
Galuh menekan tanda merah di layar ponselnya lalu terdiam cukup lama
"Kyaaaaaaaaa,, Rei dia ngajak aku dinner"
"Yeey kan anu manggihan dompet eta pan urang, naha maneh anu makan malem na?" (Yey, kan yang nemuin dompetnya itu kan aku, kenapa kamu yang makan malem na) protes Reifan.
"Atuh Rei, sakali ayeuna nyak, please.." ucap Galuh dengan wajah memelas.
"Iissh nya geus, tapi balikna belikeun urang martabak mang Endang " ( Iish ya udah, tapi pulangnya beliin aku martabak mang Endang)
"siaappp !! rek sabaraha loyang" ( mau berapa loyang)
"ah 3 loyang we anu porsi spesial" (Ah 3 loyang aja, yang porsi spesial)
"Doakeum urang nyak, sugan we ngajodo" Galuh mulai menata kehaluannya dengan seseorang yang bernama Zehan itu.
"Heueuh, tapi lamun misalna geus boga pamajikan mundur we,, sing inget sabodo-bodo na maneh, tong sampe jadi tolol ngaruksak rumah tangga batur" (Iya, tapi misalnya udah punya istri mundur aja, harus ingat sebodoh-bodohnya kamu, jangan sampai jadi tolol merusak rumah tangga orang)
"iya iya bawel.. nya geus urang balik jam 5 atuh nyak" (iya iya bawel... ya udah aku pulang jam 5 aja ya)
"Heueuh jung" (iya sana) jawab Reifan menghela nafas.
...----------------...
Selepas sholat maghrib, Galuh segera bersiap untuk pergi ke lokasi yang sudah di kirimkan oleh Zehan beberapa jam lalu. Setelah memilah beberapa sweater akhirnya ia memilih putih, di padu celana jeans dan sepatu vans, serta tidak melupakan tas tanpa merk sebagai pemanis. Ingin tetap menampilkan sisi dirinya tanpa berlebihan namun tetap berkesan formal karena acaranya adalah makan malam.
Setelah di rasa cukup rapi, memeriksa kanan kiri depan belakang, akhirnya Galuhpun tersenyum cukup puas dengan hasil kerja kerasnya dari sore tadi.
"Ma, Galuh makan di luar sama temen ya" pamit Galuh saat mencium tangan mamanya.
"Uwih na tong malem teuing su"
" Moal atuh ma, paling telat na jam 10an lah udah di rumah deui"
"Nya atuh, ponsel wajib standby"
"Ready mom, ya udah Galuh pergi ya,, Assalamualaikum" Galuh kemudian berlalu pergi dengan motor matic kesayangannya menuju lokasi pertemuannya dengan Zehan.
Sekitar dua puluh menit Galuh mengendarai motornya tibalah ia di sebuah resto sering ia lewati jika akan pergi bekerja ke toko. Suasananya cukup romantis dengan pencahayaan warm white. Dengan jantung yang berdebar tidak karuan lantas ia masuk ke dalam restoran tersebut tidak seberapa jauh dari pintu masuk ia sudah bisa melihat Zehan duduk di salah satu gazebo apung restoran itu.
__ADS_1
"Hai.. Kak" sapa Galuh salah tingkah
"eh.. udah dateng" sambut Zehan. lantas Galuh segera melepas alas kakinya, lalu duduk tepat berhadapan dengan Zehan, begitu dekat hanya terhalang meja saja. "Gluk" Gadis itu benar-benar hampir tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat Zehan dari dekat.
"Eehh.. " suara gadis itu terdengar bergetar.
"Santai aja, kita makan dulu aja, biar kamunya lebih relax ok.." Galuh hanya mengangguk saja serta mengulas sedikit senyum canggung.
Sementara itu di rumah, Hasya berkali-kali menengok ke arah luar saat ada suara mobil yang lewat di sana.
"Ma, Zesya lapar, papa emang ngga pulang ya?" Hasya menoleh sekilas dengan raut wajah gusar saat putranya menanyakan soal papanya.
"Mama telepon papa bentar kamu tunggu di meja makan ya?" Zehan hanya mengangguk lantas dengan wajah murung ia berjalan gontay menuju ruang makan.
Hasya : "Mas kamu beneran ngga pulang?" tulisnya pada aplikasi hijau kemudian langsung mengirimkannya pada Zehan, namun sudah sekitar 5 menit ia menunggu centang pada pesan tersebut masih saja satu.
"Ck !! Awas aja kamu mas kalo kamu berani macam-macam!!" pekiknya sambil menggenggam erat ponselnya. Tak berhenti di situ, Hasya segera menghubungi Hejun yang sekarang sudah menjadi asisten pribadi menggantikan posisi Gibran, dan Keni menjadi asiten Gibran.
"Halo, selamat malam bu"
"Bapak sedang makan malam dengan client bu"
"Oh gitu,, boleh saya tau di mana? soalnya ini saya tadi liat di meja kerjanya ada file tercecer takutnya penting"
"Oh iya bu, kalau begitu saya ambil sekarang"
"Eh jangan Jun, nanti kalo kamu ke sini yang temenin bapak siapa? Bahaya lho, udah saya aja yang ke sana, kamu shareloc aja" Hejun diam beberapa saat berpikir sebentar seolah menangkap sesuatu yang ganjil. "Ah ngga tau lah" gumamnya dalam hati. Beberapa saat setelah percakapan telepon barusan, Hejun langsung mengirimkan lokasi tempat boss sedang menikmati makan malam dengan seorang wanita muda. "Boss maafkan saya, tapi saya lebih takut dengan amukan nyonya yang kaya macan betina, Ya tuhan tolong selamatkan hambamu dari badai yang sebentar lagi akan menghampiri tempat ini" panjat Hejun menengadah ke langit dengan wajah memelas.
"Zes, kita makan di luar yuk" ajak Hasya tiba-tiba.
"Ini makanannya gimana dong mah, kan kasian bi Rani udah capek-capek masak" tunjuk melalui gerak wajahnya ke arah meja makan.
"Bi,.. Bi Rani.." panggil Hasya.
"Iya bu" sahut Bi Rani dari arah dapur.
"Bi, ini sayurannya bibi bawa pulang atau kasiin ke siapa gitu, saya mau makan malam di luar, makanan yang bisa diangetin buat besok pagi masukin aja ke dalam kulkas ya"
"Oh baik bu" segera bi Rani langsung membereskan makanan yang sudah dihidangkan tanpa perlu menunggu perintah dua kali.
__ADS_1
Hasya bergegas mengambil coatsnya, begitupun dengan Zesya yang segera mengambil jaket bombernya.
"Mama kok tumben?"
"Lagi pengen aja, lagian udah lama kan kita ngga makan di luar?"
"Papa gimana?"
"Papa udah di sana sayang, makanya kita ke sana sekarang, kasian kan papa nunggu lama"
" benarkah?" wajah Zesya yang tadi murung seketika cerah.
"Iya sayang, makanya kita harus buru-buru ke sana, Yuk"
"Let' s Go" seru Zesya bersemangat.
"Bi, nanti kalo udah beres bibi boleh langsung pulang, kunci aja semuanya. saya bawa kunci kok"
"Baik bu"
Tanpa menunggu mamanya Zesya sudah berlarian dengan riang menuju mobil mamanya terparkir. Lalu menunggu di depan pintu mobil karena belum dibukakan oleh Hasya.
"Ma, buruan atuh,, Zesya udah laper banget" renget Zesya padahal sebenarnya tadi Zesya sudah makan 2 buah sosis sebagai pengganjal perutnya.
"Iya iya.."
Kembali ke restoran pelayan restotan sedang menyajikan menu beberapa masakan khas sunda yang di pesan oleh Zehan.
"Haturnuhun" ucap Galuh saya pelayan resto menyajika menu satu-persatu. Pelayan itu pun menggangguk dengan dengan ramah pada Galuh.
"Hayo,.di makan dulu...hmm siapa tadi namanya?"
"Galuh pak "
"Kemarin-kemarin manggil saya kakak, kok sekarang jadi pak" tegur Zehan bercanda, namun candaan itu malah menbuat Galuh makin merasa salah tingkah, karena kupu-kupu dalam perutnya terus saja beterbangan seolah ingin membuncah dari dalam tubuhnya.
"Eh i..iiya pak" sahut Galuh mengulas senyum dipaksakan. Situasi semacam ini benar-benar di luar dugaan Galuh, untuk sesaat ia terbuai dan hanya oleh romansa tempat tersebut, terlebih sikap Zehan yang terus saja berusaha mencairkan suasana, namun karena Galuh hanya pernah pacaran 2 kali saja semasa SMAnya. Tapi Meski ia masih bingung dan sulit mengendalikan dirinya jadinya, gadis itu berusaha keras untuk tetap tenang padahal keringat dingin karena rasa gugupnya sudah membanjiri punggungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1