The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 91


__ADS_3

Hari ini Zehan sengaja pulang lebih cepat dari biasanya, disamping karena memang semua jadwal yang dibuat Nadia sudah rampung semua Zehan memang sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Hasya. Bahkan ia berangkat kantor ia langsung menuju ke Ciwidey. Hatinya sudah sangat rindu ingin segera bersama keluarga kecilnya, terlebih setelah mendengar tentang perkelahian bocah laki-lakinya tempo hari.


Hejun melajukan kecepetan mobilnya dengan kecepatan standar. Jalanan dari Jakarta ke Ciwidey juga tidak terlalu macet, mungkin karena mereka berangkat tadi juga bukan di jam macet, ditambah hari ini baru hari Jumat, jadi wajar saja jika perjalanan mereka terasa lebih lengang.


"Jun, kamu serius dengan Melinda?" tanya Zehan tiba-tiba memecah keheningan perjalanan itu.


"Tentu saja Tuan." jawab Hejun singkat.


"Apa ada lagi yang bisa aku bantu Jun?"


"Tidak ada Tuan, semuanya sudah lebih dari cukup. Tapi jika tuan bersedia, bisakah Tuan dan Nyonya menjadi perwakilan orangtua saya untuk melamar Melinda." ucap Hejun seraya melirik bossnya yang sedang duduk di sampingnya melalui ekor mata elangnya. Zehan menoleh pada Hejun sambil mengulum senyum. Kemudian tangannya meriah bahu kekar pemuda itu.

__ADS_1


"Aku baru menyadari bahwa otot-otot ditubuhmu sebesar ini, padahal rasanya baru kemarin papa membawa ke rumah, dan sekarang kamu sudah menjadi pemuda gagah dan akan segera menikah." Hejun terdiam sambil berusaha fokus dengan kemudinya.


"Tapi Jun, untuk melamar Melinda. Ada baiknya kamu meminta papa dan mama yang melakukannya. Bukankah mereka juga adalah orang tuamu? Bukan aku tidak mau, tapi papa dan mama pasti akan lebih merasa bahagia jika merekalah yang melamarkan Melinda untuk mu. Aku tau kamu meminta aku yang melamarkan Melinda itu karena kamu tidak berani untuk memintanya pada papa dan mama, tapi meski begitu, papa dan mamalah yang lebih berhak untuk melamar Melinda bukan aku." ucap Zehan sambil menepuk-nepuk bahu Hejun beberapa kali.


"Tapi tuan.."


"Jun, " Zehan kembali menoleh , menatap wajah serius Hejun yang sedang fokus pada jalanan beraspal sejauh mata Hejun menjangkaunya. "aku tau kamu terlalu segan jika meminta hal itu pada mama dan papa. Tapi tetap saja mereka itu adalah orang tua yang sudah membesarkan mu. Sedang aku lebih berperan sebagai anak tertua dikeluarga Akhilendra. Meski kamu dan Keni tidak menyandang nama keluarga ku di belakang nama kalian, tapi bagi mama dan papa kalian tetaplah putra-putra mereka. Ya meski pun aku juga tau, di antara kita semua kamulah yang paling menjaga jarak, tenang saja kami tidak tersinggung dengan hal itu. Tapi kalo aku yang melamarkan Melinda untuk mu. Mama dan Papa pasti akan sedih." Hejun mengeraskan rahangnya, sebisa mungkin ia menahan perih yang mulai memenuhi kerongkongannya.


"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini tentang kedua orang tua itu. Aku juga tau meski kamu terlihat yang paling cuek, tapi kamulah orang pertama yang selalu sigap dengan keadaan mereka. Jadi hilangkan rasa sungkan yang tidak perlu itu Jun. Percayalah, mereka juga mencintaimu sama seperti mereka mencintai anak-anak kandung mereka. Lagipula aku juga sama seperti mu kan dalam hal ini? Kita sama anak yatim piatu yang mereka asuh dengan tulus."


" kamu tidak usah cerita kalo kamu tidak mau, lagi pula itu hak mu Jun. Mereka juga tidak sepenuhnya salah, mereka melakukan itu karena keadaan. Setuju atau tidak, jika orang tuamu tidak melakukan hal itu pada mu, mungkin kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan mama dan papa waktu itu, mereka melakukan hal itu karena tidak mau kamu menderita Jun. Jadi jangan terlalu menyimpan kecewa pada mereka." ingin rasanya Hejun meraung menangis sekencang-kencangnya ketika Zehan mengetahui apa yang menjadi kebimbangannya. Segala kemarahan pada orangtua kandungnya pun perlahan sedikit berkurang. Ia memang masih memiliki orang tua utuh hingga hari ini.

__ADS_1


Tidak seperti Zehan, Keni, Gibran atau Joon Woon yang jelas-jelas adalah yatim piatu.


Hejun adalah anak yang memang secara tidak langsung ditelantarkan oleh kedua orang tuanya, bukan perkara mereka tidak mampu merawat Hejun. Toh secara ekonomi orang tua Hejun waktu itu bisa dikatakan cukup berada. Namun mereka tetap memutuskan untuk menitipkan Hejun yang baru berusia 6tahun kala itu di panti asuhan yang kebetulan panti asuhan itu adalah panti asuhan yang dibangun oleh bibi Lyn secara mandiri tanpa campur tangan dari yayasan keluarga Akhilendra. Panti asuhan yang memang ditujukan untuk anak-anak yang lahir di luar pernikahan. Meski memang tidak melulu hanya untuk anak-anak yang lahir karena "kecelakaan" saja. Banyak diantara mereka yang memang dititipkan orang tua mereka karena tidak mampu karena ekonomi, untuk hal semacam itu.pihak panti tidak mengizinkan anak-anak yang dititipkan pada mereka dilarang untuk diadopsi orang lain karena memang mereka masih memiliki orang tua, jadi kapanpun orang tua mereka bisa tetap berkunjung tanpa merasa khawatir. Namun untuk kasus Hejun sedikit berbeda, orangtuanya lengkap dan mampu. Tapi mereka tetap menitipkannya ke panti asuhan dengan alasan yang sebenarnya kurang masuk di akal. Mereka menitipkan Hejun perkara mereka sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Sang ayah yang meski masih selalu pulang ke rumah faktanya ia memiliki selingkuhan, begitu pun ibu Hejun kerap membawa pria lain ke rumah. Semakin lama mereka semakin tenggelam dalam dunia mereka masing-masing dan hampir melupakan kehadiran Hejun seluruhnya. Begitu mereka ingat bahwa mereka masih memiliki Hejun yang butuh perhatian mereka, bukannya segera bertaubat, mereka justru lebih memilih untuk menyingkirkan Hejun agar tidak terlalu menjadi beban mereka. Faktanya Hejun dibuang hanya karena orangtuanya merasa terbebani saja bukan karena tidak mampu.


Sepanjang perjalanan Zehan beberapa kali berhenti karena merasa mual, padahal sudah beberapa minggu belakangan ini intensitasnya sudah berkurang, ia juga sedikit demi sedikit sudah bisa makan nasi karena sebelumnya jangankan memakan nasi mencium aroma dari uapnya saja sudah membuatnya mual. Sedang Hasya dia hanya mengalami mual parah saat tertentu saja semisal saat Zehan memakai parfume tertentu, selebihnya aman-aman saja.


Sekitar jam setengah empat sore mereka sudah tiba dengan selamat di rumah. Hasya buru-buru ke depan rumah untuk menyambut suami tercintanya, namun ketika ia membuka ia pintu ia sedikit terkejut saat melihat Hejun membantu Zehan berjalan. Nampak sekali Zehan tidak dalam keadaan baik. Ia terlihat lesu, juga kapayahan.


"Jun, Tuan kenapa?"tanya Hasya setelah melihat keadaan Zehan daru dekat, terlihat jelas raut cemas membayangi wajah cantik perempuan yang sedang mengandung 6 bulan itu.


"hehe.. biasa nyonya, Tuan mabuk kendaraan. Seperti yang nyonya tau, setelah nyonya hamil tuan kan memang sering begini" jawab Hejun dengan senyum dipaksakan.

__ADS_1


"Masih??" Hejun hanya mengangguk lali membantu memapah Zehan masuk kedalam rumah. Ia sendiri sudah sangat ingin beristirahat. Karena bagaimana pun perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey itu cukup membuat punggungg dan pant*tnya lelah dan panas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2