The (Un) Lukcy Mr. Winter

The (Un) Lukcy Mr. Winter
Bab 78


__ADS_3

Sudah lima hari berlalu sejak Zehan berangkat ke Surabaya, entah se-urgent apa urusan di sana Hasya tidak tau pasti, karena memang ia tidak terlalu tahu menahu mengenai perusahaan atau bisnis yang dijalankan oleh suaminya. Ia hanya tahu, Zehan adalah seorang pemimpin di satu grup gabungan beberapa perusahaan, bahkan ia baru tahu setelah menikah jika otoritas kekuasaan suaminya nomor lima di ASIA sedang pengaruh ketiga dikuasai oleh IC grup atau dengan kata lain oleh Nayuwan. Perempuan itu memang agak menyeramkan karena selain suka bertangan dingin, sikapnya juga tidak kalah dinginnya.


Sore itu Zesya berkeliling sekitar kampung dengan menggunakan sepedanya. Tentu sekarang kemanapun ia pergi akan diikuti minimal oleh satu orang pengawal khusus yang terlatih. Shin Joon Woo, begitu nama pengawal yang dipilih oleh Zehan, usianya masih sangat muda saat Gibran bertemu dengannya di kawasan perbatasan Desa Guryong. Sebuah permukiman kumuh yang berada tak jauh dari distrik Gangnam yang mewah dengan deretan gedung pencakar langit. Permukiman tersebut tampak tidak tertata dengan bangunan-bangunan semi permanen yang mengkhawatirkan. Rumah-rumah di desa ini saling berimpitan di antara jalanan yang sempit. Tidak ada fasilitas umum yang memadai di permukiman kumuh Korea tersebut. Kebanyakan warga di sana adalah pemulung yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Warga di sana mengandalkan swadaya masyarakat untuk pembuatan air bersih, listrik, taman kanak-kanak, dan gereja. Hal itulah yang menjadikan keberadaan Guryong tampak sangat kontras dengan kawasan distrik Gangnam yang modern.


Kesenjangan inilah yang membuat Gibran tertarik untuk melihat-lihat sendiri sisi tergelap dari negara atau daerah yang ia kunjungi baik saat sedang berlibur atau sedang saat ada pekerjaan tertarik untuk datang ke sana. Ia yang memang senang meluangkan waktunya untuk melakukan itu tujuannya tentu agar bisa sedikit membantu serta agar ia tidak melupakan bagaimana kehidupan masa kecilnya yang terbilang sangat keras untuk anak usia 10 tahun saat ia bertemu pertama kali dengan Zehan, yang kemudian meski dengan sikap dingin Zehan meminta ayahnya untuk memungutnya dari jalanan kala itu. Itulah sebabnya, meski ia sudah menikahi adik Zehan, Zia. Tetap saja ia memanggil Zehan dengan panggilan "tuan".


Kala itu, Gibran bertemu dengan Joon Woo secara tidak sengaja. Anak itu sedang dikejar-kejar pemilik toko roti karena kedapatan mencuri beberapa roti, anak itu berlari dengan panik karena tidak melihat ke sekelilingnya, anak itu malah menambrak Gibran yang sedang berjalan-jalan di kawasan kumuh itu. Gibran langsung membantu Joon Woo kecil bangun karena terjengkang saat menabrak tubuhnya, Gibran yang melihat beberapa roti yang berhamburan dijalanan langsung mengerti bagaimana situasinya. Pemilik toko yang masih terengah-engah karena mengejar Joon Woo.


"Tolong berikan anak itu tuan" pinta pemilik toko itu dengan tangan mengibas serta nafas yang masih terengah-engah. Gibran melihat ke arah anak itu, anak itu tertunduk pasrah, dari raut wajahnya bukan riak ketakutan yang tergambar di sana namun riak kekhahawatiran anak sesuatu hal. Gibran lantas menaruh anak itu di belakang tubuhnya sambil mencengkram erat tangan anak itu.


"Tuan, boleh saya ganti saja roti-roti yang di ambil anak ini? Saya akan membayar 3 kali lipat kerugian yang tuan alami" kata Gibran dengan sopan dalam bahasa Korea. Si pemilik toko meski ia gusar dengan Joon Woo namun tetap ia lebih memilih uang dan melepaskan Joon Woo begitu saja setelah Gibran memberinya beberapa ribu won pada pemilik toko sebagai ganti rugi.


Gibran lalu mengajak anak itu ke sebuah kedai mie masih di daerah sana. Gibran memperhatikan pakaian lusuh anak itu, juga serta pemanpilannya yang hampir tidak berbeda dengan gelandangan jalanan, kotor, dekil dan kumal. Padahal jika diperhatikan anak itu cukup tampan, dengan hidung mancung, dan alis yang tegas.


"Jadi kamu tinggal hanya dengan adik mu?" tanya Gibran saat Joon Woo masih makan melahap mie yang disajikan untuknya. Joon Woo meletakan sumpitnya, lantas menegakan tubuhnya. Dengan tertunduk ia menganggukan kepalanya takut-takut.


"Kalo begitu apa kamu mau ikut bersama ku?" tanya Gibran kembali. Anak itu langsung menatap Gibran dengan tatapan terkejut juga waspada.


" Tenanglah, aku benar-benar hanya ingin menolong mu. Jika kamu bersedia ikut dengan ku, pindah ke negara ku, aku pastikan kau dan adikmu tidak akan mengalami kesulitan ini lagi. Kamu juga bisa merawat adik mu dengan makanan, pakaian, tempat tinggal yang layak, serta mendapatkan pendidikan."

__ADS_1


" Kenapa tuan mau membantu saya?" Gibran tersenyum mendengar kalimat anak itu, ia serasa benar-benar mengalami De-javu ketika ia pertama kali bertemu dengan Zehan.


"Hmm.. kalo aku bilang kita ini mirip apa kamu percaya?" ucap Gibran dengan senyum hangat pada Joon Woo yang malah menatapnya heran.


Di luar dugaan Joon Woo ternyata sangat berbakat dengan ilmu bela diri, ia juga jago menembak, serta berkuda. Gibran memang membebaskannya untuk memilih apapun yanh menjadi minat Joon Woo kecil. Makanya tidak heran diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Joon sudah memiliki sabuk hitam. Meski dalam hal akademis Joon Woo memang biasa saja makanya ia lebih memilih bekerja menjadi Pengawal setelah ia lulus SMA. Sedang adiknya Shin Chaerin sekarang sedang kuliah menjadi dokter, ia memilih menjadi dokter karena sering mendapati kakaknya terluka saat awal-awal kakaknya dilatih menjadi pengawal khusus.


"Kak Joon Woo, apa tidak bosan setiap saat mengikuti ku terus ? " kata Zesya tiba-tiba.


"Tidak tuan muda, karena ini sudah tugas saya" jawab Joon Woo tanpa berekspresi berlebihan. Zesya mengernyih karena teringat ekspresi Joon Woo tidak jauh berbeda dengan ekspresi para pengawal khusus yang biasa dia tonton dalam drakor ibunya. Dingin, kaku, tanpa basa basi. Tanpa ia sadari jika sikapnya juga tidak jauh berbeda dengan kultur para Chaebol yang jadi tontonan Favorit Hasya.


" Kak, Joon Woo bisa menembak?"


"Boleh aku belajar menembak?"


"Kalau itu sebaiknya tuan muda tanyakan dulu pada Tuan Zehan atau Nyonya Hasya."


"Hhaaahhhhh,, sudahlah nanti saja, lagi pula umurku masih kecil" Joon melirik kepada Zesya dengan tatapan heran.


"Ngga usah liatin aku begitu kak, aku kan memang anak kecil iya kan?"

__ADS_1


"I..iya tuan muda."jawab Joon Woo canggung.


"Kak"


"Iya tuan muda"


"Bisa berhenti memanggilku tuan Muda?" kata Zesya sambil melempar tatapan tajam.


"Tapi..."


"Panggil aku Zesya.. Cukup Zesya" Joon Woo nampak berpikir seraya sesekali melihat ke arah Zesya yang masih mendeliknya.


"Tidak usah khawatir, mama dan papa tidak akan tersinggung jika kakak memanggil ku dengan hanya dengan nama saja" kata Zesya lagi.


"hmm.. Baiklah tuan mu.. eh Zesya" kata Joon Woo


"Ok, Hari ini aku ingin menikmati hari dengan santai, mari berpetualang!!" seru Zesya sambil mengangkat tangannya yang mengapal tinggi-tinggi lantas ia mengayuh kembali sepedanya diikuti oleh Joon Woo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2