The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 49


__ADS_3

Zehan menoleh ke arah kamar Zesya, memastikan putranya sudah masuk ke dalam kamarnya. Hasya kembali bungkam. Perasaannya seperti sedang dicampur-aduk saat ini.


"Sya,, "


"Hmm"


"Kamu tega ya?"


"Apa maksud Tuan?" Zehan menyorot Hasya dengan tatapan heran.


"Zesya ! Apa lagi??"


"Zesya baik-baik aja."


"7 tahun Sya ! 7 tahun aku cari kamu, dan selama itu juga kamu menyembunyikan keberadaan Zesya dari ku ! Dari ayahnya !"


"Ya salah tuan kenapa baru bisa menemukan kami sekarang" jawab Hasya sekenanya.


"Lagi pula saya juga baru tahu kalo saya sedang hamil saat baru 1 minggu meninggalkan rumah tuan"


"Ya Tuhan Hasya !!" Zehan membanting b*kongnya ke sofa, lalu ia mengusap wajah frustasi serta rambutnya dengan kasar.


"Siapa saja yang tau mengenai Zesya selain Nayuwan?!"


"Ngga ada, si teh Nayuwan juga taunya belum lama, pas Zesya mau masuk TK, karena aku butuh akta untuk admistrasinya."


" Perempuan itu benar-benar pintar, dia mampu melakukan segala cara supaya persembunyian Hasya tidak terbongkar, sampai - sampai dia menutup akses kepada Hasya agar tetap lolos dari pengawasan anak buah ku, pantas saja selama 7 tahun terakhir ini dia tidak terlalu banyak melakukan pergerakan yang mencolok." batin Zehan. Suasana kembali hening dalam kecanggungan. Masing-masing tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


(Sementara Nayuwan "Hatchiihh !! sniff.. Ha.. haatchiih !! Siapa sih yang lagi ngomongin gue Ha haatcciihh !!" )


Hasya melirik jam di dinding, tidak terasa sudah mau jam 04.10 sore, Hasya kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju tempat wudhu.

__ADS_1


"Mau kemana Sya?"


"Tuan ngga liat jam apa? Saya belum solat ashar, debatnya tunda dulu!"


"Kita solat bareng Sya" ajak Zehan dengan suara lirih, Hasya hanya mendelik sekilas tanpa menjawab, Zehan lantas mengikuti Hasya untuk mengambil air wudhu di samping ruangan, yang memang Hasya khususkan untuk mushola kecil di sana.


"Zesya.. udah solat Ashar belum nak, kalo belum ayo jamaah bareng mama" seru Hasya. Tak lama kemudian Zesya keluar lengkap dengan baju kokonya sekalian ia juga bersiap untuk mengaji di mesjid besar di jam magrib nanti.


...****************...


Tiga malam berlalu, dan selama itu juga Zehan tinggal di rumah Zesya. Hasya tidak bisa menolaknya karena rengekan Zesya tentu saja. Dengan ancaman dia akan ikut ayahnya jika Zehan tidak diijinkan untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari. Hal itu tentu saja sedikit membuat bisik tetangga mulai gaduh karena semua orang tau selama ini Hasya hanya tinggal bersama anaknya saja. Meski ada ART tapi selalu pulang setelah selepas isya, karena rumah mereka juga berdekatan hanya terhalang 3 rumah sama saja.


Malam itu, Hasya sedang santai membaca majalah agrikultur sambil memperhatikan Zehan yang sedang membantu Zesya menghafal perkalian dan beberapa rumus yang sebenarnya untuk anak kelas 3. Namun Zesya senang-senang saja malah sangat menikmati belajar sambil bermain bersama ayahnya. Dalam hati Hasya bersyukur akhirnya Zesya bisa berkumpul dengan ayahnya, meski ia belum bisa menerima dan memaafkan Zehan seutuhnya. Ia masih terlalu takut jika Zehan akan bersikap abai, dingin, tidak peka dan krisis kepercayaan seperti dulu, mencari hanya karena kesepian bukan karena Zehan memang membutuhkan dirinya sebagai teman hidupnya. Dan menganggapnya seorang istri bukan sekedar pemuas nafsu belaka. Sesekali ia ikut tersenyum saat melihat keseruan Zehan dan Zesya.


Namun tak berapa lama ketenangan rumahnya terganggu oleh ketukan pintu yang terdengar agar rusuh. "Tok tok" pintu depan kembali diketuk dengan ketukan tidak sabar, Bi Rani menoleh pada Hasya yang juga menatapnya, lantas iapun beranjak dari posisinya menonton tivi setelah memastikan bahwa benar pintu rumah merekalah yang tengah digedor-gedor kasar. Sesaat kemudian ia datang kembali dengan tergopoh-gopoh.


"Siapa bi ?" tanya Hasya bingung saat dihampiri ARTnya dengan raut cemas, seperti orang ketakutan.


"Hah?? Pak RT? Ada apa ya?" Hasya agak heran lalu melirik pada Zehan dan Zesya yang ikut menyimak. Bi Rani lalu menggeleng.


"Anu,.. Mungkin ini ada hubungannya sama bapak, bu"


"Hah?" Hasya yang masih bingung segera menutup majalahnya lantas menoleh pada Zehan yang juga menunjukan raut keheranan, kenapa tiba-tiba seolah-olah mereka sedang digrebeg warga.


Hasya memakai sandal rumahannya menuju ke ruang tamu untuk menemui pak RT dan beberapa warga diikuti oleh Zehan Zesya yang juga ikut penasaran dengan situasinya.


"Eh Assalamualaikum pak RT"


"Assaalamualaikum bu Lia" kata Pak RT saat melihat Hasya keluar dari rumah. Pak RT dan beberapa pria di sana untuk sesaat seperti terhipnotis, terkesima saat melihat Hasyan menyambut mereka dengan ramah. Bukan hal juga mereka bersikap demikian alasannya tentu saat kecantikan Hasya yang memang sangat menawan meski sudah tidak memakai riasan.


"Waalaikum salam,, pak bu., tumben,, maaf ada apa ya ? Malam-malam ke rumah saya?" sapa Hasya dengan ramah sambil menyalami beberapa warga yang tengah berdiri di teras rumah sedang yang lainnya sisanya menunggu di luar teras seperti sedang bersiaga. Pak RT dan yang lainnya seolah tersadar kembali dari ruang halu mereka.

__ADS_1


"Hmm.. begini bu, kami ada perlu sebentar. Boleh kami minta waktu istirahat ibu Lia sebentar." ucap pak RT sedikit canggung takut kehaluannya ketahuan.


"hmmm kalo begitu mari masuk dulu pak"


"Di sini saja bu, biar lebih terbuka, kan kalo di dalam hanya bisa beberapa saja yang bisa ikut masuk bu," tolak Pak RT.


"Ya udah, silahkan duduk pak."


"Bi, tolong ambilkan minuman ya" seru Hasya sedikit berteriak.


"Jadi sebenarnya ada apa ya pak?" tanya Hasya dengan raut wajah kebigungan dengan situasi sekarang.


"Maaf bu, kami malam-malam begini mengganggu waktu istirahatnya ibu dan keluarga. Hanya saja,. saya mendapatkan laporan bahwa ibu beberapa malak ini memasukan seorang pria asing ke rumah ibu dan juga kabarnya bahkan selalu menginap di rumah ibu."


"Oh ya ampun,.. Kirain ada apa, sampe kaget saya pak, kok ada apa rame-rame begini malem-malem"


"Iya bu, kami juga minta maaf kalo kami datang dengan cara seperti ini. Tapi ya itu, hanya hanya ingin menyampaikan kelurhan warga yang resah saja bu. Kita kan sebagai warga harus tetap waspada terhadap warga yang memang bukan warga kampung ini. Kami hanya khawatir saja. karena semua orang taunya ibu ini hanya tinggal berdua bareng Zesya . Jadi kami agak gimana gitu bu, walaupun kami tau kebiasaan orang kota sama orang kampung itu kan beda kalo soal kebebasan bu"


"hmmm.. Sebentar ya pak bu,saya panggilkan dulu sumber masalahnya mungkin ya, biar clear" ucap Hasya tetap tersenyum ramah. Meski beberapa emak-emak sudah julid bergunjing dengan kicauan khas emak-emak gibah yang ngumpul di tukang sayur.


Beberapa saat kemudian Hasya menarik lengan Zehan yang berdiri dibalik tembok yang diikuti oleh Zesya yang seakan tidak mau jauh dari ayahnya.


"Eekehmm mmh jadi begini, Pertama saya mau minta maaf dulu kepada bapak dan ibu sekalian, kalo memang mungkin saya sudah sedikit membuat kegaduhan atau ketikdaknyamanan di tempat ini. Untuk pak RT terutama untuk para warga yang tinggal dekat dengan tempat tinggal saya. Kesalahan saya ..." Hasya melirik pada Zehan yang diam saya memperhatikan warga yang juga sedang menatapnya curiga.


"kesalahannya karena sudah mengotori kampung ini dengan zina, begitu kan? dasar gatel !!" seru seorang emak-emak. Zehan dan Zesya sontak menatap tajam si ibu yang asal jeplak itu. Boro-boro buat enak-enak, tegur sapa saja Hasya masih menghindarinya pikir Zehan.


"Euh maaf bukan seperti itu, ini memang khilaf , tepatnya lupa untuk melaporkan kepada bapak dan ibu sekalian. Saya juga lupa minta tolong sama Bi Rani untuk laporan sama pak RT. " Hasya tetap berusaha tenang dan tersenyum ramah.


"Biasa tuh kalo udah kegerebek begini mah pasti banyak alesan, nah benerkan ibu-ibu dia itu perempuan simpanan"


"Ih seremnya geulis-geulis pelakor" hasut lainnya. Hasya berniat melanjutkan kalimatnya namun Zehan menahannya juga menggeleng pelan pada Hasya, untuk tidak melanjutkan pembelaannya. Hasyapun akhirnya diam menunggu hujatan terhadapnya reda dulu. Zehan yang tadinya biasanya mendadak wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan saat mendengar beberapa hinaan tertuju pada istrinya itu. Sedang Hasya berdiri sambil menunduk dibelakang samping kanannya memeluk Zesya yang juga sama-sama melempar tatapan tajam kepada warga.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2