The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 19


__ADS_3

Zehan duduk termenung, jari jemarinya saling bertautan menopang dagunya. Ia begitu terlihat begitu sangat serius saat membaca semua laporan yang diberikan oleh Gibran.


"Ceklek" pintu di buka tanpa diketuk, Zehan mendelik sekilas tanpa merubah posisinya tadi. Hasya datang membawa buah-buahan segar yang sudah dipotong-potong juga membawa susu almond hangat untuk Zehan.


"Tuan masih sibuk?" tanya Hasya menilik-nilik dengan semua gunungan file yang hampir memenuhi meja kerja Zehan.


"Hampir selesai." ucap Zehan datar.


"Sayang" Zehan mendelik namun dengan tatapan yang lebih lembut. Zehanpun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi rodanya.


"Kemarilah" pangggil Zehan, namun Hasya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menggoda kepada Zehan.


"Jangan lupa aku sekarang bisa berlari mengejarmu Sya" ucap Zehan memperingatkan. Hasya pun memutar meja lalu berdiri di samping Zehan sekilas manik matanya menangkap tulisan nama perusahaan ayahnya.


"Tuan ini??" Hasya sembari mengabil satu file berkas dengan judul Chailjedam Garment.

__ADS_1


"Iya aku sedang mempelajari bagaimana perusahaan ayahmu bisa sampai bangkrut lalu berpindah tangan ke GN" terang Zehan lantas meneguk perlahan susu almond hangat yang dibawakan oleh Hasya tadi.


"Untuk apa?" Hasya melirik dengan tatapan bingung.


"Kamu tidak berpikir untuk merebutnya kembali" ucap Zehan mengdongak menatap kekasih dengan tatapan heran saat melihat Hasya menggelengkan kepalanya. Lantas gadis itu menghela nafasnya.


"Bukan tidak ingin, tapi aku tidak mau aji mumpung karena memiliki Tuan di samping ku, tapi memang aku sama sekali tidak berminat menjadi buka korporat. Lagi pula dengan tabungan selama ini aku berniat membuka restoran. Dan jika pun tuan berhasil mengambil kembali perusahaan ayah siapa yang akan mengelolanya. Ayah ku sudah tidak sesehat dulu, sekarang melihat dia lebih bisa menikmati hidupnya dengan ibu ku di usia senja meski dalam kesederhanaan tapi aku tau mereka bahagia. Karena bisa menikmati masa tua mereka tanpa perlu pusing dengan hal-hal semacam itu. Uang ku masih lebih dari cukup, lagi pula sekarang ibu ku sudah memiliki toko grosiran sembako dan juga perabotan rumah tangga. Kendaraan baru bulan kemarin nona Zia membelikan orang tua ku mobil alphard sebagai hadiah karena kita resmi bersama, padahal sejujurnya itu sudah sangat berlebihan. Lagi pula apa tuan yakin ingin menjadikanku budak korporat?"Zehan kembali termenung, mencerna semua yang dikatakan Hasya memang ada benarnya. Tapi di satu sisi jika ia berhasil mengembalikan perusahaan ayahnya Hasya artinya ia akan makin menguatkan posisinya dan makin melancarkan rencana balas dendamnya.


"Baik lah soal ini akan aku pikirkan kembali" ucap Zehan setelah berpikir beberapa saat.


"Oiya tuan, tuan kan sudah sembuh tapi kenapa tuan masih memakai kursi roda ini?" tanya Hasya yang sudah penasaran sejak lama, padahal sehari-hari Zehan sudah tidak pernah memakainya lagi, tapi kenapa ketika akan pulang ia kembali duduk di sana.


"Apa ini bagian dari rencana balas dendam Tuan dan nona kepada tuan Deren dan nona Alexa?" selidik Hasya dengan sedikit wajah kecewa.


"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Pertama kamu adalah kekasihku jadi jangan panggil mereka tuan dan nona karena aku tidak mau siapapun nanti akan menhinamu karena kepolosanmu. Kedua kamu boleh memanggilku tuan hanya di saat kita bersama keluarga saja. Di depan umum jangan sampai aku dianggap tidak bisa mendidikmu dengan tatakrama. Ketiga soal balas dendam ini aku tidak bisa tidak ikut andil karena yang menjadi korban adalah aku . Dan yang terakhir aku mohon padamu di depan semua orang tolong angkat kepalamu dan tunjukan kepada mereka kamu memang pantas dan kualifikasi untuk menjadi pendampingku. Kamu faham ?"Hasya mengangguk tanpa menyahuti lagi. Ia tidak ingin berdebat dengan Zehan.

__ADS_1


"Baiklah, jika tuan Zehan ingin melihatku jadi sosok yang angkuh di depan mereka akan aku lakuan" jawab Hasya seraya menegapkan tubuh dan bersiap pergi ke dapur untuk menyimpan baki yang ia gunakan menampan susu untuk Zehan.


"Mau kemana?" ucap Zehan mencengkram lengan bawah Hasya.


" Mau simpan baki ini"


" kiss me please" Cup sebuah kecupan mendarat di pipi Zehan. Zehan menggelengkan kepalanya lantas memajukan bibirnya sembari menutup matanya. Hasya melirik ke kanan dan ke kiri kemudian ia mendekatkan belakang nampan yang ia pegang, lalu ia tempelkan ke bibir Zehan.


"Hasyaaaa !!" teriak Zehan sembari bangkit mengejar Hasya yang berlari sambil tertawa menuju pintu dan berhasil meraih handle pintu lalu menekannya ke bawah.


"Jeglek !!" pintu kembali tertutup dengan suara jeglekan yang agak keras efek dari kuatnya dorongan tangan Zehan. Hasya menoleh menatap Zehan yang yang menyeringai sembari memainkan aliasnya. Gadis itu tersenyum hambar " Cup" satu kecupan tiba-tiba mendarat di bibirnya. Hasya mengerjar-ngerjapkan matanya beberapa kali karena terkejut meski ini bukan ciuma pertama mereka namun Hasya selalu mendadak menjadi beku saat Zehan tiba-tiba menciumnya.


Sekali lagi Zehan mengecup Hasya, kali ini ia mengecup kening gadis itu, lalu ke pipi kiri dan kanannya. Dia tersenyum lebar saat melihat Hasya terbengong cengo saat mendapatkan kecupan-kecupan kecil darinya. Ia menatap lekat-lekat manik mata Hasya yang bergetar, perlahan ia memiringkan kepalanya dan mengecup bibir gadis itu agak lama, makin bibir Zehan makin menekan lembut bibir Hasya, iapun menutup matanya sembari mengalungkan tangannya di leher Zehan tanpa di suruh lantas membalas ciuman Zehan dengan lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



...****************...


__ADS_2