The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 80


__ADS_3

Deliza, sudah hampir 2 bulan anak itu tinggal bersama keluarga kecil Hasya. Meski awalnya ianmasih ketakutan jika ada seorang lelaki dewasa mendekatinya. Namun Hasya tidak menyerah, dia sampai memanggil beberapa psykiater untuk merawat gadis kecil yang malang itu. Dan sekarang perlahan ia sudah bisa berbaur dengan orang-orang yang ada di rumah itu, malah ia bersikap seolah Hasya dan Zehan adalah orang tuanya, dan Zesya adalah kakaknya. Meski Zehan masih berusaha mencari latar belakang keluarga Deliza yang sebenernya dengan berbagai pertimbangan, musyawarah keluarga serta konsultasi hukum akhirnya Hasya dan Zehan akhirnya sepakat mengadopsinya secara SAH, meski mungkin pada akhirnya keluarga Deliza tiba-tiba datang menjemputnya.


Riuh suasana rumah Hasya saat ini, sesuai apa yang Zehan katakan waktu itu Zesya akan dikhitan saat libur kenaikan kelas. Semua saudara,kerabat, sahabat termasuk rekan kerja Zehan tumplek tumpah ruah dari luar kota berdatangan, beruntung Ciwidey adalah tempat wisata, jadi mereka tidak kekurangan tempat menginap untuk para kerabat dan tamu undangan yang hadir ke acara khitanan Zesya. Meski awalnya Zehan ingin mengadakan di gedung yang mewah di Jakarta tapi Hasya menolaknya dengan alasan ia ingin lebih berbagi dengan penduduk sekitarnya juga. Dalam acara tersebut keluarga Gavin pun turut hadir, lengkap dengan keempat anak mereka.


Diam-diam Deliza mengintip dari balik dinding memperhatikan Nayuwan dan Hasya yang sedang ngobrol sambil mengupas wortel dan kentang bersama ibu-ibu yang turut membantu dalam hajatan tersebut. Ya Hasya memang menginginkannya seperti itu, hajatan yang bergotong royong dengan warga kampungnya, meski Zehan sudah menyarankan untuk ambil catering saja mengingat Hasya masih dalam masa perawatan namun mau bagaimana lagi Zehan tidak bisa menolak rengekan istrinya yang ketika ia menginginkan sesuatu ia akan menjadi sangat manja kepada Zehan, dan tentu saja hal itu sangat menggemaskan bagi Zehan dan sulit baginya untuk menolak lagi.


"Del, ngapain di situ nak?" tanya Hasya yang tidak sengaja menangkap basah sosok mungil gadis itu saat mengestafet hasil potongan kentangnya untuk di cuci kemudian direndam air garam baru kemudian digoreng untuk bahan sambal kentang yang juga disatukan dengan hati sapi serta petai. Deliza hanya menggeleng seolah mereka ketakutan saat sesekali mencuri pandang pada Nayuwan yang masih fokus dengan wortelnya. Nayuwan kemudian menoleh saat menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Deliknya menyipit saat melihat Deliza yang menunduk tepat saat ia melihatnya. Nayuwan nampak berpikir sejenak sebelum pada akhirnya ia menyimpan pisau pengupasnya lantas mendekati Deliza yang sedang dirayu-rayu khas seorang ibu pada anaknya oleh Hasya.


"Sya, boleh aku ngobrol sebentar sama dede liza?" meski agak heran namun kemudian Hasya mengizinkannya. Nayuwan dengan segera menuyun tangan mungil Deliza agar ia mengikutinya. Nayuwan terus membawa Deliza untuk menjauhi orang-orang yang sedang sibuk itu baru kemudian ia melepaskan tangan mungil Deliza.


"Jadi apa tujuan mu?" tanya Nayuwan tanpa membalikan tubuhnya.


"Sudah ku duga tante pasti bukan orang biasa"


"Aku masih orang biasa, tidak seperti mu" kata Nayuwan mendelik dari ujung matanya.


"Memang aku kenapa tante?" tanya Deliza terdengar agak songong di telinga Nayuwan, barulah disaat itu Nayuwan membalikan tubuhnya. Namun entah bagaimana suasana tempat itu seperti berpindah pada dimensi lainnya.


"Tenanglah sekalipun kamu mati di tempat ini orang-orang pun tidak akan ada yang menyadarinya" ungkap Nayuwan sambil memamerkan seringai di salah satu sudut bibirnya. Deliza masih memperhatikan dengan wajah cemas dan bingung.


"Aku masih bingung dengan mu, di sebut manusia kamu energi mu bukan manusia, disebut jin juga bukan, masa kamu iblis?" sarkas Nayuwan.


"Sembarangan !!" sanggah Deliza.


"Lalu..??" kata Nayuwan dengan raut penasaran seraya memangku tangannya di dad*.

__ADS_1


"Aku hanya jiwa yang tidak sengaja terperangkap dalam tubuh gadis ini"


"Aku tidak percaya hantu" tukas Nayuwan.


"Pck !! aku juga bukan hantu !" pekik Deliza.


"Lalu ??" Nayuwan makin menautkan keduaalisnya.


"Mungkin seseorang telah menangkap jiwaku dengan ilmu sant*t atau t*luh, namun dalam perjalannya ia gagal membawaku, tapi aku sendiri malah terjebak dalam tubuh gadis ini. Saat aku tersadar beberapa bulan lalu anak ini memang sudah sekarat karena orang g*la yang sudah menculik dan menyiksanya, beruntung gadis ini tidak diperk*s* juga. Namun tetap saja anak ini menyedihkan."


"Artinya tubuhmu yang asli sudah dikubur kalau begitu" kata Nayuwan langsung menyimpulkan.


"Lalu sebenarnya siapa dirimu?" lanjut Nayuwan lagi.


"Apa kamu bisa berjanji padaku, jika aku membiarkan mu tetap ada di dalam keluarga Hasya kamu tidak akan mencelakakan mereka??" kali ini Nayuwan bertanya dengan lebih serius setelah bisa memahami semua yang dikatakan Deliza barusan. Deliza mengangguk dengan cepat.


"Mereka semua baik padaku. Anak laki-laki mereka juga sangat perhatian padaku. Bagaimana mungkin aku mencelakai orang-orang yang sudah menyelamatkanku. Karena jika saja Zesya tidak datang tepat waktu saat itu aku mungkin akan benar-benar akan dilahap dan dihabisi orang g*la itu. Aku bahkan masih suka merinding ngeri jika mengingatnya." Nayuwan masih mendeliknya dengan tajam, bahkan Deliza sangat bisa merasakan aura yang sangat kuat dari tatapan itu, seakan-akan tatapan tajam perempuan itu bisa saja membvnvhnya saat itu juga.


Kemudian Nayuwan merogoh saku celananya.


"Untuk jaga-jaga kamu harus pakai ini" perintah Nayuwan seraya menyodorkan sebuah kalung pada Deliza. Gadis kecil itu mengerutkan dahinya begitu melihat bentuk dari liontin kalung tersebut.



"Tante yakin aku harus memakai kalung ini?" tanya Deliza yang tidak bisa menyembunyikan raut ngeri dari wajahnya. Nayuwan kembali mendelik Deliza yang agak menolak memakai kalung yang diberikan Nayuwan begitu melihat bentuk liontin yang nenyerupai jantung manusia itu.

__ADS_1


"Dengar satu hal, harusnya kamu ini mungkin kamu ini harusnya sudah benar-benar mati jika tidak terjebak dalam tubuh sekarat anak ini. Tinggal pilih saja pakai kalung itu dan lakukan perjanjian dengan ku, atau aku lebih jiwamu sekarang juga?" kata Nayuwan dengan nada sedikit mengancam pada Deliza. Sambil sesekali mencuri pandang kekih pada Nayuwan Deliza memakai kalung tersebut. Anehnya begitu ia pakai kalung itu langsung memancarkan cahaya kehijauan, daun-daun seperti pucuk pada liontin itu menjalar hingga menuntup seluruh rongga dada Deliza. Meski Deliza tidak merasakan sakit terkecuali rasa geli menggelitik saat pucuk-pucuk itu masuk kedalan lapisan kulit tubuhnya hingga akhirnya lenyap seutuhnya.


"Dengar satu hal Deliza. Jantung yang baru saja masuk ke dalam tubuhmu anggap saja sebagai jantung mu yang baru, untuk hidupmu yang baru. Mulai sekarang kamu akan benar-benar akan menjalani hari mu sebagai Deliza Akhilendra Hirawan. Semua ingatan mu hanyalah tentang segala hal yang kamu jalani saat ini, saat menjadi anak dari seorang Zehan dan Hasya. Namun jika kamu memiliki niat buruk apalagi menyakiti mereka dengan menjadi anak durhaka kepada mereka kamu akan mati dengan perlahan sebagai kewajaran kematian manusia pada umumnya. Meski seharusnya kamu memang sudah mati pada saat orang itu membawa jiwa mu untuk dia jadikan sebagai makhluk peliharaannya. Namun Allah masih sangat baik padamu, jiwamu malah terjabak dalam diri anak malang ini. Jadi.. hiduplah dengan baik mulai dari sekarang. Sebagai hadiah akan ketaatmu pada orang tua barumu. Aku berjanji padamu akan mencari siapa orang yang mengingingkanmu mati. Kamu mengerti Deliza?" kata Nayuwan terdengar dingin dan menekan. Deliza mengangguk saja, meski ia memiliki ribuan pertanyaannya namun lidahnya seakan kelu saat manik matanya saling beradu dengan manik mata milik Nayuwan.


"Jika kamu memiliki banyak pertanyaan, lebih baik kamu lupakan saja, karena tidak satupun dari pertanyaanmu akan aku jawab. Sekarang kembalilah pada Hasya. Bersikaplah seperti anak seusia mu meski kamu sebenarnya sudah seusia anak tertuaku. Jika pada bangs*t itu sudah aku dapatkan aku pastikan kamu akan mendapatkan keadilan atas kematian tubuhmu yang tidak wajar." Delizapun hanya menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk.


Ajaibnya, suasana sunyi tadi seolah hilang entah kemana, dan anehnya mereka sekarang sudah berada di area hiruk pikuk persiapan hajatan akbar Zesya pada hari esok, seolah barusan tidak ada apa-apa. Meski masing bingung, Deliza kemudian undur diri begitu Zesya mengajaknya main. Nayuwan tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala dua bocah itu yang kemudian langsung berbaur dengan anak-anak lainnya. Namun Deliza cukup menyadari jika Nayuwan masih memperhatikannya dari ujung teras sambil bersandar pada tiang rumah yang terbuat dari kayu. Memperhatikan mereka yang sedang bermain di halaman meski sesekali agak mengganggu kang dekor di sana namun mau dihardikpun mereka tetaplah segerombolan anak-anak yang terlihat riang karena bisa bermain bersama, kecuali Deliza tentunya.


"Yusuf.." panggil Nayuwan saat masih terpaku menatap anak-anak yang sedang bermain itu.


"Ya.. Diajeng"


"Tugasmu sekarang cari tau siapa b*d*b*h yang sudah berani bermain-main dengan jiwa anak itu" ucap Nayuwan seraya mendelik dari ekor matanya.


"Baik Diajeng"


"Ah.. Aku ingin kau mendapatkan orang itu dalam keadaan hidup, termasuk orang yang memerintahkannya. Seret mereka ke alam bunian. Kamu paham?! " baru kali ini Yusuf benar-benar melihat Nayuwan semarah itu.


"Baik diajeng, saya mengerti. Saya pamit" Yusufpun menghilang.


"Ku pastikan kalian akan mendapat hukuman yang sepadan !" gumam Nayuwan sebelum kemudian ia kembali ke tempat ibu-ibu yang sedang menyiangi sayuran dan yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cerita mengenai Deliza kita lanjut suatu saat nanti ya.. episode besok balik ke Zehan dan keluarga cemaranya..😁😁

__ADS_1


__ADS_2