
Di ruang tunggu rumah Bidan desa.
"Sya, kamu udah ngga mual-mual lagi?" tanya Zehan dengan raut penuh kekhawatiran.
"Ya lumayan lebih baik Mas, saran Bi Rani agar kita berjalan kaki saja, ternyata lumayan nguringin mual yang menekan ulu hati" jawab Hasya sambil tersenyum.
"Ibu Hasya Akhilendra?" panggil seorang perempuan yang duduk di meja administrasi ala-ala. Zehan bangun terlebih dahulu lalu membantu Hasya beranjak dari tempat duduknya. Entah hanya perasaan saja atau memang begitu adanya, namun dari sudut pandangan Hasya perempuan yang duduk di meja administrasi tamu itu terusa saja mencuri pandang pada Zehan. Seolah-olah ia sedang berusaha mencari celah agar bisa sekedar bertegur sapa dengan suaminya.
" Silahkan bu, Pak," kata Bidan Eti, Bidan desa yang paling dekat dengan lingkungan mereka yang akan berusaha standby 24jam mengabdi pada masyarakat. Beruntungnya Bidan Eti sudah cukup akrab dengan Hasya karena beberapa kali Bidan Eti pernah meminta tim WO yang bekerja sama dengan toko bunga milik Hasya untuk acara-acara di rumahnya. Seperti acara 4 bulanan dan 7bulanan anak keduanya, acara ulang tahun anak pertamanya dan beberapa acara hajatan lainnya, dengan begitu baik bidan Eti ataupun Hasya tidak merasa terlalu canggung. Sedang Zehan,... ya seperti suami pada umumbya hanya sebatas kenal namun tidak terlalu akrab, karena menurutnya, sikap kepada tetangga seperlunya saja, membantu semampunya saja, bertegur sapa sewajarnya, yang penting tetap ramah kepada semua orang tanpa terkecuali. Meski awal-awalnya agak sulit karena kebiasaan bertetangga di mantion dan di lingkungan Hasya tinggal jauh berbeda 180 derajat. Kehidupan bertetangga di Mantion tentu lebih acuh tak acuh, jarang sekali mereka bertegur sapa satu dengan yang lainnya, karena memang kehidupan di sana lebih individualis.
"Jadi apa yang ibu rasakan beberapa hari ini?" tanya Bidan Eti setelah selesai memeriksa Hasya dengan stetoskopnya, sambil membantu Hasya untuk duduk lalu kembali duduk di tempat semula, di mana Zehan memperhatikannya dengan cemas.
__ADS_1
"Beberapa hari ini sebenarnya saya sering mual-mual sih dok, tapi kan haid saya normal. Pada saat hamil Zesya dulu saya bahkan hampir tidak pernah mengalami mual yang parah, mungkin pernah beberapa kali. Tapi selebihnya seperti yang ibu tau bahkan saat ketuban saya sudah pecahpun saya masih bisa menahannya hingga ke rumah, padahal bi Rani sudah banjir air mata, apa ibu ingat hari itu. ahahahaha kalo diingat-ingat lag, hari bahkan di hari itu saya masih mengerjakan hampir sepuluh buket bunga.." cerita Hasya dengan riang seolah tanpa beban, namun berbeda dengan pria yang duduk di sampingnya. seketika netra pria itu langsung memelototi istrinya yang sedang membicarakan masa lalunya saat ia mengandung dan melahirkan anak pertama mereka.
"Apa ?? Air ketuban pecah? Masih bekerja? " batin Zehan sambil terus menatap sedih pada Hasya yang sedang asyik bergibah tentang masalalunya dengan bu Bidan.
"Ah ibu, tapi bener lho kalo ingat kejadian itu bener-bener nguras emosi. Belum lagi saat waktunya ngejan ibu malah tertidur.. Aaahhh rasanya hari itu saya benar-benar di uji mental dan keterampilan saya sebagai bidan yang harus membantu proses melahirkan, yang memastikan ibu dan bayi tetap selamat dan sehat."
"Apa?? bahkan Hasya pernah mengalami kejadian semengerikan begitu?" batin Zehan lagi.
"Ya kalo tidak begitu kan bahaya bu, dede bayi lagi kejepit begitu eh ibunya malah pengen bobo cantik terus gara-gara kelelahan kejar setoran hahahaha" timpal bidan Eti ikut berseloroh.
"Ekhemm maaf ibu-ibu bisa kembali fokus.." sela Zehan. Bukan apa-apa, sejujur Zehan merasa makin tertohok saat Hasya dan Bidan Eti menceritakan bagaimana keadaan saat Zesya lahir. Bukan ia tidak penasaran mengenai kelahiran putranya itu, namun di satu sisi hatinya juga merasa getir bercampur rasa bersalah. Andai saja waktu Zehan tidak terlalu termakan hasutan-hasutan Alexa mungkin ia akan bisa menjaga Hasya dari awal kehamilan melahir dan pasca melahirkan seperti halnya Gibran yang selalu menemani Zia sepanjang waktu.
__ADS_1
"Oh maaf pak, maklum ibu-ibu kalo udah ngumpul ya pengen ngerumpi aja bawaannya." kata Bidan Eti lalu kembali fokus pada pemeriksaan Hasya.
"Hmm.. Kebetulan alat USG di tempat saya sedang rusak baru minggu depan alatnya datang jadi untuk itu mungkin kita lakukan secara manual saja, sebenarnya kurang efektif jika tidak dilakukan pada pagi hari saat pertama kali ibu Hasya buang pipis, tapi tidak apa-apa ini hanya pengecekan awal saja, agar kita memiliki gambaran pasti apakah ibu Hasya memang mengalami gejala kehamilan atau hanya karena gangguan pencernaan" sambung bu Bidan sembari menyodorkan alat test kehamilan dan wadah kecil untuk menampung urine.
"Tapi bu.."
"Iya justru karena kita ragu baiknya kita coba dulu saja, jika hasilnya positif ibu besok bisa langsung memeriksakannya ke dokter kandungan agar bisa langsung di lihat melalui USG." potong bu bidan meyakinkan. Hasya menoleh ragu pada Zehan. Sebagai seorang suami Zehan dengan lembut meraih lalu menggenggam tangan Hasya, seraya mengangguk kecil Zehan membagi keberanian pada Hasya. Zehan cukup memahami kenapa istrinya enggan melalukan test ini karena sudah dari satu tahun yang lalu Hasya rajin melakukan test kehamilan. namun sejak beberapa bulan terakhir ini Hasya sudah menyerah untuk melakukan itu. Lelah menaruh harapan ketika ia merasa telat datang bulan atau meresa mual atau sejenisnya. Hasya menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya perlahan, dan ia terus mengulangnya hingga beberapa kali, pada helaan ke lima akhirnya ia beranjak menuju toilet yang disediakan dengan membawa testpack dan wadah penampung urine. Tidak butuh waktu lama Hasya di dalam toilet lalu ia langsung menyerahkannya pada bu bidan, tanpa melihat hasil test-nya terlebih dahulu. Ia sudah trauma dengan ekspektasi yang terlalu tinggi atas kehamilannya tapi kemudian dia hanya akan menangis pilu saat melihat hanya ada satu garis merah yang membekas dengan nyata di sana. Mereka lalu menunggu beberapa saat hingga serapan urine pada testpack itu beraksi
Mereka menunggu dengan tatapan gusar dan harap-harap cemas, terlebih Hasya ia sampai menutup matanya dalam-dalam sambil meremas jari jemari Zehan yang digenggamnya. Meski ia sudah berpasrah diri kalau - kalau dirinya hanya mengalami gangguan percernaan saja. Namun tetap saja dalam hatinya ia memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh, meminta dengan sangat agar hasil test kali ini benar-benar positif, karena ia tidak ingin melihat raut kekecewaan di wajah Zehan yang tentunya lebih berharap dari dirinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...