
"Ekhem,," seperti sihir satu deheman dari Zehan mampu membuat suasana menjadi hening seketika, padahal sebelumnya pak RT sudah memberi isyarat agar warga lebih tenang, tidak banyak bergunjing dulu agar semuanya menjadi jelas.
"Pertama-tama, perkenalkan nama saya adalah Zehan Akhilendra Hirawan, mungkin ada beberapa orang yang sudah tau tentang saya, karena saya adalah salah satu penanggung jawab atas proyek jalur wisata selatan yang sekarang sedang berjalan pengembangannya." Pak RT mengangguk menyadari jika dirinya pernah bertemu dengan Zehan beberapa kali untuk mengurus soal pembebasan lahan serta pengembangan beberapa UMKM di tempat mereka.
"Saya pribadi meminta maaf jika karena kehadiran saya membuat bapak dan ibu menjadi kurang nyaman. Dan seperti yang dikatakan oleh pak RT ada sedikit kebiasaan yang agak berbeda, terlebih ditempat tinggal saya di Jakarta kami hanya perlu melapor pada pihak keamanan saja jika bertamu. Dan karena itu saya meminta maaf karena membawa kebiasan ke tempat ini"
"Tapi yang perlu saya tekankan di sini, wanita yang berdiri bersama putra saya itu adalah istri sah saya"
"tuh kan bener istri simpanan pasti" "oh gundik," "iya kalo bukan simpanan masa di umpet-umpetin" "iya pasti begitu" "jangan-jangan toko bunganya itu cuma tameng doang buat gaet para lelaki di sini juga" " hati-hati bu, yang tampangnya alus, isinya bisa aja roh alus" " benaran simpanan" " wah pantes aja sok jual mahal seleranya bos kota" suasana kembali gaduh.
"Kak, tolong ambilkan amplop coklat di laci meja belajar kakak, kak" pinta Zehan pada anaknya, tanpa menunggu perintah dua kali anak itu segera bergegas mengambil barang-barang yang dimaksud papanya. Tidak lama kemudian Zesya kembali dengan membawa barang-barang yang di minta oleh papanya.
"Ini pak, bukti kalo kami benar suami-istri yang sah di mata hukum dan agama. Ini surat nikah kami. Dan berkas yang ada di bapak itu adalah berkas baru milik istri saya. Kenapa sampai ada penggandaan data, karena waktu itu kami sedang ada masalah yang menyangkut keselamatan anak dan istri saya. Jadi dengan terpaksa kami membuat berkas-berkas baru untuk melindungi mereka, namun kami mohon maaf, kami tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang menjadi masalah kami beberapa waktu ini."
"Halah alibi itu, paling juga karena takut ketahuan sama istri sahnya" "iya biasa itu" "komo eta tinggali atuh, mobilna ge kat mahal" "hooh biasa nu benghar mah sok loba cara" Hasya yang mendengar julidan dari tetangganya hanya memutar mata malas saja enggan menanggapinya. Percuma juga dijelaskan panjang lebar emak-emak itu tetap akan bergunjing.
"Zesya adalah benar putra kandung saya, dan Hasya istri sah saya satu-satunya, dari 8 tahun lalu hingga sampai kapanpun. Jika bapak dan ibu masih tidak percaya dengan penuturan saya, bapak dan ibu bisa membuka beberapa artikel di gugle, bahkan acara pernikahan kami sempat ditayangkan di beberapa berita televisi nasional." Ibu-ibu yang tadi bergunjing langsung kepo, segera mengambil ponsel mereka masing-masing, dan seketika mata mereka terbelalak, kicep saat itu juga. Begitu pun dengan pak RT sedikit berdiskusi lirih dengan warga yang duduk di sampingnya saat diperlihatkan beberapa artikel mengenai Zehan dan Hasya. Karena memang pada waktu itu beritanya cukup center, apalagi timelinenya yang membuat geger " Cinderella dunia nyata"melihat reaksi ibu-ibu gibah, lirikan mata dan senyum kemenangan mengembang tipis di bibir Hasya.
"Saya benar-benar minta maaf, karena saya lalai melaporkan semuanya kepada pak RT, karena saking senangnya saya bisa berkumpul lagi dengan anak dan istri saya, saya menjadi lupa di daerah istri saya tinggal sekarang masih menjunjung tinggi adat ketimuran yang syarat sopan santun dan adab, karena itu saya benar-benar minta maaf pada pak RT dan para warga sekalian. Hingga harus berbondong-bondong ke rumah kami ini, hanya untuk sekedar mengingatkan. Tapi saya juga mengucap al Hamdulillah, karena hikmah atas kejadian ini kita bisa saling bersilahturahmi dan mulai saling berkenalan. Insya Allah akan membawa berkah untuk kita semua. khususnya untuk keluarga kita"
__ADS_1
"Jika memang demikian ceritanya kami juga minta maaf kepada bapak dan ibu karena sudah salah paham, karena mungkin sikap siaga kami ini menjadikan kurang nyaman untuk keluarga bapak dan ibu dengan kedatangan kami yang mendadak seperti ini."
"Tidak apa-apa pak, justru kami yang merasa tidak enak kepada bapak dan ibu sekalian, dalam hal ini kami mengaku salah, sudah tidak patuh pada aturan lingkungan yang biasanya wajib lapor 1x24jam, wajar saja jika para warga menjadi curiga, terlebih istri saya selama ini terlihat hanya tinggal berdua dengan putra saya, sedang saya mungkin hampir tidak pernah datang mengunjungi tempat ini karena satu dan hal lainnya yang tidak bisa saya jelaskan urgnensi-nya " pak RT dan warga saling mengangguk menandakan bahwa semua masalah sudah selesai.
"Dan sebagai permintaan maaf saya, saya mengundang seluruh warga untuk hadir pada acara syukuran Walimatul Khitan anak kami, Jung Zesya Hirawan nanti. Akan menjadi suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, apabila Bapak, ibu dan warga sekalian bisa berkenan hadir untuk memberikan do’a restu kepada anak kami ini" terang Zehan.
"Ma, kayaknya tadi acaranya bukan begini deh, kok jadi undangan terbuka khitanan Zesya?" bisik Zesya pada mamanya.
"Mama juga ngga tau Zes" sahut Hasya singkat.
Warga yang mendengar hal itu saling berbisik dan melirik satu sama lain.
"Baiklah pak, karena masalahnya sudah jelas dan selesai kami semua mohon pamit, sekali lagi kami mohon maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu." tutur Pak RT.
"Kami juga minta maaf sudah buat kegaduhan karena keteledoran kami pak" ucap Zehan menyalami Pak RT.
"Kalo begitu kami pamit undur diri pak bu, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, Baiklah pak, sekali lagi kami minta maaf"
__ADS_1
"Sama sama pak" kemudian setelah pak RT, lalu satu persatu para warga pun bersalaman dengan Zehan dan Hasya seperti runtuian saat lebaran.
1 jam berlalu, keadaan rumah Hasya kembali sepi. Zesya juga sudah tertidur. Bi Rani juga sudah pulang setelah para warga bubar. Hasya juga terlihat sudah agak mengantuk karena seharian ini banyak sekali pesanan yang masuk, namun Zehan masih terlihat sibuk dengan laptopnya.
Zehan yang menyadari jika istrinya mulai terkantuk-kantuk di sofa ruang tivi tersebut, perlahan ia mendekati, lalu mengungkung tubuh istrinya itu, niat hati ia ingin mencium kening istrinya, namun sepasang mata milik Hasya menatapnya dengan tajam padanya.
"Tuan mau apa?" kata Hasya ketus.
"Mau cium bibir istriku, kenapa? ngga boleh"
"Pck !! " sekuat tenaga Hasya mendorong tubuh suaminya hingga berhasil membuat Zehan mundur beberapa langkah, kesempatan itu Hasya gunakan untuk segera kabur masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"Pck ! Sya, dosa lho nolak suami !" goda Zehan.
Jeglek ! pintu kamar kembali dibukan Hasya, dan membuat Zehan tersenyum dengan hal itu tapi baru ia kan melangkah, Hasya sudah melemparkan selimut tambahan untuk Zehan, karena malam kemarin ia melihat Zehan meringkuk memeluk anaknya tapi tidak kebagian selimut, sedang menjelang subuh suhu di daerah tersebut akan makin dingin karena memang daerah perkebuna teh.
Sesudah itu, Hasya kembali masuk ke kamar dan menguncinya lagi. Zehann mendengus kesal namun juga tidak bisa berbuat apa-apa jika Hasya masih marah kepada dirinya.
"Kamu yang sabar ya, kamu belum bisa masuk ke sarang mu" ucap Zehan sambil bertolak pinggang pada sesuatu di bawah sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...