera berlari kembali ke arah parkiran di ikuti oleh Hejun.
"A, tenang dulu.. Jangan panik," ucap Zehan memenangkan putranya yang tengah menangis.
"Mama ngga mati kan pah..."
"Hus kamu ini.. Coba cari Bi Rani"
__ADS_1
"Ngga ada pa, di rumah cuma ada aku aja" jelas Zesya diantara tangisnya.
Bi Rani baru saja memasuki teras, samar-samar ia mendengar seseorang sedang menangis, dengan panik ia segera masuk ke dalam rumah menuju sumber suara tangisan itu.
"Ya Allah, IBUU !!" Bi Rani menghampiri Hasya yang tengah pingsan sambil dipeluk oleh Zesya yang menangis panik. Karena Bi Rani tidak kuat mengangkat tubuh Hasya, lalu ia pun mengambil bed cover kemudian ia gunakan untuk mengalasi Hasya yang tengah pingsan.
Sepuluh menit berlalu, namun Hasya tidak kunjung sadar dari pingsannya pada segala macam cara metode membangunkan orang yang pingsan sudah Bi Rani dan Zesya praktekan.
"Bi, Hiikkss.. mama baik-baik aja kan ? Kok mama susah dibangunin.. Hiksss" ucap Zesya sambil terus menangis. Zehan pun tiba, netranya terbelalak saat melihat Zesya sedang menangis begitupun Bi Rani yang nampak kebingungan. Zehan langsung menghampiri tubuh Hasya lantas langsung membopongnya ke mobil. Zesya menyeka air matanya lalu mengikuti papanya.
"SYA BANGUN SYA., KAMU JANGAN NAKUT NAKUTIN AKU DONG SAYANG !" racau Zehan panik sambil membopongnya. Melihat Zehan berlari sambil membopong istrinya Hejun segara membuka pintu mobil pintu kedua agar memudahkan Zehan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju klinik terdekat Zesya terus saja menangis sambil memanggil mamanya, begitupun Zehan tidak kalah panik dan histeris dengan putranya.
Begitu sampai di rumah sakit Zehan kembali membopong istrinya, seorang nakes yang melihat hal ity dengan sigap mengambil blankar untuk Hasya.
"Bapak tenang dulu ya pak, dokter kami akan segera memeriksanya dulu" ucap nakes tersebut sambil mendorong blankar menuju ruang IGD. Zehan dan Zesya kemudian mengikuti para petugas medis tersebut, namun kemudian keduanya di suruh menunggu di luar karena baik Zehan atau Zesya mereka terus meracau panik. Zehan mengusap wajahnya dengan kasar. Sedang Zesya masih menangis di kursi tunggu, melihat hal itu Zehan lalu mendekati putranya dan memeluk tubuh mungil putranya itu agar sama-sama bisa menenangkan diri.
Sekitar hampir dua puluh menit berlalu seorang dokter yang memeriksa Hasya keluar sambil membawa resume pasian. Zehan lantas menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"
"Bapak suami ibu Hasya?"
"Iya Dok"
__ADS_1
"Begini mari kita ke ruangan saya dulu nanti saya jelaskan di sana" Zehan dan Zesya kemudian mengikuti dokter menuju ruangannya.
"Bagaimana istri saya dok?" tanya Zehan.
"Hmm. Apa ibu sudah sering pingsan saat haid seperti ini?" tanya Dokter balik bertanya. Zehan menautkan kedua alisnya, karena ia bingung harus menjawab apa. Karena meski ia tahu Hasya sering mengeluh saat masa haidnya tapi tidak pernah sampai pingsan begini.
"Mama memang sering pingsan dok, tapi kata mama katanya cuma kecapean aja. Lagi kata mama itu wajar kalo sakit haid" jawab Zesya. Dokter yang mendengar hal itu membuang nafas sambil menggelengkan kepalanya.
" Dugaan sementara kami, mungkin ibu memiliki kista atau myoma atau semacan tumor dirahimnya, atau mungkin lebih parahnya bisa saja itu adalah kanker.." tutur dokter.
"Apa dok? Kanker??" potong Zehan dengan mata terbelalak saat mendengar diagnosa dokter kepadanya.
"Tenang dulu pak, ini baru diagnosa sementara kami melihat dari tanda-tanda gejala umum yang dialami pasien di tambah pasien juga ternyata memiliki anemia. Kami sekarang sedang melakukan observasi awal namun meski begitu kami juga harus menunggu istri bapak selesai dulu masa haidnya baru kami bisa melakukan pemeriksaan menyuluh, untuk sementara istri bapak, boleh di bawa pulang dahulu setelah habis habis cairan infusnya." terang dokter, Zehan hanya bisa terperangah tanpa bisa bicara apapun. Pikiran sudah terlalu penuh dengan berbagai pertanyaan hingga membuatnya bingung harus bertanya apa.
"Bapak tenang dulu, ini hanya diagnosa kami, bisa saja kami salah, karena keadaan rahim yang sedang masa period itu agar berbeda dengan kondisi ketika sedang tidak haid, karena bisa saja apa yang kami lihat barusan melalui menitor USG itu adalah gumpalan darah haid yang memang umum terjadi." mendengar hal itu Zehan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan pasrah.
"Pa, mama baik-baik aja kan?" Zesya menatap papanya dengan raut ketakutan.
"Mamanya didoakan lekas sembuh ya, mama ade insya Allah baik-baik aja" ucap Dokter menyahuti, agar bisa menenangkan keduanya."Dok, misal saya mau pindahkan ke Rumah sakit lain bisa?"
"Apa kami sudah bisa menemui istri saya Dok?" dokter menangguk seraya tersenyum.
"Tentu saja pak, istri bapak sudah kami pindahkan dari ruangan IGD ke ruang rawat inap pasieun. Mari saya antar" kata Dokter, beranjak dari kursinya hendak mengantar Zehan dan Zesya ke ruangan di mana Hasya tengah di rawat.
"Ibu Fitria" panggil seorang nakes, Galuh yang mendengar nama ibunya dipanggil segera membantu ibunya untuk berdiri menuju ruang pemeriksaan, ketika itu tubuhnya mendadak membeku saat berpapasan dengan Zehan yang sedang memangku anaknya, mungkin karena terlalu fokus dengan dokter yang berjalan disampingnya hingga ia sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis itu.
__ADS_1
"Ibu Fitria silahkan masuk bu" suara nakes itu membuyarkan kebekuan Galuh yang sedang memapah ibunya. Setelah menghela nafas dan menenangkan dirinya, iapun masuk ke ruang pemeriksaan ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...